Gang In Ho tiba di sekolah Gwangju Inhwa dengan semangat pengajar baru. Ia menaruh harapan besar pada kelas seni bagi murid-murid tunarungu. Sambutan yang ia terima justru dingin. Anak-anak itu menghindar. Mereka menjaga jarak. Tatapan mereka memendam ketakutan. Saat dinding pembatas perlahan runtuh, Gang In Ho menatap kebenaran yang busuk. Sebuah kenyataan kelam tersimpan rapat di balik dinding sekolah.
Tontonan ini menuntut kedewasaan penuh. Label usia dewasa mutlak diperlukan. Jangan biarkan anak di bawah umur menyentuhnya. Membaca berita tentang kasus ini mungkin lebih aman daripada menyaksikan rekonstruksi visualnya di layar. Sutradara bekerja sama dengan penulis buku dan para penyintas untuk menggarap film ini. Mereka berusaha keras menjaga keseimbangan antara fakta sejarah dengan estetika tontonan. Realita di lapangan jauh lebih mengerikan dari apa yang tersaji di layar.
Perut saya terasa mual menyaksikan setiap adegannya. Saya tergolong orang yang tahan banting. Namun, film ini meruntuhkan ketahanan itu dalam sekejap.
Beberapa hal diubah demi memoles citra sang guru agar tampak lebih baik dari sosok aslinya. Keputusan itu saya sesalkan. Film ini menantang batin. Ia memaksa kita mempertanyakan sisi kemanusiaan yang tersisa. Para penyintas kasus ini bahkan hadir sebagai pemeran tambahan. Akting para pemeran begitu nyata hingga meninggalkan luka di dada.
Siapkan pendamping saat menontonnya. Bawa teman terdekat atau semangkuk es krim besar untuk meredam sesak di kerongkongan. Anda memerlukannya untuk bertahan sampai akhir.