Senandung Basah di Sindanglaut

7 menit baca

Indah menginjakkan kaki di atas peron basah Stasiun Sindanglaut menenteng koper kulit kusam. Koper malang ini telah melihat lebih banyak upacara perpisahan ketimbang pelukan penyambutan. Langit November memuntahkan gerimis lebat tanpa ampun membiaskan pendar neon jalanan menjadi noda kekuningan pada genangan aspal berlubang. Perempuan ini melarikan diri menerima pekerjaan sebagai pembukuan pada sebuah pabrik garmen pinggiran. Dia belum hafal seluk-beluk lorong tempat kerjanya. Hidupnya terasa tersendat tepat di tengah ketukan nada sumbang.

Kamar kosnya sempit. Berbau apak sisa hujan bercampur kapur barus.

Jendelanya menghadap langsung ke Jalan Cilosari. Jalanan aspal retak tempat genangan air betah menggenang memantulkan lampu kendaraan layaknya cermin pecah. Malam pertama di kota berhawa dingin ini dia berdiri terpaku menatap keluar jendela. Orang-orang berlalu-lalang di bawah sana memayungi kepala mereka masing-masing seolah sedang melindungi semesta kecil milik pribadi dari kejamnya dunia luar. Dia berbisik pada kaca berembun meyakinkan diri sendiri bahwa dia menyukai tempat pengasingan barunya. Bohong. Pengakuan akan ketiadaan tempat berlabuh jauh lebih menakutkan.

Tepat di seberang jendela kamarnya berdiri toko alat musik tua beratap seng karatan.

Papan nama kayunya reyot. Toko ini cuma buka saat matahari sudah tenggelam. Menjelang tengah malam manakala kedai-kedai mulai menggulung tikar, sayup-sayup terdengar denting piano dari balik pintu toko yang sengaja dibiarkan terbuka separuh. Serpihan melodi mengalun pelan bertabrakan dengan derau hujan jatuh.

Indah mulai memperhatikan rutinitas ganjil tersebut.

Awalnya sekadar mencuri pandang.

Lalu menjadi candu.

Lalu menjelma menjadi semacam obsesi ganjil yang haram untuk dia bedah terlalu dalam.

Pianis penunggu malam selalu orang yang sama. Laki-laki berambut ikal gondrong. Lengan kemeja flanelnya digulung hingga siku seolah menekan tuts tuts gading menuntut kejujuran fisik secara brutal. Tubuhnya mengayun tanpa beban. Pria ini menari di atas tuts tanpa memedulikan sepasang mata mengawasi dari seberang jalan. Sikap masa bodoh inilah yang justru mengunci pandangan Indah.

Niat untuk saling bertegur sapa tak pernah terlintas dalam benak Indah. Takdir punya selera humor ganjil menertawakan segala rencana manusia.

Selasa malam badai menggila. Hujan turun terlampau buas membuat seisi Kota Sindanglaut seakan lupa rasanya berteman dengan kemarau. Indah terjebak lembur. Kepalanya berdenyut dihajar barisan angka pembukuan pabrik. Keluar dari gedung dia berlari mencari tempat berteduh dan berakhir berdiri merapat pada dinding warung kopi Pak Rusdi tepat di sebelah toko musik. Warung sudah tutup. Aroma ampas kopi robusta bercampur bau tanah basah menusuk rongga hidung.

Denting piano mendadak mati.

Pintu toko terbuka.

Laki-laki berambut ikal melangkah keluar membawa payung hitam pudar. Ujung kain payungnya sobek koyak membuktikan benda mati ini sudah melewati ratusan pertarungan melawan angin barat jauh lebih gigih dibanding pertarungan Indah melawan isi kepalanya sendiri bulan ini.

Mereka berdiri berhadapan dipisahkan tirai air.

Dua menit berlalu tanpa suara manusia.

“Kau berdiri di sana seperti sedang menanti dunia berubah arah,” ucap pria ini memecah gemuruh hujan. Nada suaranya datar terdengar layaknya sambungan dari obrolan panjang yang belum pernah mereka mulai.

Indah mengerjapkan mata kelilipan embus angin kencang. “Aku tidak tahu ada yang memperhatikan.”

Sebelah sudut bibir pria ini tertarik ke atas. “Aku pandai membaca pola.”

“Terdengar mengerikan buatku.”

“Tergantung polanya.”

Air hujan mengisi kekosongan di antara mereka. Sabar. Konstan. Dia menyebutkan namanya. Banyu. Indah membalas menyebutkan namanya walau terasa percuma. Banyu menatapnya seolah sudah menyiapkan nama panggilannya sendiri sejak lama.

Banyu melangkah mendekat memayungi kepala Indah. Dia mengiringi langkah perempuan ini menyusuri trotoar becek tanpa repot-repot bertanya arah tujuan. Tidak ada arogansi dalam tindakannya. Cuma ada kepastian.

