Penyelidikan Anatomi Boneka Noni

Bau minyak telon dan bedak bayi cap gajah mengendap kaku di sela-sela lantai ubin teraso rumah kontrakan kami. Dunia saat berumur empat tahun adalah urusan yang sangat gampang diselesaikan. Surga bisa dibeli, atau paling tidak, dipaksa runtuh ke bumi melalui sepasang mata yang sengaja dibuat berair. Menangis menjadi senjata paling mutakhir untuk menundukkan otoritas orang dewasa.

Sore itu, di dalam toko kelontong subur makmur yang pengap oleh tumpukan kardus mi instan, sebuah kotak kardus bergambar pahlawan super jepang warna-Aminah memancarkan daya pikat yang tidak masuk akal. Lima robot plastik berjejer rapi di balik mika bening.

“Mamah, beli itu,” ucap Boim, telunjuknya yang belepotan sisa cokelat menempel ketat pada kaca etalase.

Aminah, sang ibu, hanya melirik sekilas sambil terus menghitung lembaran uang ribuan di dalam dompet kainnya. “Kemarin kan sudah dibelikan robot yang bisa bunyi, Nu. Uang mamah pas-pasan untuk belanja dapur.”

“Mau itu! Beli!”

“Jangan mulai deh, Boim. Mamah tidak punya uang lebih.”

Tangisan Boim pecah seketika, lengkingannya sanggup menembus bising deru mesin bensin bajaj di luar toko. Kakinya menghentak-hentak lantai, membuat debu-debu ubin beterbangan.

Aminah mulai panik ketika mata pemilik toko, seorang lelaki tua bermata sipit dengan kumis melintang tebal mirip tokoh antagonis ketoprak, mulai melotot terganggu. “Jangan menangis keras-keras! Lihat itu, ada om kumis di depan. Nanti kamu diculik dimasukkan karung, mau?”

Logika anak empat tahun langsung mengaitkan kata penculik dengan sosok raksasa pemakan anak kecil di buku dongeng malam Jumat. Ketakutan itu nyata. Namun, ego bocah rupanya setingkat lebih tinggi daripada rasa takut ditangkap preman pasaran. Pikiran Boim bercabang antara ngeri diboyong penjahat berwajah seram dan ambisi memamerkan robot plastik merah ke hadapan anak-anak kompleks esok pagi.

Dua beban emosi itu meledak bersamaan. Boim nekat menjatuhkan badannya ke lantai, lalu membenturkan jidat jenongnya ke tiang kayu rak pajangan. Dug! Dug!

Aminah menjerit kaget, buru-buru merenggut tubuh anaknya sebelum dahi itu benjol biru. “Iya! Iya! Dibeli! Berhenti menangis, memalukan saja!”

Sebuah kemenangan mutlak tercatat dalam sejarah masa kecil Boim. Strategi bentur kepala langsung dicatat rapi dalam otaknya sebagai metode paling ampuh untuk melunakkan hati orang tua.

Dari kelima robot plastik baru itu, Boim memiliki satu kesayangan yang tidak boleh disentuh siapa pun: robot warna merah muda. Alasan pemilihannya murni naluriah, robot perempuan itu memiliki lekuk dada menonjol di balik baju zirah plastiknya. Jari-jari mungil Boim kerap mengelus bagian cembung tersebut dengan rasa penasaran yang belum memiliki definisi konvensional dalam kamus moralitas. Sebuah pembuktian awal bahwa hormon kelelakiannya berfungsi normal sejak dini.

Dunia anak-anak kemudian meluas ke teras sebelah rumah, tempat tinggal seorang anak perempuan sebaya bernama Ashanty.

Hubungan mereka berdua terikat oleh kepolosan yang belum mengenal sensor norma lingkungan. Mandi bersama di dalam bak plastik, makan sepiring mi goreng instan bertukar sendok, hingga aksi saling pamer organ intim di balik celana monyet menjadi hal biasa yang lewat begitu saja tanpa beban moral.

Ashanty merupakan kolektor boneka perempuan berambut pirang tiruan produksi lokal. Koleksinya berjejer di atas lincak bambu, dipimpin oleh sebuah boneka paling besar yang diberi nama Noni. Boim menatap Noni dengan pandangan dongo, mencoba membandingkannya dengan pasukan robot plastiknya.

Boneka Noni kulitnya putih bersih, rambutnya panjang kuning jagung, dan badannya meliuk semok menyerupai majalah dinding toko kosmetik.

Boim bergerak cepat, merampas Noni dari pangkuan Ashanty tanpa permisi. “Pinjam!”

“Aaa! Jangan! Punya Ashanty!” jerit bocah perempuan itu, matanya langsung berkaca-kaca siap meluncurkan protes balasan.

Guna menghindari perang terbuka yang melibatkan orang tua masing-masing, Boim menyodorkan robot plastik merah miliknya sebagai sandera tukar guling. Barter berhasil. Ashanty diam, sibuk memutar-mutar tangan robot merah, sementara Boim menyelinap ke balik pohon mangga membawa Noni.

