Gerimis mengguyur Karangwangsa sejak subuh, menyisakan udara lembap penambah berat selimut. Minggu pagi itu harusnya menjadi hak Tirta seutuhnya. Sial, gedoran tidak sabar di pintu kayu menghancurkan mimpi indahnya tepat pukul delapan. Tirta terpaksa menyeret kakinya yang lemas, membuka grendel pintu dengan muka sekusut ijuk sapu.
“Hai, Tir. Baru bangun, ya?” Nadya berdiri di ambang pintu, melempar senyum lebar yang kontras dengan mendungnya langit.
Tirta mendadak gugup, buru-buru menyeka sudut matanya pakai ujung sarung. “Eh, kamu, Nad. Masuk, masuk. Aku cuci muka sebentar.”
Begitu keluar dari kamar mandi dengan wajah basah, Tirta mengambil posisi duduk bersandar dinding, berseberangan dengan kasur tempat Nadya menaruh pantat. Sebatang kretek disulutnya cepat, memenuhi petak tiga kali tiga meter itu dengan asap putih.
“Hari Minggu begini tidak lembur, Tir?” tanya Nadya, matanya memperhatikan jemari Tirta yang menjentikkan abu ke asbak kaleng.
“Anak magang bagian umum tidak ada jatah lembur, Nad. Tumben amat pagi-pagi sudah sampai sini?” Tirta mengembuskan asap ke langit-langit.
Nadya menyodorkan kantong plastik hitam dari pangkuannya. “Ini, aku belikan sarapan nasi uduk. Makan gih, keburu dingin nanti rasanya hambar.”
“Wah, tahu saja kalau perutku sedang demo. Maaf ya jadi merepotkan begini,” Tirta menerima bungkusan kertas minyak tersebut, mencium bau gurih santan yang langsung menggugah selera. “Kok cuma beli satu porsi? Kamu sendiri sudah sarapan?”
Nadya menggeleng pelan. “Tadi pas aku beli, dagangan bibinya tersisa porsi terakhir itu saja.”
“Ya sudah, kita makan berdua.” Tirta bangkit, mengambil dua buah sendok stainless dari rak plastik kecil. Tanpa banyak protes, Nadya ikut menyendok dari wadah yang sama. Sepiring berdua di atas lantai kosan ternyata sukses meruntuhkan jarak di antara mereka.
Tirta kembali menyulut sebatang kretek setelah bungkusan itu tandas. Matanya melirik jam dinding bundar; jarum menunjuk angka sembilan lewat lima belas. Kepalanya kliyengan karena semalaman dia begadang main game di kamar Jaka sampai subuh.
“Jaka sedang lembur?” tanya Nadya tiba-tiba.
“Tidak. Jam segini dia pasti masih memeluk bantal, tidurnya mirip kerbau mati.” Tirta menguap lebar, matanya mulai sayu.
“Wah, kalau begitu aku beneran mengganggu waktu istirahatmu. Kamu lanjut tidur saja lagi sana,” sesal Nadya.
“Terus, kamunya bagaimana?”
“Aku tungguin di sini saja sambil menjaga kamu tidur. Kamu punya koleksi buku atau novel tidak?”
Tirta menunjuk tumpukan buku saku berdebu di atas lemari kain. Beberapa menit kemudian, dia membuang puntung rokok lalu menggeser tubuh ke atas kasur busa tanpa sprei. Rasa nyaman langsung menjalar begitu punggungnya mendarat di sana.
“Jangan lupa berdoa dulu sebelum tidur,” cetus Nadya tanpa mengalihkan pandangan dari halaman novel.
“Aku cuma hafal doa sebelum makan, Nad,” gumam Tirta asal-asalan.
Sebuah tepukan pelan mendarat di betis Tirta, membuatnya terkekeh kecil sebelum kelopak matanya benar-benar merapat. Tirta merasakan sebuah kehangatan tebal perlahan menutupi permukaan kulitnya dari ujung kaki hingga sebatas dada. Dia membuka mata sedikit, mendapati Nadya sedang merapikan kain selimut lurik miliknya agar tidak kemasukan angin malam.
“Terima kasih, Nad. Kamu baik sekali,” bisik Tirta lirih.
“Sudah, tidur saja sana, tidak usah banyak berkomentar,” Nadya menggeser posisi duduknya ke lantai, bersandar di sisi kasur tepat di dekat kepala Tirta, kembali membenamkan perhatiannya ke dalam lembaran novel. Kehadiran perempuan itu entah bagaimana membuat Tirta melupakan sepasang mata misterius dari kamar nomor dua puluh empat, membawanya melesat jauh ke dalam dunia mimpi tanpa dasar.