Kota mengambil alih tugas berbicara malam ini. Suara ban mobil melindas genangan air. Derit rem bus angkutan kota. Bunyi air terjun dari talang atap rumah warga. Sepanjang jalan Banyu sengaja memiringkan payung ke arah Indah membiarkan bahu kirinya sendiri dihajar badai. Indah menyadari pengorbanan kecil ini tapi memilih bungkam. Ada bentuk kebaikan yang terlampau rapuh jika harus ditegaskan lewat kata-kata.

Langkah mereka terhenti di depan pagar besi karatan tempat kos Indah.

“Kau pelit bicara,” tegur Banyu.

Indah menatap pagar berkarat. “Aku bersuara kalau ada hal pantas untuk diucapkan.”

“Lalu adakah hal pantas malam ini?”

Mata Indah beralih menatap langsung ke dalam manik mata Banyu. Dia menimbang hati-hati apakah kejujuran akan menjadi bumerang atau malah melepaskan dahaga. “Belum kutemukan.”

Jawaban penolakan ini justru memuaskan Banyu. Dia mengangguk singkat pelan. Menetapkan sebuah kesimpulan tak kasat mata.

“Besok. Jam yang sama,” potong Banyu cepat. Dia berbalik pergi menembus kabut malam sebelum Indah sanggup mencerna apakah rentetan kata barusan merupakan sebuah pertanyaan atau perintah mutlak.

Sore berikutnya Indah mengunci diri di dalam kamar.

Dia meyakinkan diri sendiri butuh istirahat. Dia menjejali otak dengan alasan tumpukan cucian kotor. Dia menolak percaya pada rutinitas baru. Pukul 19.14 matanya mengkhianati pertahanan otaknya melirik liar ke arah jendela.

Pukul 19.18 sosok berkemeja flanel muncul.

Banyu berdiri di bawah tiang listrik mati. Tidak celingukan mencari. Dia cuma menanti dengan keyakinan penuh. Indah menyambar jaketnya menuruni tangga berderit meninggalkan kosnya tanpa sudi bertanya pada diri sendiri apa tujuannya.

Hari-hari selanjutnya berubah menjadi ritme tanpa kontrak tertulis. Pabrik. Hujan. Denting piano. Jalan kaki berdua tanpa arah pasti menyusuri tepian Sungai Sindang.

Banyu mendeskripsikan musik layaknya warga lokal membicarakan cuaca pesisir. Diingat, dihormati, ditakuti, tapi jangan harap sanggup menaklukkannya. Dia memukul tuts piano karena keheningan di rumah masa kecilnya terlampau memekakkan telinga. Indah membalas dengan kepahitan miliknya. Dia mengaku lupa kapan terakhir kali bernapas lega di satu tempat tanpa dihantui perasaan ingin angkat kaki. Setiap sudut kota terasa seperti ruang tunggu terminal bus antarkota.

Banyu membeku menatap riak hitam Sungai Sindang memantulkan pendar lampu jembatan tol.

“Tempat pulang tidak melulu berwujud bangunan bata,” gumam Banyu parau.

Kalimat paling lugas sanggup meruntuhkan benteng pertahanan paling tebal sekalipun. Sejak malam penobatan luka tersebut Indah mulai mendambakan kehadiran Banyu. Tidak membabi buta. Hanya rindu senyap yang merombak total cara perempuan ini mengukur jalannya waktu.

Hingga malam nahas tiba.

Lampu toko alat musik padam total. Jalan Cilosari terasa cacat. Gerimis turun membekukan pori-pori namun ritme detak jantung kota terasa sumbang. Indah mondar-mandir menyeberang jalan. Pintu geser besi digembok ganda dari luar. Selembar kertas karton bekas kardus mi instan tergantung di balik kaca berdebu.

Tutup. Waktu tidak ditentukan.

Tidak ada penjelasan. Tidak ada tanggal kembali. Sebuah kekosongan mutlak dibingkai kepengecutan luar biasa. Indah berdiri menantang angin malam sampai buku-buku jarinya mati rasa.

Pagi berganti malam berulang kali. Laki-laki berpayung sobek lenyap ditelan aspal. Kehidupan Kota Sindanglaut terus berjalan rakus menelan korban hariannya. Namun pancaindera Indah menangkap detail menyakitkan. Suara rintik air tidak lagi terdengar merdu tapi menjelma menjadi bising derau merobek kewarasan. Aliran sungai yang dulu terlihat seperti perjalanan kini menjelma penantian abadi. Keheningan yang tadinya sempat terisi kini menganga jauh lebih lebar menuntut tumbal penyesalan.

Dua minggu berlalu.

Angin bulan Desember mulai menusuk tulang rusuk menggerogoti kehangatan sisa-sisa napas. Indah berhenti membohongi diri sendiri. Dia sengaja berjalan menyusuri rute tak masuk akal. Dia memperlambat langkah di setiap persimpangan gang tempat mereka kerap berpapasan. Menolak menyerah pada akal sehat. Malam ini dia kembali mendatangi toko musik tua.

Masih tergembok rapat.

