Tanyakan Namaku pada Ibumu

Langit di Desa Watu Ireng sore itu berwarna ungu lebam, persis memar pada lengan orang yang baru saja dipukul batang kayu. Hujan turun menderu, menghantam kaca mobil rental yang dikendarai Kedasih dengan ritme yang gila. Navigasi di ponselnya mati dua puluh menit lalu, menyisakan layar hitam yang dingin. Ia datang ke sini bukan untuk berlibur, melainkan untuk melunasi urusan yang tidak pernah tuntas. Bibi Sumiyati, kerabatnya yang sudah lama tiada, mewariskan sebuah rumah yang tidak pernah diceritakan kepada siapa pun. Notaris di kota kecamatan sempat menatapnya dengan tatapan kasihan, namun tetap bungkam saat ditanya mengapa rumah itu harus dijual secepat mungkin.

“Datanglah siang hari,” pesan notaris itu saat mereka berpisah. “Orang waras tidak pernah betah tinggal di sana setelah matahari tenggelam.”

Kedasih sempat tertawa kecil. “Memangnya ada hantu?”

Notaris itu tidak ikut tertawa.

Rumah itu berdiri menyendiri di ujung jalan setapak, dikelilingi pohon-pohon pinus raksasa yang tampak angkuh. Bentuknya lebih besar dari bayangan Kedasih, sebuah bangunan tua dengan dinding bata yang menghitam, penuh noda lumut dan kotoran. Tanaman rambat melilit dinding seperti pembuluh darah yang membeku di balik batu. Terasnya melengkung ke bawah, dimakan usia. Begitu kakinya menapak tanah, ia merasa ada sesuatu yang bergeser di udara.

Rumah ini tidak terlihat hancur. Ia hanya terlihat dilupakan.

Pintu depan sedikit terbuka. Kedasih menggerutu, membayangkan gelandangan sedang berlindung di dalam. Ia mendorong pintu kayu itu hingga berderit. Debu beterbangan dalam berkas cahaya senja yang sekarat. Bau kertas tua, lembap, dan sesuatu yang tajam seperti besi berkarat menusuk hidungnya.

“Halo?” panggilnya. Tidak ada jawaban.

Suara langkah kakinya bergema terlalu nyaring di lorong, seolah lantai kayu itu sedang menanti kehadirannya. Bingkai-bingkai foto berderet di dinding, namun wajah-wajah di dalamnya telah dikerik hingga hanya menyisakan noda putih yang pucat. Ia menemukan sebuah buku catatan kulit di meja perapian. Tulisannya milik Bibi Sumiyati.

Jika kau membaca ini, jangan tidur di sini. Pergilah sebelum senja. Jangan pernah menjawab jika mendengar namamu dipanggil dari ruangan lain.

Kedasih mendengus. “Lucu sekali.”

Ia membalik halaman. Rumah ini menyimpan kenangan tentang orang-orang. Namun perlahan, ia mulai melupakan mereka. Saat rumah ini melupakan namamu, saat itulah kau lenyap.

Buluk kuduk Kedasih meremang. Angin di luar menderu, membanting jendela. Ia terjebak. Malam ini harus dilewati di sini, tidak ada pilihan lain. Ia mencari kamar yang masih utuh. Di sana, bayangan di sudut ruangan terasa memanjang secara janggal. Sembilan malam, ia menyeduh teh dari sisa persediaan di dapur. Ia kembali membaca jurnal itu.

Semakin dalam, tulisannya semakin tidak waras.

Rumah ini belajar meniru suara. Pertama orang asing. Lalu orang-orang terkasih. Semakin sulit membedakan yang nyata dengan yang palsu. Aku lupa wajah kakakku hari ini. Rumah ini mengambil namanya lebih dulu. Kurasa dia sudah tidak ada.

Kedasih memijat keningnya. Duka dan penuaan adalah musuh yang kejam.

