Memangkas Jarak Deretan Angka

Sore di sebuah kedai kopi di bilangan Senopati selalu membawa aroma hujan yang tertahan di aspal. Aris duduk gelisah. Di depannya, Ratna sedang menyesap teh chamomile dengan ketenangan yang sanggup meruntuhkan pertahanan siapa pun. Aris tahu, jemarinya yang mengetuk meja adalah tanda kelemahan yang ingin dia sembunyikan. Dia merasa seperti anak kecil yang sedang berusaha duduk di meja orang dewasa.

“Kamu selalu menatapku seolah aku sedang menyembunyikan rahasia besar,” ucap Ratna, matanya menyipit dengan guratan halus di sudut yang justru membuatnya tampak lebih hidup.

Aris tertawa canggung. Dia menyandarkan punggung, mencoba meniru gestur santai yang sering dia lihat di film-film, tapi yang keluar hanyalah kecanggungan. “Aku hanya sedang berpikir. Kamu punya cara sendiri dalam melihat dunia. Sesuatu yang tidak pernah kutemui di lingkaran pertemananku.”

Ratna meletakkan cangkir. Tatapannya tertuju tajam. “Jangan mencoba menjadi orang lain, Aris. Aku sudah melihat banyak pria dengan topeng kesuksesan yang retak saat diajak bicara soal hal-hal yang mendalam.”

Aris menarik napas panjang. Dia sudah terlalu lama merasa minder karena angka di kartu identitasnya. Dia takut Ratna melihatnya sebagai petualangan sesaat, atau lebih buruk lagi, sebagai seseorang yang harus dia asuh. Namun, hari ini dia memutuskan untuk berhenti merangkai kata demi memuaskan ekspektasi. Dia menatap balik ke arah Ratna tanpa keraguan.

“Aku tidak ingin membuatmu terkesan dengan apa yang kupunya,” ujar Aris pelan. “Aku hanya ingin berbagi energi yang kurasakan saat bersamamu. Kamu membuatku ingin lebih banyak mendengar daripada sekadar bicara.”

Ratna terdiam. Tidak ada senyum dibuat-buat di wajahnya, hanya pengamatan yang tulus. Selama ini, banyak pria mendekatinya dengan segala upaya untuk tampil dominan. Mereka membawa mobil mewah, menceritakan pencapaian karir yang dibesar-besarkan, atau sekadar tebar pesona yang terasa hambar. Aris berbeda. Aris memiliki kejujuran yang menelanjangi segala kepalsuan.

“Kamu tahu”, lanjut Ratna, suaranya melembut, “banyak orang berpikir aku butuh seseorang yang bisa memberikan perlindungan. Padahal, aku hanya butuh seseorang yang tidak lari saat keadaan menjadi sulit.”

Aris tersenyum. Dia tidak perlu berpura-pura menjadi pahlawan. Dia hanya perlu ada di sana, menjadi saksi bagi perjalanan hidup Ratna yang penuh dengan kerumitan yang tak sempat dia ceritakan pada siapa pun. Mereka terjebak dalam percakapan yang mengalir melampaui waktu. Tidak ada topik yang terlalu berat, tidak ada tawa yang terlalu kencang.

Di kedai kopi itu, ego Aris perlahan luruh. Dia sadar bahwa ketertarikan ini bukan tentang mengejar. Ini tentang bagaimana dua manusia, terlepas dari selisih tahun, bisa berdiri di tanah yang sama dan saling menghargai. Dia tidak perlu memamerkan apa pun. Cukup dengan menjadi dewasa lewat tanggung jawab atas dirinya sendiri dan keberanian untuk menyatakan apa yang dia rasa, Aris telah menemukan jalannya.

