Sungai Han membelah Seoul sejak zaman yang tak tercatat. Pada tahun 2000, sebuah kecelakaan mengubah nasib air yang tenang itu. Makhluk asing tumbuh di kedalaman sungai. Warga kota tidak peduli. Mereka terlalu sibuk dengan final sepak bola Piala Dunia Korea-Jepang, hiruk-pikuk pemilihan presiden, dan keberlangsungan hidup masing-masing. Lima tahun berselang, di tengah sore akhir pekan yang lengang, monster itu naik ke permukaan. Ia memuntahkan teror di depan mata orang-orang yang sedang bersantai. Tepi sungai berubah menjadi ladang jagal. Gang Du, pria paruh baya penjual camilan, melihat putrinya diseret dan ditelan makhluk itu hidup-hidup.
Pemerintah lumpuh. Mereka tidak berkutik menghadapi situasi yang melampaui nalar. Gang Du bersama sisa keluarganya terjun ke medan laga. Mereka merangsek ke zona bahaya yang disegel aparat. Ini bukan sekadar perburuan monster. Ini adalah pertarungan untuk merebut kembali apa yang dicuri dari mereka. Film ini lahir dari rahim kenyataan pahit peristiwa McFarland tahun 2000, ketika seorang pegawai militer Amerika membuang ratusan botol formaldehida ke Sungai Han.
Bong Joon-ho menciptakan mahakarya. The Host melampaui konvensi film horor biasa. Ia tidak menuntut penonton untuk menjerit di setiap tikungan. Bong menggunakan monster ini sebagai cermin untuk menatap hubungan politik antara Amerika dan Korea Selatan. Banyak orang mencap film ini anti-Amerika. Anggapan itu meleset. Bong tidak memuja rakyat Korea dalam film ini. Ia menelanjangi ketergantungan orang pada ponsel dan teknologi. Ia membedah pretensi kepahlawanan Amerika. Ia merobek topeng politik yang membusuk di bawah meja birokrasi.
Horor di sini terasa aneh. Tidak ada banjir darah yang berlebihan. Ketegangan yang dibangun sering pecah oleh guyonan hitam. Bong tidak mencari tawa murahan. Komedi itu menjauhkan penonton dari rasa ngeri yang terlalu pekat. Ia mengingatkan kita bahwa kita sedang menonton sebuah cerita. Kita tidak perlu keluar dari gedung bioskop dengan tubuh gemetar ketakutan. Kita bisa duduk tenang, mengamati jalinan hubungan antarmanusia di layar dengan nalar yang jernih.
Dua puluh persen populasi Korea Selatan menonton film ini di bioskop saat dirilis. Angka itu belum menghitung mereka yang menonton berulang kali di rumah. Pengaruhnya menjalar jauh hingga ke kelas-kelas studi sinema di Selandia Baru. Bagi penonton kasual, The Host menawarkan petualangan yang menghibur. Bagi yang jeli, ia menyodorkan risalah tentang realitas yang tertimbun di balik lumpur sungai. Jangan biarkan label horor menyurutkan langkah. Tontonlah. Ia lebih dekat dengan thriller yang memompa adrenalin daripada sekadar hantu-hantuan murahan.