Di Kota Kelabu, sebuah tempat di mana matahari seolah takut untuk menampakkan diri, ada lelaki bernama Jarwo. Dia pria yang pendiam. Begitu pendiam sampai-sampai orang mengira dia bagian dari furnitur rumah. Jarwo tidak punya teman. Dia punya sesuatu yang lebih buruk. Dia punya rahasia yang disimpan dalam kotak kayu di bawah tempat tidur di gudang rumah orang tuanya di pinggiran kota.
Jarwo bukan pria biasa. Dia pengumpul.
Dia mengumpulkan mata. Bukan mata yang bisa melihat, melainkan mata dari anak-anak lelaki yang dia temui di pinggiran sungai atau danau saat musim panas. Dia akan mengajak mereka mengobrol. Dia punya suara yang halus, sopan, dan sopan santun yang dia pelajari dari ayahnya yang pemabuk. Saat anak-anak itu merasa aman, Jarwo akan mengeluarkan sesuatu dari balik sepatu bot karetnya. Sebuah pisau dengan ujung melengkung atau senapan pendek yang dimodifikasi.
Hari Minggu, sepuluh Mei, adalah hari peringatan bagi para ibu. Jarwo berada di dekat Kanal Dania. Dia berdiri di sana, di balik semak-semak yang berbau lumpur dan kencing binatang. Dia melihat dua anak lelaki, Satria dan Akil. Mereka sedang memancing. Jarwo merasa detak jantungnya naik. Dia mendekati mereka dengan langkah yang diseret.
“Mau lihat sesuatu?” tanya Jarwo.
Satria menolak. Akil juga. Mereka ingin pulang.
Jarwo tidak suka penolakan. Wajahnya berubah menjadi topeng kemarahan yang dipaksakan. Dia mengeluarkan senapan dari sepatu botnya. Suara ledakan memecah kesunyian kanal, membuat kawanan burung gagak terbang menjauh. Satria jatuh ke tanah, dadanya bolong. Akil menjerit, lari terbirit-birit, tapi peluru kedua mengoyak bahunya.
Dua anak remaja lewat di jalur setapak. Mereka melihat Jarwo berdiri di atas tubuh Satria, memegang pisau melengkung yang berlumuran darah segar.
“Dia yang melakukannya!” jerit Akil, suaranya parau karena rasa sakit.
Jarwo menoleh. Dia tidak tampak seperti pembunuh berdarah dingin. Dia tampak seperti pria yang baru saja menjatuhkan es krimnya. Dia mulai gagap. Suaranya pecah seperti kaca yang diinjak. “B-b-bukan. Dia tidak tahu apa yang dia b-b-bicarakan. Ayo kita buat perjanjian saja. Saya dari luar kota. Kita tidak butuh polisi, kan?”
Remaja-remaja itu tidak menjawab. Mereka berjalan mendekati tubuh Satria. Jarwo tidak menunggu. Dia menyelipkan senapannya kembali ke dalam sepatu bot dan berjalan pergi. Dia kembali ke bengkel mobil tempat dia bekerja. Dia bicara tentang pembunuhan itu dengan santai, seperti bicara tentang cuaca yang buruk. Dia tidak menyadari bahwa di dalam kepalanya, sekring telah terbakar habis.
“Kenapa ada orang yang tega melakukan itu?” tanya Jarwo pada anak-anak majikannya. “Mungkin anak itu yang mengejeknya.”
Jarwo benci diejek. Jika ada yang berani menertawakan cara bicaranya yang gagap, wajahnya akan berubah menjadi topeng kematian.
Dua minggu kemudian, polisi menarik mobilnya di pinggir jalan raya. Seorang deputi melihat sketsa wajah pelaku pembunuhan di kanal. Dia melihat Jarwo. Dia mendengar suara Jarwo yang gagap. Jarwo dibawa ke kantor polisi. Di sana, mereka menemukan senapan pendek di kursi belakang mobilnya. Mereka juga menemukan kamera. Kamera yang menyimpan ratusan foto anak-anak lelaki dalam pose yang menjijikkan.
Jarwo mengaku semuanya. Dia menulis tentang darah yang menurutnya seksi. Dia menulis tentang bagaimana dia menanam tubuh anak-anak itu di tepi sungai, di tempat di mana tidak ada yang akan mencarinya. Dia menulis dengan kepuasan sadis.
Dia tidak pernah diadili untuk pembunuhan di dua kota lainnya. Dia hanya diadili untuk kejadian di kanal. Hakim berkata dia waras. Jarwo dihukum penjara seumur hidup. Dia menghabiskan hari-harinya di balik terali besi, menatap dinding yang dingin sampai ajal menjemputnya di tahun dua ribu tujuh.
Di dalam gudang rumah orang tuanya, masih ada kotak kayu itu. Tersembunyi di bawah debu dan tumpukan barang rongsokan. Masih menyimpan foto-foto anak-anak yang namanya sudah hilang ditelan waktu, menunggu seseorang untuk menemukannya dan melihat apa yang sebenarnya dilakukan oleh pria pendiam yang tidak pernah punya teman itu.