Indah menolak beranjak. Dia duduk di atas undakan semen dingin depan toko tak memedulikan celana jeansnya basah menyerap air genangan. Hujan turun perlahan kemudian menderas kejam seakan mengejek keputusasaannya.

Langkah kaki terdengar dari arah belakang menyeret sol sepatu karet pada konblok basah.

Indah tidak berani menoleh. Otot lehernya kaku menahan teror kekecewaan.

“Indah.”

Suara parau nyaris tenggelam di tengah kepungan derau hujan. Diucapkan penuh kehati-hatian layaknya meraba porselen retak.

Perempuan ini menoleh kasar.

Banyu berdiri tegak. Rambutnya lepek menempel pada dahi kemejanya nyaris transparan dihajar badai. Tangannya kosong tak membawa payung andalannya. Ada memar ungu kebiruan pada sudut bibir serta luka gores melintang di tulang pipi laki-laki ini.

Mereka membeku menantang deras air jatuh dari langit.

Banyu menahan gemetar rahangnya berkata pelan. “Kupikir aku kehilangan arah.”

Dada Indah terasa diremas tangan tak kasat mata. Amarah kerinduan serta kelegaan melebur meremukkan tulang rusuknya.

“Kau tidak tersesat,” bisik Indah.

Sindanglaut tetap berputar acuh tak acuh. Jalan Cilosari tetap basah. Lampu jalan terus berkedip merana. Bagi Indah hembusan angin beku malam ini menandakan berakhirnya pelarian panjang menumpang lewat pada kehidupannya sendiri.

Bagikan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Plus Exclusive Smilies 3.0 Kaskus-style Large Kaskus-style Small Standard Smilies
:welcome
:terimakasih
:tepuktangan
:tepar
:sudahkuduga
:siapgan
:semangat
:sale
:pertamax
:pencet
:paket
:nyantai
:nulisah
:monggo
:merdeka
:kangen
:jones
:insomnia
:hargapas
:goyang
:garudadidadaku
:gagalpaham
:gaasik
:dor
:cih
:ceyem
:butuhpacar
:bokek
:belumtidur
:batik
:banggapakebatik
:ayoindonesia
:ngamuk
:lemparbata
:keepposting
:hansip
:cendolgan
:bigkiss
:xmas
:wow
:wkwkwk
:wakaka
:ultahhore
:ultah
:travel
:toast
:telolet4
:telolet3
:telolet2
:telolet1
:takut
:sup:
:sup2
:sorry
:shakehand2
:selamat
:salamkenal
:salaman
:salahkamar
:request
:repost:
:repost2
:repost
:recsel
:rate5
:peluk
:omtelolet
:nyepi
:nosara
:nohope
:ngakak
:ngacir2
:ngacir
:najis
:motret
:mewek
:matabelo
:marigerak
:marah
:malu
:maafaganwati
:maafagan
:lehuga
:kts:
:kr
:kiss
:kimpoi
:ketupat
:kbgt:
:kacau:
:jrb:
:imlek2
:imlek
:ilovekaskus
:iloveindonesia
:hoax
:hn
:hammer
:hai
:games
:entahlah
:dp
:cystg
:cool
:coblos
:cipok
:cendolbig
:cendol
:cekpm
:cd:
:cd
:catchemall:
:bola
:bingung
:bigo:
:betty
:berduka
:bedug
:batabig
:babygirl
:babyboy1
:babyboy
:angpau
:angel
:2thumbup
:1thumbup
:malu2
:siul
:newyear
:alay
:hoax2
:hope
:hotrit
:lapar
:mahongintip
:mewek2
:nerd
:pertamax
:rate
:sungkem
:supermaho
:thanks2
:tkp
:Yb
:takuts
:sundulgans
:shutups
:reposts
:ngakaks
:najiss
:malus
:mads
:kisss
:ilovekaskuss
:iloveindonesias
:hammers
:cendols
:cendolb
:cekpms
:capedes
:bookmarks
:bingungs
:bettys
:berdukas
:berbusas
:batas
:bata
:armys
:addfriends
:)b
;)
:wowcantik
:tv
:thumbup
:thumbdown
:think:
:tai
:tabrakan:
:table:
:sun:
:siul
:shutup:
:shakehand
:rose:
:rolleyes
:ricebowl:
:rainbow:
:rain:
:present:
:Phone:
:Peace:
:Paws:
:p
:Onigiri
:o
:norose:
:nohope:
:ngacir:
:moon:
:metal
:medicine:
:matabelo:
:malu:
:mad
:linux2:
:linux1:
:kucing:
:kissmouth
:kissing:
:kimpoi:
:kagets:
:hi:
:heart:
:hammer:
:gila:
:genit
:fuck:
:fuck3:
:fuck2:
:frog:
:fm:
:flower:
:exclamati
:email
:eek
:doctor
:D
:cool:
:confused
:coffee:
:clock
:ck
:buldog
:breakheart
:bingung:
:bikini
:berbusa
:beer:
:baby:
:babi:
:army
:anjing:
:angel:
:amazed:
:afro:
:)
:(