Rasa penasaran Boim membubung tinggi melihat gaun kain satin mengkilap yang membungkus tubuh boneka tersebut. Jemarinya yang tidak sabaran mulai menelanjangi kain pelapis itu, mempreteli kancing plastik kecil di bagian belakang baju Noni.

Gaun itu lolos ke tanah. Boim terpana menatap dada boneka yang rata tanpa tonjolan seperti robot merah mudanya, apalagi seperti dada ibunya yang sering dilihatnya saat menyusui adik bayi. Keheranan itu menuntun jemarinya mempreteli celana dalam kain elastis Noni.

“Ya ampun, Boim! Kamu lapis-lapis kelakuan begitu belajar dari siapa?”

Suara cempreng Aminah menggelegar dari arah dapur, mengejutkan Boim yang sedang asyik meneliti lipatan selangkangan plastik boneka Noni yang mulus tanpa guratan apa pun.

“Punya Ashanty, Mah. Cuma lihat,” jawab Boim polos, wajahnya mendongak tanpa rasa berdosa sedikit pun.

Aminah menepuk dahinya sendiri, mukanya merah padam antara menahan tawa sekaligus pusing memikirkan masa depan moral anak pertamanya ini. Tanpa babibu, tangan Aminah menyambar boneka pirang itu, lalu berjalan cepat mengembalikannya ke rumah sebelah. Boneka Noni pulang ke tangan pemilik aslinya dalam kondisi telanjang bulat, berpasrah diri di bawah terik matahari siang, mengakhiri penyelidikan anatomi pertama dalam hidup Boim.

Bagikan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Plus Exclusive Smilies 3.0 Kaskus-style Large Kaskus-style Small Standard Smilies
:welcome
:terimakasih
:tepuktangan
:tepar
:sudahkuduga
:siapgan
:semangat
:sale
:pertamax
:pencet
:paket
:nyantai
:nulisah
:monggo
:merdeka
:kangen
:jones
:insomnia
:hargapas
:goyang
:garudadidadaku
:gagalpaham
:gaasik
:dor
:cih
:ceyem
:butuhpacar
:bokek
:belumtidur
:batik
:banggapakebatik
:ayoindonesia
:ngamuk
:lemparbata
:keepposting
:hansip
:cendolgan
:bigkiss
:xmas
:wow
:wkwkwk
:wakaka
:ultahhore
:ultah
:travel
:toast
:telolet4
:telolet3
:telolet2
:telolet1
:takut
:sup:
:sup2
:sorry
:shakehand2
:selamat
:salamkenal
:salaman
:salahkamar
:request
:repost:
:repost2
:repost
:recsel
:rate5
:peluk
:omtelolet
:nyepi
:nosara
:nohope
:ngakak
:ngacir2
:ngacir
:najis
:motret
:mewek
:matabelo
:marigerak
:marah
:malu
:maafaganwati
:maafagan
:lehuga
:kts:
:kr
:kiss
:kimpoi
:ketupat
:kbgt:
:kacau:
:jrb:
:imlek2
:imlek
:ilovekaskus
:iloveindonesia
:hoax
:hn
:hammer
:hai
:games
:entahlah
:dp
:cystg
:cool
:coblos
:cipok
:cendolbig
:cendol
:cekpm
:cd:
:cd
:catchemall:
:bola
:bingung
:bigo:
:betty
:berduka
:bedug
:batabig
:babygirl
:babyboy1
:babyboy
:angpau
:angel
:2thumbup
:1thumbup
:malu2
:siul
:newyear
:alay
:hoax2
:hope
:hotrit
:lapar
:mahongintip
:mewek2
:nerd
:pertamax
:rate
:sungkem
:supermaho
:thanks2
:tkp
:Yb
:takuts
:sundulgans
:shutups
:reposts
:ngakaks
:najiss
:malus
:mads
:kisss
:ilovekaskuss
:iloveindonesias
:hammers
:cendols
:cendolb
:cekpms
:capedes
:bookmarks
:bingungs
:bettys
:berdukas
:berbusas
:batas
:bata
:armys
:addfriends
:)b
;)
:wowcantik
:tv
:thumbup
:thumbdown
:think:
:tai
:tabrakan:
:table:
:sun:
:siul
:shutup:
:shakehand
:rose:
:rolleyes
:ricebowl:
:rainbow:
:rain:
:present:
:Phone:
:Peace:
:Paws:
:p
:Onigiri
:o
:norose:
:nohope:
:ngacir:
:moon:
:metal
:medicine:
:matabelo:
:malu:
:mad
:linux2:
:linux1:
:kucing:
:kissmouth
:kissing:
:kimpoi:
:kagets:
:hi:
:heart:
:hammer:
:gila:
:genit
:fuck:
:fuck3:
:fuck2:
:frog:
:fm:
:flower:
:exclamati
:email
:eek
:doctor
:D
:cool:
:confused
:coffee:
:clock
:ck
:buldog
:breakheart
:bingung:
:bikini
:berbusa
:beer:
:baby:
:babi:
:army
:anjing:
:angel:
:amazed:
:afro:
:)
:(