Kamar sewaan nomor tiga belas itu telanjur berbau apek pelitur murah, bersikeras menahan sisa-sisa napas penghuni lama yang hengkang tanpa sempat berpamitan. Tiga bulan ruangan ini telantar, menjadi sarang debu sebelum akhirnya Kirana datang membawa dua kardus mi instan berisi pakaian. Dinding tripleks kamar mencatat jejak-jejak samar bingkai foto yang dicopot paksa, menyisakan belang putih pada cat tembok yang mulai mengelupas.
Kirana tipe manusia yang enggan buru-buru bersahabat dengan ruang baru.
Ia membiarkan kardus-kardus bajunya tergeletak setengah terbuka di sudut lantai semen. Kasur kapuk tanpa dipan ia hamparkan begitu saja menghadap jendela, membiarkan kain gorden tersingkap selebar telapak tangan setiap malam. Baginya, kegelapan di luar jauh lebih jujur daripada kepalsuan lampu bohlam kuning di dalam.
Seberang selasar jemuran, tepat melintasi halaman tengah yang becek oleh luapan got, berdiri kompleks rusunawa serupa yang berjejal seperti tumpukan kotak korek api api. Mayoritas jendelanya mati, gelap, gulita. Kecuali sebuah kamar di lantai empat, agak serong ke kiri, yang selalu menolak tunduk pada jam malam kota Jakarta.
Kamar itu menyala sendirian lewat tengah malam.
Bukan cahaya yang benderang, melainkan pendar redup dari lampu teplok atau mungkin televisi tabung tanpa siaran. Konsistensi cahaya itu pelan-pelan menyelinap ke dalam kepala Kirana, menjelma menjadi sebuah jadwal tidak tertulis yang ia tunggu tanpa alasan jelas.
Kirana sempat meyakinkan diri bahwa ia tidak peduli.
Nyatanya, ingatan itu menetap. Malam berikutnya, saat gerimis mulai mengetuk-ngetuk genteng seng, lelaki penghuni kamar lantai empat itu muncul di ambang jendela besi. Tangannya menggenggam cangkir seng pudar, matanya menatap kosong ke arah kegelapan halaman tengah, tidak bergerak selama hampir setengah jam seolah-olah ia patung semen yang lupa cara bernapas.
Kirana mundur satu langkah ke balik bayangan gorden, mendadak merasa seperti pencuri yang tertangkap basah, meski jarak dan pekatnya malam mustahil membuat lelaki itu menyadari kehadirannya.
Ritme itu berulang menjadi candu baru. Kadang lelaki itu membaca buku dengan punggung melengkung, kadang ia hanya duduk memandangi cicak di dinding luarnya. Sekali waktu, Kirana melihat lelaki itu tertawa sendirian, jenis tawa hambar yang langsung lenyap ditelan bising suara bajaj dari jalan raya bawah.
Rasa penasaran selalu tahu cara membiakkan dirinya sendiri di dalam kesepian.
Malam kedelapan, sebuah siluet lain muncul di kamar lantai empat tersebut. Seorang perempuan berambut cepak masuk dengan gerakan kasar, mengempaskan tas plastik ke lantai, lalu memaki tanpa suara yang sanggup menyeberangi jarak selasar. Lelaki itu tidak membalas, hanya menunduk dalam-dalam menerima rentetan amarah sebelum si perempuan membalikkan badan dan membanting pintu kayu hingga terdengar dentumannya ke seberang halaman.
Lampu kamar itu mendadak mati, meninggalkan keheningan yang jauh lebih pekat dari biasanya.
Kirana merasakan sesak yang aneh di dadanya, seolah-olah drama tanpa suara di seberang sana adalah cerminan dari surat gugatan cerai yang sengaja ia tinggalkan di atas meja makan suaminya di Surabaya dua minggu lalu. Sesuatu yang patah di sana, ikut patah di sini.
Besoknya, Kirana sengaja berdiri di depan jendela lebih awal, bahkan sebelum adzan magrib selesai berkumandang dari pelantang suara musala gang.
Pendar redup di lantai empat menyusul menyala beberapa menit kemudian. Lelaki itu melangkah ke selasar luar, membiarkan tubuhnya diguyur angin malam yang mulai membawa aroma sate kambing dari pasar kaget bawah. Kirana melakukan hal sama, membuka jendela jalusinya lebar-lebar, membiarkan dadanya mencium udara basah yang sama.
Lelaki itu mendongak perlahan.
Pandangan mereka berbenturan di udara malam yang temaram. Tidak ada kepanikan, tidak ada lambaian tangan yang heboh, tidak ada tuntutan untuk saling mengenal nama masing-masing. Hanya sebuah pengakuan bisu yang melintasi kabel-kabel listrik yang saling melilit di antara dua bangunan, bahwa di kota yang jahanam ini, mereka berdua berbagi kesepian yang memiliki takaran persis sama.
Lelaki itu mengangkat cangkir sengnya sedikit, sebuah gestur penghormatan paling sunyi bagi sesama perantau yang kalah. Kirana membalasnya dengan anggukan kecil sebelum lelaki itu berbalik masuk dan menutup pintu jalusinya, meninggalkan Kirana yang akhirnya berani menutup gorden kamarnya rapat-rapat, siap menghadapi kenyataan di dalam kardus pakaiannya besok pagi.