Ruang tunggu Stasiun Tawang nyaris lowong dari manusia malam itu.
“Sialan,” umpat Kenanga lirih. Matanya mendelik menatap papan jadwal digital besar di langit-langit peron yang berkedip menyebalkan menampilkan tulisan merah tebal di samping rute tujuannya: Berangkat — 22.14.
Butiran hujan menghantam kaca jendela stasiun secara konstan. Roda koper kulitnya bertumpu miring pada lantai tegel abu-abu, menahan kaki Kenanga yang gemetar menahan lelah akut yang menjalar sampai ke belikat.
Seminggu ini tak ubahnya rentetan kutukan bagi hidupnya.
Kursi kepala divisi yang dijanjikan direksi garmen jatuh ke tangan sepupu sang pemilik pabrik.
Pemilik kontrakan menaikkan tarif sewa kamar tanpa kompromi dua hari setelahnya.
Puncaknya terjadi empat puluh delapan jam lalu, di sebuah rumah makan padang pinggir jalan, kekasihnya selama tiga tahun belakangan mengunyah rendang dengan tenang sebelum mengucapkan kalimat pembunuh: “Kita butuh jarak.” Jarak yang belakangan Kenanga ketahui berwujud perempuan lain yang berumur lebih muda.
Jadi, ketika kereta malam menuju Surabaya itu melenggang pergi tanpa dirinya, Kenanga merasa semesta sedang sengaja menargetkan dirinya sebagai lelucon.
“Ketinggalan juga?”
Kenanga memutar tumitnya cepat. Seorang laki-laki berdiri tiga langkah di sebelahnya memegang dua cup kertas kopi instan panas dari minimarket stasiun. Perawakannya biasa saja, mungkin awal tiga puluhan, mengenakan jaket parka biru tua dengan sorot mata yang meledek sekaligus kelelahan.
“Keretanya?” tanya Kenanga ketus.
“Atau hidup secara umum,” sahut pria itu enteng.
Rongga dada Kenanga meledak menghasilkan tawa pendek yang tidak bisa dia tahan.
“Dua-duanya.”
Laki-laki itu menyodorkan salah satu cup kertas ke depan dada Kenanga.
“Tenang, tidak saya beri racun tikus. Mbak-mbak kasir tadi salah buat pesanan, malah bikin dua.”
Kenanga menyipitkan mata, menatap curiga pada cairan hitam pekat beruap tersebut.
“Kalimatmu barusan mirip taktik penculik di berita kriminal.”
“Masuk akal.”
Laki-laki itu menyeruput kopinya sendiri dari cup yang lain.
“Lihat? Saya belum kejang-kejang.”
Kenanga menerima kehangatan cup kertas itu ke dalam genggamannya.
“Terima kasih.”
“Yudha.”
“Kenanga.”
Yudha mendongakkan dagu ke arah papan pengumuman.
“Mau ke timur juga?”
“Rencananya begitu,” gumam Kenanga. “Tapi takdir berkata lain malam ini.”
Yudha meringis. “Ya, badai di jalur utara bikin semua berantakan. Kereta eksekutif berikutnya baru ada tiga jam lagi.”
“Tiga jam?”
“Kecuali kamu mau jalan kaki menyusuri rel.”
Kenanga mengembuskan napas panjang secara dramatis.
“Mungkin saya harus urus surat pindah domisili jadi warga resmi stasiun ini.”
Yudha mengedarkan pandangan ke sekeliling sudut tembok semen berlumut stasiun yang mulai bocor. “Melihat suasananya yang mirip gudang tua begini, tempat ini langsung lolos kualifikasi rumah susun bersubsidi.”
Tawa Kenanga pecah lebih keras dari yang seharusnya. Hal itu mengejutkan dirinya sendiri. Dia sudah lupa kapan terakhir kali pita suaranya menghasilkan bunyi sekosong ini tanpa beban beban pikiran pekerjaan.
Mereka berakhir duduk di bangku besi panjang yang menghadap langsung ke arah rel berkarat. Tidak ada yang berniat menghabiskan waktu tiga jam ke depan dengan saling berdiam diri berpura-pura menganggap orang di sebelahnya hanyalah patung semen.