Malam mulai turun, membawa hawa dingin yang menyelinap ke balik jendela. Mereka bangkit dari kursi, berjalan berdampingan menuju pintu keluar. Ratna meraih lengan Aris, sebuah gestur kecil yang memberi tahu bahwa jarak itu sudah mulai memudar. Aris tidak lagi merasa kecil. Dia tahu, di hadapan wanita yang telah melihat separuh dunia ini, dia tidak perlu menjadi sempurna. Dia hanya perlu menjadi jujur.

Dan itu, bagi mereka berdua, adalah permulaan yang paling berharga.

Bagikan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Plus Exclusive Smilies 3.0 Kaskus-style Large Kaskus-style Small Standard Smilies
:welcome
:terimakasih
:tepuktangan
:tepar
:sudahkuduga
:siapgan
:semangat
:sale
:pertamax
:pencet
:paket
:nyantai
:nulisah
:monggo
:merdeka
:kangen
:jones
:insomnia
:hargapas
:goyang
:garudadidadaku
:gagalpaham
:gaasik
:dor
:cih
:ceyem
:butuhpacar
:bokek
:belumtidur
:batik
:banggapakebatik
:ayoindonesia
:ngamuk
:lemparbata
:keepposting
:hansip
:cendolgan
:bigkiss
:xmas
:wow
:wkwkwk
:wakaka
:ultahhore
:ultah
:travel
:toast
:telolet4
:telolet3
:telolet2
:telolet1
:takut
:sup:
:sup2
:sorry
:shakehand2
:selamat
:salamkenal
:salaman
:salahkamar
:request
:repost:
:repost2
:repost
:recsel
:rate5
:peluk
:omtelolet
:nyepi
:nosara
:nohope
:ngakak
:ngacir2
:ngacir
:najis
:motret
:mewek
:matabelo
:marigerak
:marah
:malu
:maafaganwati
:maafagan
:lehuga
:kts:
:kr
:kiss
:kimpoi
:ketupat
:kbgt:
:kacau:
:jrb:
:imlek2
:imlek
:ilovekaskus
:iloveindonesia
:hoax
:hn
:hammer
:hai
:games
:entahlah
:dp
:cystg
:cool
:coblos
:cipok
:cendolbig
:cendol
:cekpm
:cd:
:cd
:catchemall:
:bola
:bingung
:bigo:
:betty
:berduka
:bedug
:batabig
:babygirl
:babyboy1
:babyboy
:angpau
:angel
:2thumbup
:1thumbup
:malu2
:siul
:newyear
:alay
:hoax2
:hope
:hotrit
:lapar
:mahongintip
:mewek2
:nerd
:pertamax
:rate
:sungkem
:supermaho
:thanks2
:tkp
:Yb
:takuts
:sundulgans
:shutups
:reposts
:ngakaks
:najiss
:malus
:mads
:kisss
:ilovekaskuss
:iloveindonesias
:hammers
:cendols
:cendolb
:cekpms
:capedes
:bookmarks
:bingungs
:bettys
:berdukas
:berbusas
:batas
:bata
:armys
:addfriends
:)b
;)
:wowcantik
:tv
:thumbup
:thumbdown
:think:
:tai
:tabrakan:
:table:
:sun:
:siul
:shutup:
:shakehand
:rose:
:rolleyes
:ricebowl:
:rainbow:
:rain:
:present:
:Phone:
:Peace:
:Paws:
:p
:Onigiri
:o
:norose:
:nohope:
:ngacir:
:moon:
:metal
:medicine:
:matabelo:
:malu:
:mad
:linux2:
:linux1:
:kucing:
:kissmouth
:kissing:
:kimpoi:
:kagets:
:hi:
:heart:
:hammer:
:gila:
:genit
:fuck:
:fuck3:
:fuck2:
:frog:
:fm:
:flower:
:exclamati
:email
:eek
:doctor
:D
:cool:
:confused
:coffee:
:clock
:ck
:buldog
:breakheart
:bingung:
:bikini
:berbusa
:beer:
:baby:
:babi:
:army
:anjing:
:angel:
:amazed:
:afro:
:)
:(