Menanti Detik Berhenti

Senja di Jalan Kenanga selalu punya cara untuk merayap masuk tanpa diundang. Langit sore itu berwarna kelabu pucat, warna yang mengingatkanku pada debu di rak buku tua yang jarang tersentuh. Aku melangkah masuk ke toko buku “Aksara usang” sekadar mencari tempat untuk bersembunyi dari riuh kepala sendiri. Lonceng di atas pintu berdentang pelan, nyaris seperti bisikan minta maaf.

Di sudut rak filsafat, dia berdiri. Arga.

Dia tidak sedang memilih buku. Posisinya kaku, seperti pajangan yang salah letak. Satu tangan menempel pada deretan sampul, matanya menatap sesuatu yang jauh melampaui dinding toko. Aku sempat ingin berbalik, berniat membatalkan niat mencari ketenangan. Namun, pintu sudah tertutup rapat dan udara di antara kami sudah terlanjur saling mengenali.

Aku mendekat, pura-pura tertarik pada sebuah buku tebal yang sampulnya sudah mengelupas.

“Kamu tidak terlihat seperti orang yang melahap bacaan berat seperti itu,” suaranya memecah kesunyian. Tidak mengejutkan, hanya datar.

Aku membalik halaman tanpa membacanya. “Memangnya orang seperti apa yang pantas memegang buku ini?”

Arga menatapku. Tatapannya tidak menghakimi, hanya penasaran. Dia terdiam cukup lama sebelum menjawab.

“Orang yang lebih tenang. Kamu terlihat terlalu lelah.”

Sarkasme itu seharusnya membuatku kesal. Anehnya, aku justru tertawa kecil. Tawa yang kering, tapi jujur. Dia memperkenalkan diri setelahnya, seolah nama hanyalah atribut tambahan yang tidak terlalu penting. Arga. Dia menyebutnya begitu ringan, seolah nama itu bisa dia tanggalkan kapan saja di meja kasir.

Kami keluar toko tanpa janji untuk melangkah ke arah yang sama. Namun, kaki kami seolah punya kehendak sendiri. Kami berjalan menyusuri trotoar yang mulai basah oleh gerimis tipis. Lampu-lampu jalan menyala satu per satu, berpendar kuning redup di antara sisa hujan.

“Bagian mana dari harimu yang paling pertama kamu lupakan?” tanya Arga tiba-tiba.

Aku terdiam. Pertanyaan itu tidak butuh jawaban cepat, tapi tetap saja, aku merasa tertohok.

“Aku bahkan tidak pernah benar-benar sadar menjalani hariku sampai semuanya selesai,” jawabku pelan.

Arga berhenti di depan penyeberangan jalan yang sepi. Dia menatap tangannya sendiri, jemari yang tampak cekatan meski sedang diam. “Aku memperbaiki barang tua. Foto-foto yang hampir hancur, kertas yang mulai lapuk. Aku membuat benda-benda yang dianggap selesai itu seolah masih terjadi sekarang.”

Kalimat itu menempel di benakku seperti lem yang susah dilepas.

Kamis-kamis berikutnya menjadi milik kami. Tidak ada janji, tidak ada kesepakatan tertulis. Toko buku itu perlahan berubah menjadi titik temu yang tak terucap. Aku mendapati diriku sering sampai lebih dulu, menghitung detak jam dinding, menunggu lonceng pintu berbunyi.

Arga pernah memperbaiki sebuah jam saku yang sudah mati puluhan tahun hanya karena dia tidak tahan melihatnya diam. Aku sering membaca paragraf yang sama berulang kali, bukan karena butuh paham, tapi karena aku menunggu rasa di hatiku berubah setiap kali membacanya.

Hari ini, suasana toko terasa berbeda. Udara lebih berat. Arga berdiri di dekat jendela, wajahnya tidak lagi tenang.

“Kamu datang,” ujarnya lirih.

“Aku memang selalu datang,” jawabku, mencoba menyembunyikan getar di suara.

Dia menatapku tajam. “Aku tidak yakin kamu akan tetap di sini.”

Aku mendekat selangkah. Lantai kayu toko berderit di bawah kakiku, satu-satunya suara yang mengisi kekosongan antara kami.

“Kenapa tidak?”