“Jadi,” pancing Yudha, “urusan duka apa yang membuatmu nekat melakukan perjalanan malam begini?”
“Upacara pemakaman,” jawab Kenanga spontan.
Dia mendadak tersedak ludahnya sendiri.
“Bukan. Maaf. Itu terdengar terlalu kelam.”
Yudha mengedipkan mata, menurunkan cup kopinya. “Oh.”
“Maksudku pemakaman batin,” Kenanga buru-buru meralat ucapannya. “Upacara pemakaman sebuah hubungan.”
Raut ketegangan di wajah Yudha langsung mencair. “Oke, luar biasa. Saya sempat mengira percakapan ini mendadak beralih menjadi film horor.”
Kenanga tersenyum kecut, matanya menatap pantulan dirinya di permukaan kopi hitam. “Pacarku selingkuh. Dia memutus hubungan kami tiga hari lalu.”
Yudha meringis tertahan. “Baru tiga hari?”
“Iya.”
“Sakit sekali pasti.”
“Sangat.” Kenanga mengaduk kopinya dengan sedotan plastik. “Dia bilang aku ini perempuan hebat, tapi sulit dibayangkan untuk menjadi teman hidup sampai masa tua.”
Yudha mengernyitkan dahi. “Kalimat macam apa itu. Terdengar seperti penolakan lamaran kerja dari bagian personalia.”
Kenanga terbahak lagi. “Tepat! Kamu benar seratus persen!”
“Saya serius,” tegas Yudha. “Kalimat ‘kamu hebat tapi…’ itu cuma pembungkus pengecut dari laki-laki yang tidak punya nyali untuk jujur.”
Kenanga menggelengkan kepala, bersandar pada sandaran besi yang dingin. “Kamu pintar juga menganalisis urusan begini.”
“Modal pengalaman pribadi.”
“Gagal nikah?”
Yudha memundurkan punggungnya, menatap langit-langit stasiun. “Mantan tunangan.”
Kenanga terdiam. “Oh.”
“Lima tahun bersama.”
“Kenapa bisa batal?”
Yudha menahan kalimatnya sejenak. Matanya menerawang jauh menembus kaca jendela stasiun yang buram oleh air hujan.
“Dia memilih pergi bersama atasannya.”
Cuma empat kata. Pendek. Berbobot. Kenanga mendadak paham dari mana asal gumpalan kabut kelam yang sejak tadi bersembunyi di balik senyum jenaka laki-laki di sebelahnya.
“Maaf,” ujar Kenanga lirih.
Yudha mengedikkan bahu, gerakan ringang yang gagal menyembunyikan getar luka lama. “Namanya juga hidup.”
Keheningan yang nyaman mendadak membentang di antara dua manusia yang terluka itu. Suara air hujan yang mengalir dari talang seng terdengar ritmis. Di ujung peron seberang, seorang petugas kebersihan berseragam oranye menguap lebar sambil bersandar pada gagang sapu lidi.
Kenanga mengembuskan napas berat. “Kamu tahu apa yang paling menjengkelkan dari patah hati?”
“Apa?”
“Rasa malu.”
Yudha terkekeh pelan. “Tepat sekali.”
“Maksudku—kenapa kita harus menangisi orang yang jelas-jelas sudah tertawa bahagia di pelukan orang lain sejak lama?”
“Karena waktu berjalan berbeda bagi tiap orang,” kata Yudha lembut.
Kenanga menoleh, menatap garis wajah Yudha dari samping. Kalimat itu menghantam ulu hatinya, lebih dalam dari semua kalimat penghiburan yang dikirimkan teman-teman sekantornya lewat pesan singkat.
“Kamu selalu sebijak ini tiap malam?” tanya Kenanga.
“Tidak,” elak Yudha. “Biasanya saya sangat menyebalkan.”
“Oh.”
“Kamu beruntung bertemu saya di malam penundaan kereta yang membuat otak saya mendadak puitis.”