“Kedasih?”

Sebuah suara lembut terdengar dari lantai bawah.

Ibu.

Mustahil. Ibunya sudah dimakamkan enam tahun lalu.

“Kedasih, bisa kemari sebentar? Ibu kedinginan.”

Dada Kedasih sesak. Itu nada suara yang persis sama. Lembut, sabar, dan penuh kasih. Ia berdiri kaku, menggenggam buku catatan itu dengan jemari yang gemetar.

“Ini tidak nyata,” gumamnya.

Tawa kecil terdengar dari lantai bawah. Tawa itu berubah menjadi suara parau yang basah. Rumah itu mengerang di sekelilingnya. Kedasih mengunci pintu kamar. Tak lama, langkah kaki menaiki tangga. Lambat. Terukur. Setiap pijakan membuat lantai melenguh.

“Kedasih,” suara itu kini berada tepat di balik pintu. “Kenapa tidak mau membukaku?”

Air mata menggenang di pelupuk mata Kedasih. “Aku tahu kau sudah tiada.”

Suara itu berhenti. Kemudian berubah, kini menjadi suara mantannya, Anton, yang tewas kecelakaan dua tahun lalu. “Kau masih menyalahkan dirimu, kan? Kau tahu cuaca buruk, tapi kau diam saja.”

“Berhenti,” bisik Kedasih.

“Kau tidak pernah membalas panggilanku. Kau meninggalkanku.”

Gagang pintu berputar liar. “BUKA!”

Suara itu berubah menjadi geraman berlapis-lapis. Lampu kamar berkedip sekali sebelum mati total. Keheningan jatuh secara mutlak. Tidak ada suara hujan. Tidak ada suara guntur. Bahkan suara detak jam dinding di lantai bawah telah raib.

Sesuatu berbisik dari balik dinding. Nama-nama. Ratusan nama yang saling tumpang tindih. Kedasih menempelkan punggungnya ke dinding, merasa jiwanya terhisap.

“Kedasih.”

“Kedasih.”

Rumah itu tidak hanya memanggil. Rumah itu sedang menelan keberadaannya.

Ia teringat sebuah kalimat dalam jurnal: Loteng menyimpan siapa saja yang hilang.

Ia berlari keluar kamar. Lorong itu memanjang secara aneh, membawa kakinya menuju sebuah tangga darurat yang muncul tiba-tiba. Suara Bibi Sumiyati memanggil dari atas, memohon agar ia segera naik.

Loteng itu penuh sesak. Bukan dengan barang, melainkan dengan foto-foto yang ditempel di dinding. Foto keluarga, pernikahan, ijazah. Semua wajah dikerik. Di bawah fotonya sendiri saat masih kecil, namanya mulai memudar. Cla—

“Apa yang harus kulakukan?” teriak Kedasih pada sosok kurus yang duduk di kursi goyang. Itu Bibi Sumiyati, yang kulitnya seperti kertas terbakar.

“Ingat,” bisik Bibi Sumiyati. “Sebelum rumah ini melupakannya.”

Kedasih membuka buku besar di sudut ruangan. Daftar nama orang-orang yang lenyap. Ia mulai berteriak. “Aryo Burmaya! Dian Waskita! Randi Suparja!”

Rumah itu bergetar hebat. Dinding-dinding pecah. Bayangan-bayangan menjerit saat setiap nama diucapkan. Kedasih terus membacanya hingga suaranya serak. Dengan satu dentuman terakhir, rumah itu terbelah. Pintu loteng terbuka, membawa udara malam yang dingin dan lega.

Sesaat kemudian, bangunan itu runtuh seperti helaan napas panjang yang terakhir.

Polisi tidak menemukan apa pun. Tidak ada puing, tidak ada fondasi, hanya hutan yang bisu. Notaris itu, saat ditemui beberapa bulan kemudian, hanya menatap kosong. “Rumah apa?” tanyanya dengan tangan gemetar.