Arga membuang napas panjang. Dia menatap ke luar jendela, ke arah jalanan yang sibuk dengan orang-orang yang tidak tahu apa-apa tentang kami. “Aku sedang mencoba mencari tahu apakah diam di satu tempat bisa terasa lebih dari sekadar menunggu.”

Kalimat itu tidak bicara tentang barang-barang antik. Dia bicara tentang aku. Dia bicara tentang ketakutan yang selama ini kami kubur di bawah basa-basi sore hari.

Aku diam. Dia pun diam. Tidak ada lagi jarak yang bisa kami sebut sebagai ruang kosong.

Di luar, kota terus berdenyut tanpa peduli. Di dalam toko, sesuatu yang lebih rapuh dari kertas tua sedang berusaha dibentuk. Kami berdua berdiri di sana, membiarkan momen itu menggantung, menolak untuk menjadi sesuatu yang selesai.

Bagikan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Plus Exclusive Smilies 3.0 Kaskus-style Large Kaskus-style Small Standard Smilies
:welcome
:terimakasih
:tepuktangan
:tepar
:sudahkuduga
:siapgan
:semangat
:sale
:pertamax
:pencet
:paket
:nyantai
:nulisah
:monggo
:merdeka
:kangen
:jones
:insomnia
:hargapas
:goyang
:garudadidadaku
:gagalpaham
:gaasik
:dor
:cih
:ceyem
:butuhpacar
:bokek
:belumtidur
:batik
:banggapakebatik
:ayoindonesia
:ngamuk
:lemparbata
:keepposting
:hansip
:cendolgan
:bigkiss
:xmas
:wow
:wkwkwk
:wakaka
:ultahhore
:ultah
:travel
:toast
:telolet4
:telolet3
:telolet2
:telolet1
:takut
:sup:
:sup2
:sorry
:shakehand2
:selamat
:salamkenal
:salaman
:salahkamar
:request
:repost:
:repost2
:repost
:recsel
:rate5
:peluk
:omtelolet
:nyepi
:nosara
:nohope
:ngakak
:ngacir2
:ngacir
:najis
:motret
:mewek
:matabelo
:marigerak
:marah
:malu
:maafaganwati
:maafagan
:lehuga
:kts:
:kr
:kiss
:kimpoi
:ketupat
:kbgt:
:kacau:
:jrb:
:imlek2
:imlek
:ilovekaskus
:iloveindonesia
:hoax
:hn
:hammer
:hai
:games
:entahlah
:dp
:cystg
:cool
:coblos
:cipok
:cendolbig
:cendol
:cekpm
:cd:
:cd
:catchemall:
:bola
:bingung
:bigo:
:betty
:berduka
:bedug
:batabig
:babygirl
:babyboy1
:babyboy
:angpau
:angel
:2thumbup
:1thumbup
:malu2
:siul
:newyear
:alay
:hoax2
:hope
:hotrit
:lapar
:mahongintip
:mewek2
:nerd
:pertamax
:rate
:sungkem
:supermaho
:thanks2
:tkp
:Yb
:takuts
:sundulgans
:shutups
:reposts
:ngakaks
:najiss
:malus
:mads
:kisss
:ilovekaskuss
:iloveindonesias
:hammers
:cendols
:cendolb
:cekpms
:capedes
:bookmarks
:bingungs
:bettys
:berdukas
:berbusas
:batas
:bata
:armys
:addfriends
:)b
;)
:wowcantik
:tv
:thumbup
:thumbdown
:think:
:tai
:tabrakan:
:table:
:sun:
:siul
:shutup:
:shakehand
:rose:
:rolleyes
:ricebowl:
:rainbow:
:rain:
:present:
:Phone:
:Peace:
:Paws:
:p
:Onigiri
:o
:norose:
:nohope:
:ngacir:
:moon:
:metal
:medicine:
:matabelo:
:malu:
:mad
:linux2:
:linux1:
:kucing:
:kissmouth
:kissing:
:kimpoi:
:kagets:
:hi:
:heart:
:hammer:
:gila:
:genit
:fuck:
:fuck3:
:fuck2:
:frog:
:fm:
:flower:
:exclamati
:email
:eek
:doctor
:D
:cool:
:confused
:coffee:
:clock
:ck
:buldog
:breakheart
:bingung:
:bikini
:berbusa
:beer:
:baby:
:babi:
:army
:anjing:
:angel:
:amazed:
:afro:
:)
:(