Peron Stasiun Tugu Yogyakarta malam itu berbau besi tua dan pesing karat, tipe tempat yang mencatat ribuan pamit tanpa pernah memedulikan nasib mereka yang ditinggalkan. Gerimis tipis menyiram bantalan rel kayu jati, memantulkan sisa lampu neon lima belas watt yang berkedip seolah hidup enggan mati tak mau. Jam dinding bundar di atas loket karcis menunjuk angka sebelas lewat empat puluh.
Jadwal kereta terakhir tertulis besar-besar di papan kapur hitam: PRAMEKS TERAKHIR — TUJUAN SOLO. Tulisan itu tampak angkuh, menantang siapa saja yang masih luntang-lantung di stasiun sepi ini.
Ratih duduk di bangku peron semen yang dingin, merapatkan jaket jinjingnya untuk menahan gigilan angin malam. Ia tidak punya urusan ke Solo. Kedatangannya ke tempat ini murni karena ia benci keheningan kamar kosnya di daerah Gondokusuman, tempat semua barang peninggalan ibunya masih berbau kapur barus dan kematian.
Kereta dijadwalkan tiba dua belas menit lagi.
Seorang lelaki duduk di ujung bangku yang sama, berjarak sekitar tiga meter dari posisi Ratih. Lelaki itu mengenakan jaket belel dengan tas ransel kanvas setengah terbuka di lantai, memperlihatkan ujung sarung lipat dan gulungan kertas denah bangunan. Pandangannya lurus menatap rel baja yang berkilat kena air hujan, namun matanya kosong, menyiratkan jiwa yang sudah berangkat lebih dulu sebelum gerbongnya tiba.
“Biasanya telat kalau hujan begini,” suara lelaki itu tiba-tiba memecah deru gerimis.
Ratih menoleh sedikit, membetulkan letak kacamatanya. “Memang selalu begitu.”
“Baguslah,” gumam lelaki itu lagi, jepitan jarinya mempermainkan sebatang rokok kretek yang belum disulut.
“Kenapa bagus?” tanya Ratih, mendadak tertarik oleh nada bicaranya yang sinis.
Lelaki itu menoleh, melempar senyum kecut. “Berarti saya punya waktu sepuluh menit lagi untuk meyakinkan diri sendiri kalau saya memang harus pergi dari kota ini.”
Ratih terdiam, menatap ujung sepatu jenggelnya yang basah. Percakapan asing ini terasa menusuk ulu hatinya yang paling dalam. Ia sendiri menghabiskan tiga bulan terakhir hanya untuk mengutuk kenyataan bahwa ibunya pergi tanpa memberi tanda-tanda, mati mendadak di atas amben dapur saat sedang menanak nasi.
Suara corong pengeras suara stasiun mendadak berderit nyaring, memuntahkan pengumuman kaku tentang posisi kereta yang sudah melewati Stasiun Lempuyangan.
“Namamu siapa?” tanya lelaki itu, menyodorkan tangan yang kasar, khas tangan kuli gambar proyek lapangan.
“Ratih,” jawabnya pendek, menyambut jabat tangan yang terasa hangat itu.
“Hendra,” sahut lelaki itu. Ia bangkit, memanggul ransel kanvasnya yang tampak berat saat sorot lampu lokomotif mulai membelah kabut malam di ujung rel.
Besi tua kereta Prameks itu mengerem dengan jeritan memekakkan telinga, menciptakan kepulan asap tipis dan bau kampas terbakar yang menyengat hidung. Pintu gerbong terbuka otomatis. Beberapa penumpang turun dengan langkah gontai, wajah-wajah kuyu tipikal kaum pekerja yang kehabisan energi di penghujung hari.
Hendra melangkah mendekati pintu gerbong, namun ia mendadak menghentikan kakinya tepat di batas garis kuning peron. Ia membalikkan badan, menatap Ratih yang masih duduk mematung di bangku semen.
“Kamu tidak mau ikut sekalian?” tanya Hendra, nadanya setengah menantang, setengah memohon.
Ratih menatap pintu gerbong yang menganga, lalu beralih pada sosok Hendra. Di balik punggung Hendra, di dalam gerbong yang remang-remang, Ratih mendadak melihat bayangan ibunya sedang duduk di dekat jendela, mengenakan kebaya lurik kesayangannya, tersenyum sambil melambaikan tangan perlahan.
Jantung Ratih berdegup kencang, pandangannya mengabur oleh air mata yang mendadak meleleh di pipi. Ia mengedipkan mata, dan bayangan ibunya lenyap, berganti menjadi seorang nenek tua yang sedang memeluk bakul jualan kosong.
“Tidak,” kata Ratih, suaranya mantap, seolah baru saja melepaskan batu besar yang menyumbat tenggorokannya selama ini. “Kota ini masih punya urusan dengan saya.”
Hendra tersenyum, kali ini sebuah senyuman yang lepas dan tulus. Ia mengangguk sekali, lalu melompat naik ke dalam gerbong. Pintu menutup dengan deburan angin yang keras. Kereta terakhir itu bergerak perlahan, meninggalkan stasiun, membawa pergi semua keraguan Hendra dan menyisakan Ratih yang berdiri tegak di atas peron basah, siap pulang ke kamar kosnya untuk mulai merapikan baju-baju almarhumah ibunya.