Waktu melesat dengan cara yang ganjil. Mereka membicarakan banyak hal tanpa saringan. Kota-kota pinggiran yang ingin mereka kunjungi, pekerjaan-pekerjaan korporat yang menguras kewarasan, buku-buku sastra yang mereka beli tapi hanya tamat sampai bab dua, hingga mimpi-mimpi masa muda yang terpaksa mereka kubur demi tuntutan realitas.
Kenanga baru tahu kalau Yudha punya cita-cita terpendam membuka warung bakmi jawa dengan resep rahasia kakeknya di Gunungkidul.
Sebaliknya, Yudha mengetahui kalau Kenanga dulunya gemar melukis di atas kain kanvas sebelum akhirnya menyerah karena hidup menuntutnya untuk lebih realistis menghitung angka inflasi.
“Kamu harus beli cat lagi,” cetus Yudha.
Kenanga mencibir. “Untuk apa? Melukis tidak bisa dipakai membayar tagihan listrik bulanan.”
“Tidak semua hal berharga di dunia ini harus bisa dikonversi menjadi lembaran rupiah.”
Kenanga membuang muka. Sudah lama tidak ada orang yang berbicara seberani itu padanya. Mantan kekasihnya dulu selalu menganggap hobi melukisnya sebagai kegiatan buang-buang waktu yang kekanak-kanakan.
“Lalu kamu sendiri bagaimana?” tuntut Kenanga berbalik menyerang. “Kenapa warung bakmi jawa itu cuma jadi rencana di atas kertas?”
Yudha tersenyum kecut. “Ketakutan. Pengecut.”
“Kamu kelihatan percaya diri begini.”
“Itu karena saya sudah melatih wajah saya agar kelihatan normal di depan orang asing.”
Kenanga tertawa. “Sial, itu sangat akurat dengan kondisiku sekarang.”
Tepat tengah malam, lampu utama ruang tunggu stasiun mendadak meredup. Yudha memeriksa jam tangan analognya. “Satu jam lagi.”
Kenanga mengeluh panjang penuh kepura-puraan. “Kita melewati siksaan ini dengan sangat baik.”
“Penderitaan bersama selalu berhasil membangun solidaritas batin.”
“Atau menambah trauma baru.”
“Bisa jadi.”
Di luar sana, petir menyambar membelah langit malam. Badai semakin mengamuk. Detik berikutnya—
Pet. Lampu stasiun padam total.
Keluhan masal bergema dari belasan calon penumpang yang telantar di sudut-sudut peron.
“Hebat,” desis Kenanga di tengah kegelapan. “Ini seperti simbol dari perjalanan hidupku.”
Yudha tertawa berderai. “Kamu terlalu dramatis.”
“Kita baru kenal beberapa jam, kamu belum tahu sisi burukku yang lain.”
“Benar juga.”
Lampu darurat berwarna kemerahan mulai menyala di beberapa pilar semen. Suasana berubah drastis. Segala sesuatu terasa lebih intim, lebih sempit, seolah dunia malam ini sengaja dikecilkan hanya untuk menampung dua orang asing yang bertukar pengakuan di tengah malam.
“Ada satu hal ganjil,” ucap Yudha setelah jeda beberapa menit.
“Apa?”
“Saya sebenarnya malas setengah mati melakukan perjalanan ini.”
“Kenapa?”
Yudha menundukkan kepala, memandangi bayangan sepatunya di bawah temaram lampu darurat. “Kereta ini menuju kota tempat dia tinggal sekarang.”
Gerakan tangan Kenanga yang sedang merapikan jaketnya langsung terhenti. “Oh.”
“Kami belum pernah bertemu lagi sejak hari pembatalan pernikahan itu.”
“Itu pasti berat.”
“Ya.” Yudha tertawa sumbang. “Saya hampir saja merobek tiket ini di rumah tadi.”
“Tapi kamu tetap datang ke stasiun.”
“Saya mencoba berani.”
Kenanga mengangguk pelan. “Mencoba itu sudah lebih dari cukup.”
Pandangan mereka beradu di tengah keremangan. Ada sesuatu yang bergeser di udara stasiun yang dingin. Bukan jenis romansa kilat seperti di layar bioskop, melainkan sebuah bentuk kenyamanan darurat yang tiba-tiba menyergap dua orang sebatang kara.
