Gerimis tipis mengguyur Karangwangsa sejak subuh, menyisakan udara lembap yang membuat selimut terasa dua kali lebih berat. Hari Minggu pagi itu harusnya menjadi milik Tirta sepenuhnya. Dia baru memejamkan mata pukul empat pagi setelah semalaman suntuk menyiksa jemari di atas tombol stik PlayStation di kamar Jaka. Sial bagi Tirta, ketukan beruntun di pintu kayu kamarnya menghancurkan sisa-sisa kantuk yang baru saja mau mengendap. Ketukan itu mulanya ragu-ragu, lalu berubah menjadi gedoran tidak sabar yang mengguncang engsel besi.
“Iya, sebentar!” gerutu Tirta, suaranya serak khas orang kekurangan tidur.
Dia menyeret kakinya yang lemas, membuka grendel pintu dengan sisa tenaga yang ada.
“Hai, Tir. Baru bangun, ya?” Nadya berdiri di sana, melempar senyum lebar yang terlihat kontras dengan mendungnya langit pagi.
Tirta mendadak gugup. Dia buru-buru mengusap sudut matanya menggunakan ujung kain sarung yang masih melingkar di pundak. Wajahnya kusut, rambutnya tegak ke segala arah mirip ijuk sapu, dan dia tahu betul tampangnya saat ini jauh dari kata keren.
“Eh, kamu, Nad. Masuk, masuk,” kata Tirta menyembunyikan rasa kikuknya. “Aku cuci muka sebentar ke kamar mandi.”
“Wah, aku mengganggu waktu tidurmu ya, Tir?” suara Nadya terdengar agak bersalah dari luar bilik kamar mandi yang sempit.
“Tidak apa-apa, santai saja seperti di pantai,” sahut Tirta, suaranya memantul di antara dinding semen kamar mandi yang basah.
Begitu keluar dengan wajah yang agak segar setelah diseka handuk kilat, Tirta langsung mengambil posisi duduk bersandar ke dinding, tepat berseberangan dengan kasur busa tempat Nadya duduk. Dia merogoh kantong celana pendeknya, mengambil sebatang rokok kretek, lalu menyulutnya dengan pemantik gas. Asap putih mulai mengepul, memenuhi ruangan tiga kali tiga meter itu.
“Hari Minggu begini tidak lembur, Tir?” Nadya membuka percakapan, matanya memperhatikan jemari Tirta yang menjentikkan abu rokok ke asbak kaleng.
“Anak magang bagian umum tidak ada jatah lembur, Nad. Yang diperas tenaganya sampai minggu ya orang-orang di lini produksi saja.” Tirta mengembuskan asap ke langit-langit. “Tumben amat pagi-pagi sudah sampai sini? Perasaan baru semalam kita berpisah di pertigaan angkot.”
Nadya tidak langsung menjawab. Dia malah menyodorkan sebuah kantong plastik hitam yang sejak tadi mendekam di pangkuannya. “Ini, aku belikan sarapan.”
“Apaan nih?”
“Nasi uduk. Kebetulan tadi lewat depan gang kosanmu masih ada bibi-bibi yang jualan. Makan gih, keburu dingin nanti rasanya tidak enak.”
Tirta menerima bungkusan itu, merasakan kehangatan menjalar dari balik plastik hitam. “Wah, tahu saja kalau perutku sedang demo. Maaf ya, jadi merepotkan begini.”
“Tidak repot kok, cuma sekadar membelikan saja.”
“Ya, aku kan harus berbasa-basi sedikit, Nad, supaya kamu tidak kapok membelikan aku sarapan lagi. Kalau bisa, sering-sering saja ya?” seloroh Tirta diikuti tawa kecil.
“Enak saja! Bisa bangkrut aku kalau begini caranya,” Nadya mencibir, kawat giginya berkilat sekilas.
Tirta membuka karet gelang yang mengikat bungkusan kertas minyak. Bau gurih santan dan bawang goreng langsung menusuk hidungnya. Namun, dia mengernyit saat melihat isinya. “Kok cuma beli satu porsi? Kamu sendiri sudah sarapan belum?”
Nadya menggeleng pelan. “Tadi pas aku beli, dagangan bibinya memang sudah mau habis. Tersisa porsi terakhir itu saja.”
“Ya sudah, kita makan berdua saja kalau begitu.” Tirta bangkit, mengambil dua buah sendok stainless dari rak plastik kecil di dekat dispenser airnya.
“Memangnya kenyang kalau dibagi dua? Nanti kamunya malah kurang,” Nadya menerima sendok yang disodorkan Tirta dengan ragu.
“Sudah, tenang saja. Kalau aku masih lapar, tinggal jalan kaki ke gang sebelah mencari bubur ayam. Sini sendoknya.” Tirta mematikan puntung rokoknya di asbak, lalu membelah gundukan nasi uduk hangat itu menjadi dua bagian di atas kertas minyak.
