Hujan di kawasan Senen malam itu turun seolah-olah langit sedang melunasi utang masa lalu, menghapus segala warna dan menyisakan gemuruh yang memantul di aspal berlubang. Bau bensin campur air parit naik ke udara, menyengat hidung siapa saja yang berteduh di bawah emperan toko kain yang sudah tutup.
Tari melipat payung klasiknya yang patah satu ruji. Ia berdiri mematung di sana, mengamati air yang mengalir deras masuk ke dalam lubang selokan, menyadari bahwa ia telah menunggu begitu lama hingga lupa ke mana sebenarnya tujuan perjalanannya semula.
Lalu lelaki itu muncul dari balik tirai hujan.
Langkah kakinya tidak terburu-buru, tidak juga menunjukkan kecemasan orang yang takut basah. Ia hanya berjalan, membelah malam, lalu berhenti tepat dua langkah di samping Tari, mengisi ruang kosong di bawah kanopi toko tanpa pernah meminta izin terlebih dahulu.
Lelaki itu tidak langsung menyapa. Ia menatap jalanan raya yang sepi dengan pandangan seorang masinis yang bosan melihat rel.
“Kelihatannya tidak akan reda sampai subuh,” ucap lelaki itu tanpa menoleh.
Tari tidak segera membalas, matanya masih terpaku pada jajaran ruko seberang jalan. “Memang Jakarta selalu begini kalau sudah masuk musimnya.”
Percakapan itu seharusnya mati di sana.
Namun lelaki itu bertahan. Nama lelaki itu Arya, sebuah identitas yang Tari ketahui beberapa hari kemudian, bukan karena mereka saling pamer kartu nama, melainkan karena sebuah dompet kulit usang sempat terjatuh dari saku jaketnya saat mereka berteduh untuk kedua kalinya di tempat yang sama.
Pertemuan kedua mereka terjadi tiga hari setelah malam jahanam itu, di bawah kanopi toko kain yang sama, saat gerimis tipis bertingkah bimbang antara mau menjadi badai atau menguap jadi angin lalu.
Tari menyadari kehadiran Arya bahkan sebelum lelaki itu berdehem.
“Ketemu lagi,” kata Arya, ada nada datar yang sengaja dibuat-buat.
“Iya,” jawab Tari pendek.
Keheningan melunglai di antara mereka, tebal dan sukar ditembus, seperti asap rokok kretek yang mulai disulut Arya.
“Kamu selalu sengaja berdiri di sini setiap kali langit bocor?” Arya mengembuskan asapnya ke arah jalanan.
“Saya tidak sengaja menunggu,” Tari membetulkan letak tas cangklongnya. “Saya hanya sering terjebak.”
Arya tersenyum tipis, jenis senyuman yang langsung lenyap sebelum sempat mencapai matanya. “Semua orang di kota ini sebenarnya hanya sedang terjebak, Tari. Bedanya, ada yang menikmati kurungan, ada yang pura-pura berontak.”
Kalimat itu menancap di kepala Tari, berputar-putar seperti kaset kusut sepanjang minggu.
Pelan-pelan, kehadiran badai tidak lagi menjadi penentu utama pertemuan mereka. Mereka mulai berpapasan di tempat-tempat yang tidak masuk akal. Di warung bubur kacang ijo dekat stasiun yang hanya buka menjelang fajar, atau di atas jembatan penyeberangan orang yang sisinya dipenuhi papan reklame celana dalam.
Mereka tidak pernah berjanji lewat pesan singkat. Jakarta yang mengatur ketidaksengajaan itu dengan ketepatan yang mengerikan.
Tari mulai menghafal detail-detail kecil tentang Arya dari potongan-potongan kebiasaan lelaki itu. Arya tipe manusia yang tahu kapan warna lampu jalanan berubah dari kuning redup menjadi putih pucat menjelang jam tiga pagi.
Arya pernah berbisik bahwa cuaca di Jakarta sebenarnya adalah sebuah mesin waktu, ia sanggup memanggil kembali ingatan yang sudah telanjur dikubur di bawah beton-beton jalan tol.
Suatu malam, mereka berjalan kaki menyusuri trotoar sepanjang jalur rel kereta. Hujan sudah benar-benar mampus, meninggalkan sisa air yang memantulkan lampu merkuri secara acak di atas genangan.
Tari mendapati dirinya berbicara jauh lebih banyak daripada biasanya, menceritakan hal-hal sepele yang biasanya ia simpan sendiri di dalam lemari kosnya. Tentang payung-payung hitamnya yang selalu hilang di dalam bus kota, tentang seleranya yang lebih menyukai gerbong kereta ekonomi yang pengap ketimbang kelas eksekutif yang dingin, hingga tentang perasaannya yang selalu merasa berjalan di belakang bayangannya sendiri.
Arya mendengarkan tanpa sekali pun memotong pembicaraan. Ia mendengarkan seperti seorang hakim yang sedang mempelajari berkas perkara yang tidak membutuhkan putusan hukuman.