Kedasih mencoba melanjutkan hidup. Namun suatu sore, saat ia merapikan barang, ia menemukan sebuah foto masa kecil. Di sampingnya, ada seseorang dengan wajah yang dikerik rapi.

Di balik foto itu, tertulis empat kata: Tanyakan namaku pada ibumu.

Bagikan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Plus Exclusive Smilies 3.0 Kaskus-style Large Kaskus-style Small Standard Smilies
:welcome
:terimakasih
:tepuktangan
:tepar
:sudahkuduga
:siapgan
:semangat
:sale
:pertamax
:pencet
:paket
:nyantai
:nulisah
:monggo
:merdeka
:kangen
:jones
:insomnia
:hargapas
:goyang
:garudadidadaku
:gagalpaham
:gaasik
:dor
:cih
:ceyem
:butuhpacar
:bokek
:belumtidur
:batik
:banggapakebatik
:ayoindonesia
:ngamuk
:lemparbata
:keepposting
:hansip
:cendolgan
:bigkiss
:xmas
:wow
:wkwkwk
:wakaka
:ultahhore
:ultah
:travel
:toast
:telolet4
:telolet3
:telolet2
:telolet1
:takut
:sup:
:sup2
:sorry
:shakehand2
:selamat
:salamkenal
:salaman
:salahkamar
:request
:repost:
:repost2
:repost
:recsel
:rate5
:peluk
:omtelolet
:nyepi
:nosara
:nohope
:ngakak
:ngacir2
:ngacir
:najis
:motret
:mewek
:matabelo
:marigerak
:marah
:malu
:maafaganwati
:maafagan
:lehuga
:kts:
:kr
:kiss
:kimpoi
:ketupat
:kbgt:
:kacau:
:jrb:
:imlek2
:imlek
:ilovekaskus
:iloveindonesia
:hoax
:hn
:hammer
:hai
:games
:entahlah
:dp
:cystg
:cool
:coblos
:cipok
:cendolbig
:cendol
:cekpm
:cd:
:cd
:catchemall:
:bola
:bingung
:bigo:
:betty
:berduka
:bedug
:batabig
:babygirl
:babyboy1
:babyboy
:angpau
:angel
:2thumbup
:1thumbup
:malu2
:siul
:newyear
:alay
:hoax2
:hope
:hotrit
:lapar
:mahongintip
:mewek2
:nerd
:pertamax
:rate
:sungkem
:supermaho
:thanks2
:tkp
:Yb
:takuts
:sundulgans
:shutups
:reposts
:ngakaks
:najiss
:malus
:mads
:kisss
:ilovekaskuss
:iloveindonesias
:hammers
:cendols
:cendolb
:cekpms
:capedes
:bookmarks
:bingungs
:bettys
:berdukas
:berbusas
:batas
:bata
:armys
:addfriends
:)b
;)
:wowcantik
:tv
:thumbup
:thumbdown
:think:
:tai
:tabrakan:
:table:
:sun:
:siul
:shutup:
:shakehand
:rose:
:rolleyes
:ricebowl:
:rainbow:
:rain:
:present:
:Phone:
:Peace:
:Paws:
:p
:Onigiri
:o
:norose:
:nohope:
:ngacir:
:moon:
:metal
:medicine:
:matabelo:
:malu:
:mad
:linux2:
:linux1:
:kucing:
:kissmouth
:kissing:
:kimpoi:
:kagets:
:hi:
:heart:
:hammer:
:gila:
:genit
:fuck:
:fuck3:
:fuck2:
:frog:
:fm:
:flower:
:exclamati
:email
:eek
:doctor
:D
:cool:
:confused
:coffee:
:clock
:ck
:buldog
:breakheart
:bingung:
:bikini
:berbusa
:beer:
:baby:
:babi:
:army
:anjing:
:angel:
:amazed:
:afro:
:)
:(