Drama Korea tahun ini sedang terjangkit wabah yang aneh. Judul-judul yang terdengar megah sering kali menyembunyikan kekosongan di baliknya. Bon Appetit, Your Majesty menjadi contoh sempurna dari fenomena ini. Ia hadir dengan premis yang menjanjikan sebuah perjalanan waktu, politik istana yang mencekam, dan romansa yang mendebarkan. Namun, setelah menghabiskan waktu berjam-jam di depan layar, penonton hanya disuguhi piring-piring makanan yang lebih sering tampil daripada para tokohnya sendiri.
Cara terbaik untuk menelan drama ini bukan dengan menikmatinya secara khusyuk. Anda hanya perlu menyediakan camilan, mempercepat kecepatan pemutaran hingga 1.75 kali lipat, lalu membiarkannya berjalan. Begitu tipis naskah ini, sehingga cerita seolah menjadi pilihan opsional bagi para penulisnya.
Label fantasi disematkan hanya karena adanya perjalanan waktu. Komedinya? Jangan berharap banyak. Semua lelucon yang ada terasa basi, seolah-olah dipungut dari tumpukan drama lama yang sudah berdebu.
Romansa yang dijanjikan berubah menjadi sebuah absurditas. Tidak ada pembangunan emosi. Tidak ada percakapan yang berarti. Tiba-tiba saja tokoh pria utama jatuh hati hanya karena satu suapan makanan, lalu memaksa kehendaknya. Tokoh wanita pun membalasnya tanpa alasan yang kuat. Di layar, mereka hanya dua orang berwajah rupawan yang berdiri bersebelahan tanpa sedikit pun percikan kimia. Kita diminta percaya bahwa mereka saling mencintai, padahal yang terjadi di depan mata adalah sebuah sandiwara yang dipaksakan.
Beralih ke ranah akting, Yoona memberikan penampilan yang bisa ditebak. Ia kembali bermain dalam zona nyamannya, mengulang peran yang sudah ia mainkan bertahun-tahun dengan sekadar mengganti latar profesi. Sementara itu, Chaemin yang banyak dipuji internet sebenarnya belum mencapai taraf keajaiban. Daya tarik utamanya terletak pada wajah, bukan kedalaman akting. Beruntung bagi Park Sung-hoon karena ia batal terlibat dalam naskah yang lemah ini. Aktor sekalibernya tidak layak terjerembap dalam kekacauan narasi semacam itu.
Empat episode terakhir menjadi puncak dari kegagalan ini. Penulisnya mendadak sadar bahwa mereka tidak memiliki plot, lalu melemparkan apa saja ke layar demi sebuah akhir yang bahagia. Penonton seolah diremehkan. Keputusan untuk menyuguhkan penyelesaian yang tidak masuk akal menjadi bukti betapa rendahnya apresiasi kreator terhadap audiens.
Bon Appetit, Your Majesty adalah monumen bagi drama yang terlalu dibesar-besarkan. Episodenya yang berdurasi delapan puluh menit terasa diseret-seret oleh bidikan kamera yang memuja makanan. Tidak ada kisah yang kokoh. Tidak ada akting yang menyentuh. Ia bukan tontonan yang akan disimpan dalam ingatan, melainkan sekadar pengisi waktu saat tidak ada pilihan lain yang tersedia di depan mata.