“Tahu tidak,” kata Yudha hati-hati, “saya mendadak merasa beruntung kamu ketinggalan kereta malam ini.”
Kenanga tersenyum, meski hatinya berdesir ganjil. “Terdengar agak jahat di telingaku.”
“Kamu tahu maksudku bukan begitu.”
Kenanga tahu. Dan kesadaran itu justru memercikkan sedikit rasa takut di dadanya. Karena dia baru mengenal pria ini beberapa jam lalu. Karena luka di hatinya masih basah, masih berdarah. Karena urusan waktu bukan hal yang bisa ditebak dengan mudah.
Namun di sisi lain, dia tidak pernah merasa dipahami sedalam ini oleh manusia lain selama bertahun-tahun belakangan.
Pengeras suara stasiun mendadak berderis nyaring, memecah keheningan peron. Kereta api Matarmaja tujuan Malang bersiap di jalur dua.
Kenanga tersentak. “Oh.”
“Oh,” ulang Yudha dengan nada serupa.
Mendadak, kedatangan kereta yang sejak tadi mereka tunggu-tunggu justru terasa seperti sebuah interupsi yang tidak diinginkan. Mereka berdiri lalu berjalan beriringan menuju pembatas peron. Angin malam yang membawa uap air langsung menyerbu pori-pori kulit. Penumpang-penumpang lain berjalan gontai dengan mata mengantuk menuju gerbang pemeriksaan tiket.
“Nah,” ujar Yudha kaku di depan pintu peron.
“Nah.”
Yudha menyembunyikan kedua tangannya ke dalam saku jaket parka. “Ini sepertinya jenis momen di mana saya harus memilih antara mengucapkan selamat tinggal selamanya atau nekat meminta nomor ponselmu.”
Kenanga tersenyum lebar, menatap langsung ke sepasang mata di hadapannya. “Aku juga sedang memikirkan hal yang sama.”
“Ya?”
“Jangan pasang muka kaget begitu.”
“Mental saya sedang tidak stabil untuk menerima kejutan,” seloroh Yudha.
Kenanga tertawa lepas. “Adil.”
Yudha meraba saku celananya, mengeluarkan ponsel berkasing hitam. “Jadi… boleh minta nomornya?”
Kenanga menerima ponsel itu, mengetikkan sebelas digit angka dengan jemarinya yang masih agak dingin. Setelah mengembalikannya, tidak ada yang langsung membalikkan badan. Peluit penjaga peron sudah ditiup panjang.
“Ini mungkin terlalu cepat,” ucap Yudha pelan, setengah berbisik di antara deru mesin kereta yang baru datang. “Tapi kalau kamu sudah kembali ke Semarang nanti…”
“Ya?”
“Mau makan bakmi jawa bersama?”
Kenanga menatap pria itu. Menatap badai yang masih mengamuk di balik atap peron stasiun. Menatap malam ganjil penuh kebetulan yang entah bagaimana telah mengangkat sebagian beban batu yang menyumbat dadanya sejak tiga hari lalu.
Perempuan itu tersenyum senyum paling lepas yang dia miliki minggu ini.
“Mau,” jawab Kenanga lembut. “Aku mau.”
Pintu gerbong terbuka. Kenanga melangkah masuk menyeret kopinya yang kini sudah kosong. Yudha tetap berdiri di luar, mematung di balik garis kuning pembatas peron.
Saat kereta mulai merayap pelan meninggalkan peron Stasiun Tawang, saku jaket Kenanga bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor tidak dikenal.
Yudha: Untuk catatan sejarah, ketinggalan kereta malam ternyata tidak selamanya jadi nasib buruk.
Kenanga menatap layar ponselnya, lalu tersenyum tanpa perlu memaksa otot wajahnya lagi. Mungkin hidup tidak selalu hancur lebur setelah badai. Mungkin kadang-kadang, semesta cuma sedang mengocok ulang kartu-kartunya untuk menyajikan kombinasi yang jauh lebih baik.