Kota Jakarta tidak pernah sungguh-sungguh tidur, namun ada satu jam khusus setiap dini hari ketika ia berpura-pura mati.
Biasanya sandiwara itu bermula antara pukul dua hingga menjelang subuh, saat aspal Jalan Kramat Raya menyisakan lengang yang ganjil. Truk-truk kontainer penjelajah malam melintas sesekali, meninggalkan deru knalpot yang memekakkan telinga sebelum menyisakan sunyi yang lebih dingin. Bau sate kambing dan asap arang dari warung tenda pinggir jalan yang mulai tutup bercampur dengan aroma embun berpolusi.
Pada jam-jam laknat seperti itu, Ningsih memilih berjalan kaki menyusuri trotoar yang retak oleh akar pohon peneduh.
Langkah kakinya sengaja dibuat lambat, sengaja membiarkan sandal jepitnya bergesekan dengan semen kasar untuk mengusir rasa sepi yang menggerogoti dadanya sejak surat penolakan modal usaha itu mendarat di ponselnya. Berjalan di kegelapan begini jauh lebih aman baginya ketimbang berdiam diri di kamar kos yang sempit, tempat bayangan utang piutang warisan almarhum suaminya menempel di langit-langit kamar.
Tepat di dekat tangga turun bekas stasiun trem bawah tanah yang sudah puluhan tahun ditutup besi ruji berkarat, Ningsih menghentikan langkah.
Seorang lelaki duduk di undakan semen terbawah, bersandar pada pembatas besi yang sudah keropos dimakan usia. Sebuah sepeda ontel jengki tua disandarkan di dekatnya, ban depannya sedikit kempes, miring mengenaskan. Lelaki itu tidak sedang merokok, tidak bermain gawai, bahkan tidak memandang jalanan dengan tatapan waspada layaknya gelandangan malam kota metropolitan.
Lelaki itu mengenakan jaket katun lusuh berwarna hijau pudar, jenis pakaian yang biasa dipakai oleh para penjaga malam gudang tua.
Ningsih hendak melangkah lebar-lebar memutar arah, insting bertahan hidupnya sebagai perempuan lajang di Jakarta mendadak menyala merah. Langkahnya tertahan ketika lelaki itu mendongak, memperlihatkan gurat wajah yang teramat lelah, namun bersih dari niat jahat. Mata lelaki itu menyimpan jenis duka yang sama dengan apa yang selalu dilihat Ningsih di depan cermin setiap pagi.
“Jam yang salah untuk jalan-jalan, Mbak,” suara lelaki itu parau, khas orang yang jarang menggunakan tenggorokannya untuk bicara.
Ningsih mengeratkan pegangan pada tas belonjanya. “Mas sendiri sedang apa di sini?”
Lelaki itu menggeser duduknya sedikit, memberi ruang kosong pada undakan semen tanpa berniat mendekat. “Menunggu sisa hari berjalan maju. Nama saya Dani.”
Pertemuan malam itu menjadi pembuka bagi malam-malam berikutnya yang menggelinding tanpa direncanakan. Mereka menjelma menjadi sepasang manusia asing yang rutin membagi sunyi di undakan bekas stasiun trem, saling bertukar cerita dalam potongan-potongan kalimat pendek yang tidak pernah selesai. Dani bercerita tentang pekerjaannya sebagai buruh cuci cetak foto manual yang gulung tikar akibat gempuran teknologi digital, membuat seluruh sisa hidupnya terasa seperti klise film yang terbakar.
Ningsih menemukan semacam obat penenang dari obrolan-obrolan hambar itu, sebuah ruang di mana ia tidak perlu berpura-pura menjadi perempuan tangguh yang sanggup melunasi seluruh utang keluarga.
Malam ketujuh, udara berubah menjadi lebih berat, membawa aroma tanah basah pertanda badai akan segera menyapu ibu kota.
Dani datang tanpa membawa sepeda ontel jengkinya, wajahnya jauh lebih pucat dari biasanya, dengan bercak merah kehitaman di sekitar kerah jaket hijaunya. Ningsih yang sudah menunggu sejak pukul dua dini hari mendadak merasakan firasat buruk yang mengitari tengkuknya. Lelaki itu duduk dengan tubuh agak membungkuk, menahan dada kirinya yang tampak kembang kempis merebut oksigen malam yang semakin tipis.
“Ningsih, kamu tahu kenapa saya selalu mengendarai sepeda rusak itu ke sini?” tanya Dani sambil menatap ruji besi stasiun trem yang terkunci gembok karat.
Ningsih menggeleng, jemarinya yang dingin meremas ujung baju sendiri. “Kenapa, Mas?”
“Karena di bawah tanah ini, di balik besi ruji ini, anak dan istri saya tertimbun runtuhan terowongan saat proyek pelebaran jalan tiga tahun lalu,” bisik Dani, suaranya tercekat oleh lendir dan darah yang mendadak meleleh dari sudut bibirnya. “Pemerintah menutup stasiun ini, menyemen pintunya, dan menganggap kecelakaan itu tidak pernah ada agar proyek di atasnya bisa terus berjalan.”
Jantung Ningsih seolah berhenti berdetak, matanya melebar menatap Dani yang mulai terbatuk-batuk hebat, menumpahkan darah segar ke atas semen trotoar.
Sorot lampu mobil patroli polisi mendadak menyinari tempat mereka duduk, menghentikan kepanikan Ningsih yang hendak berteriak mencari pertolongan. Dua petugas berseragam turun dengan langkah tegap, memegang senter besar yang cahayanya langsung menusuk mata Ningsih hingga silau.
“Mbak, sedang apa malam-malam begini duduk sendirian di depan monumen mati ini?” tanya salah satu petugas dengan nada curiga yang kental.
Ningsih menunjuk ke arah sampingnya dengan panik. “Ini, Pak! Tolong Mas Dani! Dia muntah darah, harus dibawa ke rumah sakit sekarang!”
Kedua polisi itu saling berpandangan, lalu mengarahkan senter mereka ke undakan semen tempat Ningsih menunjuk. Tidak ada siapa-siapa di sana, hanya ada sebuah jaket katun hijau lusuh yang tergeletak di atas semen, berlumuran darah kering yang sudah berubah warna menjadi hitam kecokelatan, dikerubuti oleh beberapa ekor semut merah. Sepeda jengki tua yang biasanya bersandar di sana pun tidak pernah ada, melainkan hanya menyisakan kerangka besi berkarat yang sudah menyatu dengan pagar ruji stasiun trem sejak bertahun-tahun silam.
Ningsih mundur dengan tubuh bergetar hebat, menyadari bahwa jam mati kota Jakarta selama ini tidak pernah mempertemukannya dengan sesama manusia yang hidup, melainkan dengan penyesalan yang menolak dikubur oleh semen peradaban.