Gedung Museum Nasional di Jakarta malam itu berpendar megah di bawah sorotan lampu kristal. Perhelatan malam amal menyedot perhatian para kolektor kelas kakap. Gaun-gaun sutra bergesekan dengan lantai marmer. Musik klasik mengalun pelan, menciptakan suasana yang bagi sebagian orang adalah kemewahan, namun bagi orang lain adalah kesempatan.
Di tengah kerumunan itu, Sam bergerak tenang. Mengenakan tuksedo yang pas di tubuh, dia menyesap sampanye dengan raut wajah acuh tak acuh. Tidak ada gerak-gerik mencurigakan. Tidak ada topeng. Dia tampak seperti salah satu dari sekian banyak tamu undangan yang memiliki akses ke ruang pameran utama.
Di dalam etalase kaca antipeluru, koleksi perhiasan kerajaan peninggalan masa kolonial bersinar redup. Kalung berlian, bros zamrud, serta tiara emas yang sejarahnya lebih tua dari usia museum itu sendiri. Orang-orang di sekitar sana mengagumi benda-benda itu dengan tatapan memuja. Mereka tidak tahu bahwa tepat saat mereka terpaku pada kilau batu mulia, sistem keamanan di balik dinding sedang mengalami masa transisi.
Sembilan puluh detik.
Itulah jendela waktu yang dicuri dari sistem kamera pengawas. Sesuai jadwal kalibrasi rutin, resolusi gambar melunak. Sosok Sam menyatu dengan keremangan sudut ruang pameran. Alat penyedot vakum kecil bekerja tanpa suara, mengangkat panel kaca pelindung dengan presisi seorang dokter bedah.
Sam tidak menghancurkan apa pun. Tidak ada alarm yang melengking. Tidak ada penjaga yang tumbang. Tray beludru berisi perhiasan itu diangkat, lalu dimasukkan ke dalam tas kerja yang dibawa dengan santai.
“Permisi,” bisik seorang tamu wanita yang berpapasan dengannya.
Sam tersenyum sopan. “Silakan.”
Keberaniannya melampaui logika. Dia berjalan keluar ruangan tepat saat sistem kamera kembali tajam. Penjaga yang berdiri beberapa meter dari sana bahkan tidak melirik. Baginya, Sam hanyalah staf pameran yang sedang memindahkan inventaris.
Di luar gedung, udara Jakarta terasa lembap.
Suara sirine baru melengking sepuluh menit kemudian. Penjaga mengunci semua akses pintu. Tamu-tamu panik. Namun, Sam sudah duduk tenang di dalam mobil yang melaju menjauh dari pelataran museum.
Polisi menyisir setiap sudut. Bandara dipantau. Pelabuhan diperketat. Berbulan-bulan berlalu tanpa hasil. Perhiasan-perhiasan itu seperti menguap, hilang dari muka bumi tanpa meninggalkan satu pun jejak berlian atau kepingan emas yang bisa dilacak.
Para detektif yang menangani kasus ini berulang kali memutar rekaman CCTV. Mereka melihat seorang pria yang tahu persis letak lorong terlarang, tahu kapan kamera akan melambat, dan tahu ke mana arah pintu keluar darurat yang tidak terdata oleh staf biasa. Semuanya terlalu rapi. Semuanya terlalu tenang.
Tidak ada yang muncul ke pasar gelap. Tidak ada yang mencoba menjualnya melalui rumah lelang.
Di sebuah apartemen sunyi di pinggiran kota, Sam menatap sebuah kotak kecil di atas meja. Dia tahu berlian-berlian itu tidak lagi berbentuk kalung. Logam-logam berharganya mungkin sudah dilebur. Batu-batunya telah dilepas dan dipasang kembali ke perhiasan baru yang tidak akan pernah dikenali oleh ahli sejarah mana pun.
Dia mematikan lampu ruangan. Kota Jakarta di luar sana masih terus berdenyut, tidak sadar bahwa sejarah yang paling berharga telah berubah menjadi debu yang tidak terlihat lagi. Waktu menjadi sekutu bagi mereka yang tahu cara menunggu. Dunia sudah berhenti mencari, dan itulah kemenangan yang sebenarnya.