Mereka mendadak menghentikan langkah di dekat pagar pembatas rel, tempat lampu-lampu kota pecah menjadi ribuan pendar di atas permukaan air selokan besar.
Arya bersandar pada besi pembatas yang dingin. “Kamu bicara seperti orang yang sedang mengemas koper untuk pergi jauh.”
Tari menatap rel baja di bawah sana. “Saya bahkan tidak tahu apakah saya pernah benar-benar menetap di suatu tempat.”
“Itu dua hal yang berbeda,” suara Arya beralih menjadi sangat pelan, hampir tenggelam oleh suara klakson kereta barang dari kejauhan.
Tari menoleh, menatap wajah Arya dari samping. Lelaki itu masih enggan membalas tatapannya.
“Maksudmu?”
“Ada orang yang sibuk angkat kaki,” Arya membuang puntung rokoknya ke dalam air. “Dan ada orang yang sebenarnya belum sadar kalau dia sudah sampai di tempat tujuan.”
Kalimat itu mengubah tekanan udara di sekitar mereka secara mendadak.
Malam berikutnya, angin bertiup kencang, menggoyang papan-papan seng proyek bangunan di pinggir jalan hingga menimbulkan suara berisik yang mengganggu kuping. Arya sudah berdiri di atas jembatan penyeberangan saat Tari tiba.
Tari sempat ragu untuk melangkah mendekat.
Namun kakinya tetap bergerak maju.
Arya tidak membalikkan badan saat langkah sandal Tari mendekat. “Kupikir kamu memilih tidur malam ini.”
“Saya hampir memutuskan begitu,” aku Tari jujur.
Kejujuran itu menggantung di udara, terasa ganjil dan telanjang. Arya mengangguk sekali, menerima jawaban itu sebagai sebuah kepastian.
“Tari, kamu pernah merasa sedang menunggu sesuatu yang tidak memiliki nama?” tanya Arya tiba-tiba, matanya menatap tajam ke arah lokomotif yang sedang langsir di bawah jembatan.
Tari menghela napas panjang, membiarkan angin malam mengacak-acak rambutnya. “Sering.”
“Rasanya sepi sekali, bukan?”
“Iya,” Tari berbisik. “Tapi rasa sepi itu agak berkurang kalau tahu ada orang lain yang juga sedang berdiri melamun di dekat kita.”
Arya tidak membalas lagi.
Kota di bawah mereka terus menyala, acuh tak acuh pada dua manusia yang sedang menakar kadar kesepian masing-masing di atas jembatan tua.
Konsistensi itu pelan-pelan menjelma menjadi sesuatu yang menakutkan bagi Tari, karena sesuatu yang ajek di Jakarta biasanya menyimpan sebuah jebakan buntu.
Hingga malam itu tiba, malam yang terasa lebih panjang dari seluruh malam yang pernah mereka lalui bersama. Angin mati total. Air kali di bawah jembatan tampak hitam, pekat, menyerupai tumpahan tinta gurita.
Arya berbicara dengan nada yang sangat rendah, hampir seperti orang yang sedang meracau dalam tidur.
“Saya tidak pernah menyangka akan berakhir begini di sini,” kata Arya.
“Berakhir bagaimana?” Tari menyipitkan mata.
Arya membalikkan badannya penuh, menghadapi Tari, lalu merengkuh tas kanvas yang sejak tadi ia peluk di dada. Ia membuka ritsletingnya perlahan, memperlihatkan selembar surat kabar kriminal cetakan dua tahun lalu yang sudah menguning dan rapuh. Di halaman utama, terpampang foto wajah Arya sendiri dengan tajuk berita: Buron Kasus Tabrak Lari Senen Tewas Gantung Diri di Jembatan Penyeberangan.
Jantung Tari berhenti berdetak, matanya menatap kertas itu lalu beralih ke wajah Arya yang kini tampak semakin memudar di bawah sorot lampu merkuri.
“Saya hanya ingin ada satu orang yang melihat saya bukan sebagai sebuah berita acara kepolisian,” ucap Arya lirih, melangkah mundur ke arah pagar pembatas jembatan.
Tari hendak berteriak, hendak mengulurkan tangannya untuk mencengkeram jaket hijau pudar milik Arya, namun sebuah suara peluit keras dari bawah jembatan mendadak membuyarkan seluruh pandangannya. Seorang petugas keamanan jalur kereta api berbaju biru malam mendadak sudah berdiri di samping Tari, menyorotkan lampu senter swat-nya ke arah pagar besi.
“Mbak! Jangan berdiri terlalu dekat pagar, berbahaya! Sedang apa sendirian di atas sini jam tiga pagi?” bentak petugas itu dengan logat batak yang kental.
Tari menoleh ke sampingnya dengan napas tersengal-sengal. Tidak ada Arya. Tidak ada tas kanvas. Hanya ada sebatang rokok kretek yang masih menyala tergeletak di atas lantai semen jembatan, asapnya naik perlahan seolah-olah baru saja ditinggalkan oleh jemari pemiliknya sembilan detik yang lalu.