Gedung tua pembuat peti mati itu runtuh separuh pada tahun sembilan puluhan, meninggalkan sisa bangunan tiga lantai berdinding semen telanjang yang jamuran. Di lantai paling atas, Rangga menyewa sebuah petak kamar berlantai tegel abu-abu yang selalu terasa dingin, tepat di atas kios penjahit kasur palembang yang bau kapuknya menusuk hidung sepanjang hari. Pemilik kontrakan, seorang lelaki tua keturunan yang kupingnya sudah agak tuli, menyerahkan kunci serep tanpa banyak tanya, lalu membiarkan Rangga menua bersama keheningan kamarnya sendiri.
Seminggu pertama, Rangga memperlakukan petak kamar itu seolah ia hanya menumpang tidur sebelum melarikan diri lagi.
Baju-bajunya tetap bertumpuk di dalam kardus mi instan, tidak pernah dipindahkan ke lemari tripleks yang engselnya sudah copot. Ia terbiasa tidur dengan lampu kamar mandi tetap menyala, membiarkan sinarnya yang kekuningan menerobos celah pintu kayu, sebab kegelapan di tempat baru selalu mendatangkan bayangan wajah ibunya yang mati kelaparan di masa paceklik dulu.
Tepat di seberang gang yang lebarnya cuma seukuran bentangan dua tangan orang dewasa, berdiri sebuah rumah petak berlantai dua dengan susunan jendela yang miring sebelah.
Satu jendela di lantai dua, paling pojok kanan, punya kebiasaan terjaga ketika seluruh penghuni gang sudah mendengkur bersama mimpi-mimpi mereka yang murah.
Lampu pijar minyak tanah.
Cahayanya bergoyang malas ditiup angin sepoi dari arah rawa-rawa, memantulkan bayangan samar seorang perempuan di balik tirai kain blacu yang sudah dekil. Perempuan itu sering kali berdiri mematung sambil memegang ulekan batu, kadang cuma memandang kosong ke arah jemuran kain perca yang menggantung di bawah talang air. Ada sejenis beban yang ikut merembes dari balik bayangan itu, sejenis beban yang membuat pundak Rangga ikut terasa linu setiap kali ia iseng melongok dari balik gorden kamarnya.
Rangga selalu buru-buru memalingkan muka, merasa berdosa karena telah mencuri sepotong kesunyian milik orang lain.
Kesibukannya sebagai buruh pelipat kertas amplop di percetakan pinggir kali membuatnya jarang pulang sebelum magrib. Hari-harinya berjalan mekanis, penuh dengan aroma lem kanji dan debu kertas potong yang menyumbat paru-paru. Namun entah mengapa, setiap kali jarum jam dinding di kamarnya melompat ke angka sebelas malam, matanya otomatis bergerak mencari jendela di seberang gang itu.
Lampu pijar itu akan menyala.
Kadang redup, kadang berjelaga hitam karena sumbunya telanjur gosong.
Perempuan di seberang sana tetap melakukan gerakan yang sama, menyisir rambutnya yang panjang dengan sisir kutu dari kayu, atau sekadar duduk di lantai sambil memandangi cicak yang berebut nyamuk di langit-langit. Rangga tidak pernah tahu namanya, tidak pernah mendengar suaranya, bahkan tidak tahu apakah perempuan itu punya sepasang bola mata yang lengkap atau tidak. Jarak lima meter di antara dua bangunan tua itu telah menjelma menjadi pembatas dunia yang paling kokoh.
Hingga pada suatu malam ketika tukang sate pikul berhenti berteriak karena dagangannya sudah ludes, lampu di seberang tidak kunjung menyala.
Rangga berdiri di dekat jendela kamarnya sampai kakinya kesemutan.
Sepuluh menit.
Satu jam.
Kamar di seberang sana tetap gelap gulita, menyisakan lobang hitam yang tampak menganga seperti mulut kuburan baru. Rasa cemas yang tidak masuk akal mendadak menyergap ulu hati Rangga, membuat dadanya terasa sesak seolah seluruh pasokan udara di Gang Macanan telah disedot habis oleh kegelapan seberang jalan.
Ia bertahan di posisinya, menempelkan keningnya pada kaca jendela yang buram oleh embun malam.
Menjelang pukul tiga dini hari, sebuah bayangan mendadak berkelebat di dalam kamar gelap itu, bukan bayangan milik perempuan penyisir rambut, melainkan sesosok pria bertubuh gempal yang mengenakan caping bambu lebar. Pria itu menyeret sesuatu yang berat di atas lantai kayu, menimbulkan suara berdecit yang sangat pelan namun sanggup membuat bulu kuduk Rangga berdiri. Samar-samar, cahaya lampu senter dari jalan bawah menembus jendela seberang, memperlihatkan kilatan sebilah celurit yang diselipkan di pinggang celana kombor pria bercaping itu.
Rangga menahan napas, tangannya gemetar hebat saat melihat ujung kain daster mega mendung milik si perempuan menjulur keluar dari dalam karung goni yang sedang diikat oleh si pria bercaping.
Itu adalah Tarjo, jagal sapi pasar loak yang terkenal bengis dan sering memukuli istrinya jika kalah judi togel.
Ketakutan membuat Rangga terpaksa menutup gorden kamarnya rapat-rapat, mengunci pintu dari dalam, lalu meringkuk di sudut kasur sambil menutup kedua telinganya dengan bantal busa. Ia meyakinkan dirinya bahwa ia tidak melihat apa-apa, bahwa apa yang terjadi di seberang jalan bukanlah urusannya, dan bahwa seorang buruh amplop miskin seperti dirinya tidak punya hak untuk ikut campur dalam urusan nyawa orang lain.
Keesokan harinya, Gang Macanan geger oleh penemuan mayat seorang perempuan di dalam sumur tua di ujung kampung.
Rangga tidak berani keluar kamar, ia hanya mengintip dari celah ventilasi udara saat keranda mayat digotong melewati bawah jendelanya, diikuti oleh isak tangis beberapa tetangga dan wajah Tarjo yang pura-pura pingsan di depan pak RT. Sejak hari itu, kamar di seberang jendela tetap dibiarkan kosong, pintunya dipaku silang menggunakan dua bilah papan bekas peti mati, meninggalkan kesan angker yang menjalar ke seluruh dinding gang.
Namun, pada malam ketujuh setelah pemakaman, malam ketika angin kiriman dari pantai utara membawa aroma garam dan pembusukan, lampu pijar di seberang kembali menyala tepat pukul sebelas.
Rangga melompat dari kasurnya dengan jantung yang berdegup kencang seperti tabuhan bedug magrib.
Perempuan itu ada di sana.
Ia sedang berdiri menghadap tepat ke arah jendela Rangga, tidak lagi memegang sisir atau ulekan batu, melainkan memegang selembar kertas amplop cokelat hasil lipatan tangan Rangga sendiri yang sudah berlumuran darah segar. Perempuan itu mengangkat tangannya perlahan, menunjuk lurus ke arah wajah Rangga dengan jari telunjuknya yang patah, sementara dari sela-sela matanya yang kosong mengalir air mata berwarna merah kental.
Di bawah jendela, terdengar langkah kaki berat yang menaiki tangga kayu kontrakan Rangga, langkah kaki yang disusul oleh suara derit celurit yang ditarik menyusur dinding semen. Tarjo sudah tahu siapa yang mengintipnya malam itu.