Sebuah reaktor nuklir berdiri tegak di tengah kota kecil yang damai. Penduduk setempat memujanya. Mereka menganggapnya sebagai pembawa rezeki, sumber pekerjaan, dan denyut nadi baru bagi desa yang semula mati suri.
Jae Hyuk berpikiran lain. Ayah dan saudaranya tewas terpapar radiasi saat bekerja di sana. Nasib mempermainkannya. Ia terpaksa mengabdi di tempat yang paling ia benci. Pipa-pipa tua mulai keropos. Gempa bumi mengguncang. Ledakan gas hidrogen memuntahkan api. Jae Hyuk menerjang masuk ke pusat radiasi. Ia berniat menghentikan kiamat kecil yang siap meluluhlantakkan masa depan.
Industri film Korea gemar meracik tema bencana belakangan ini. Pandora menawarkan sesuatu yang lebih tajam. Ia tidak sekadar menyuguhkan kehancuran. Film ini meludahi wajah pemerintah. Skandal Presiden Park dan luka menganga Tragedi Sewol mengalir di bawah permukaan narasinya. Kecemasan kolektif soal reaktor nuklir yang sengaja dibangun di atas garis sesar gempa menjadi bahan bakar utamanya.
Pemerintah digambarkan sebagai sekumpulan birokrat ompong. Keputusan mereka lumpuh oleh ambisi politik dan ketakutan menjaga citra nasional. Kesalahan fatal yang berulang-ulang itu justru mengundang petaka lebih besar. Warga membayar mahal atas kelalaian mereka. Plot bergerak dengan ritme liar. Krisis utama meledak tepat di menit-menit awal. Penulis naskah berhasil menjaga kedalaman karakter tanpa harus terjebak dalam jebakan flashback yang malas. Idealisme tiap tokoh terasa jelas meski waktu tayang terus dipacu.
Visualisasi grafisnya bersih dan tidak menyiksa mata. Fokus film ini tetap pada satu target: memadamkan krisis raksasa dengan cara apa pun. Pandora menolak untuk membosankan. Penonton dipaksa naik roller coaster emosi sejak detik pertama. Produksi massal ini mengingatkan kita akan satu hukum alam sederhana. Keuntungan sebesar gunung selalu dibarengi risiko sedalam jurang. Siapa yang menyangka Korea Selatan mengoperasikan dua puluh empat reaktor nuklir di sembilan kota bagian selatan?
Inilah Pandora. Kita membuka kotak itu dengan sengaja. Isinya mungkin kutukan, tapi bukankah harapan selalu tertinggal di dasarnya? Jangan memejamkan mata karena ngeri. Jangan menutup telinga karena takut. Kita sudah membiarkan gas itu meledak. Kita harus berani melihat retakan dindingnya sendiri.