Tanpa banyak protes lagi, Nadya ikut menyendok nasi dari wadah yang sama. Tidak butuh waktu lama, hanya sekitar sepuluh menit, nasi uduk berbumbu sambal kacang itu sudah berpindah sepenuhnya ke dalam perut mereka. Sepiring berdua di atas lantai kosan yang dingin ternyata punya cara sendiri untuk meruntuhkan jarak di antara dua orang yang baru berteman.
“Terima kasih ya, Nad,” Tirta meletakkan sendok, lalu meneguk air putih dari gelas plastik sampai tandas.
Dia kembali menyulut sebatang rokok kretek sebagai ritual wajib setelah makan. Matanya melirik jam dinding bundar di atas pintu; jarum jam menunjuk angka sembilan lewat lima belas menit. Artinya, Tirta baru menikmati tidur sekitar tiga jam setelah begadang semalaman. Kantuknya belum hilang sepenuhnya, matanya masih terasa berat seolah ada magnet yang menarik kelopak matanya untuk kembali terpejam.
“Jaka sedang lembur?” tanya Nadya tiba-tiba, memecah keheningan yang sempat tercipta akibat kepulan asap rokok Tirta.
“Tidak. Semalaman aku begadang main game di kamarnya sampai subuh. Jam segini dia pasti masih memeluk bantal, tidurnya mirip kerbau mati.”
“Kalian begadang sampai subuh?” Nadya membelalakkan mata.
Tirta hanya mengangguk lemas, matanya mulai sayu lagi.
“Wah, kalau begitu aku beneran mengganggu waktu istirahatmu. Kamu pasti masih mengantuk berat ya, Tir?”
Tirta tersenyum kecut, tidak ada gunanya berpura-pura segar di depan perempuan ini. “Kurang lebih begitu, Nad. Kepalaku rasanya agak kliyengan sekarang.”
“Ya sudah, kamu lanjut tidur saja lagi sana.”
“Terus, kamunya bagaimana?” Tirta heran.
“Aku tungguin di sini saja sambil menjaga kamu tidur,” jawab Nadya santai, tanpa beban. “Kamu punya koleksi buku atau novel tidak? Kamu tidur saja, aku bisa menghabiskan waktu dengan membaca.”
“Memangnya tidak bosan duduk sendirian di sini? Kalau kamu mengantuk atau mau pulang, pulang saja tidak apa-apa, jangan merasa tidak enak sama aku.”
“Ini ceritanya kamu sedang mengusir aku, Tir?” Nadya memicingkan mata, pura-pura tersinggung.
“Hehehe, bukan begitu. Ya sudah, itu novel-novelnya ambil saja di atas lemari kain itu,” Tirta menunjuk tumpukan buku saku berdebu di sudut ruangan. “Aku habiskan rokok ini dulu sebentar, tanggung.”
Beberapa menit kemudian, ruangan itu hanya diisi oleh suara lembaran kertas novel yang dibalik oleh jemari Nadya. Tirta membuang puntung rokoknya, lalu menggeser tubuh ke atas kasur busa tanpa sprei miliknya. Begitu punggungnya menyentuh permukaan kasur, rasa nyaman yang luar biasa langsung menjalar ke seluruh tubuhnya.
“Jangan lupa berdoa dulu sebelum tidur,” cetus Nadya tanpa mengalihkan pandangan dari halaman buku yang dibacanya.
“Aku cuma hafal doa sebelum makan, Nad,” gumam Tirta asal-asalan.
Sebuah tepukan pelan mendarat di betis Tirta, membuatnya terkekeh kecil. Saat kelopak matanya mulai merapat, Tirta merasakan sebuah kehangatan tebal perlahan menutupi permukaan kulitnya dari ujung kaki hingga sebatas dada. Dia membuka mata sedikit, mendapati Nadya sedang merapikan kain selimut lurik miliknya agar tidak ada embusan angin malam yang tersisa di tubuh Tirta.
“Terima kasih, Nad. Kamu baik sekali,” bisik Tirta, suaranya makin lirih akibat tarikan kantuk yang kian kuat.
“Sudah, tidur saja sana, tidak usah banyak berkomentar.” Nadya menggeser posisi duduknya ke lantai, bersandar di sisi kasur tepat di dekat kepala Tirta, kembali membenamkan perhatiannya ke dalam lembaran novel.
Pagi yang mendung dan dingin di Karangwangsa itu mendadak terasa hangat bagi Tirta. Entah karena selimut yang membungkus tubuhnya, atau karena kehadiran perempuan ramah yang duduk dengan tenang di samping kepalanya. Kehadiran Nadya di kamar itu entah bagaimana membuat Tirta melupakan sejenak sepasang mata misterius yang semalam mengintipnya dari balik celah jendela kamar nomor dua puluh empat. Rasa kantuk akhirnya menang mutlak, membawa kesadaran Tirta melesat jauh masuk ke dalam dunia mimpi tanpa dasar.