Pukul dua belas lewat lewat sedikit. Kota Jakarta sedang mati suri, terjebak dalam kebisuan yang sudah tertebak. Detektif Mako merenung di balik meja kerjanya yang berantakan, menatap berkas-berkas perkara yang berantakan seperti susunan kartu yang akan runtuh. Tiga orang hilang dalam sepuluh hari. Lokasinya berjauhan. Namun, ada satu benang merah yang membuat bulu kuduknya berdiri. Saksi mata melihat para korban berbicara dengan seseorang yang memiliki rupa persis sama dengan mereka sebelum lenyap begitu saja.
Mako tidak percaya kebetulan. Baginya, kebetulan hanyalah nama lain bagi pola yang belum terurai. Ia menyeruput kopi yang sudah dingin, lalu meraih radio panggil yang berdesis.
Laporan masuk. Keributan di sebuah rumah susun di kawasan Senen. Si penelepon terdengar panik, mengoceh tentang keberadaan dua orang yang sama persis di dalam kamarnya.
Mako melajukan mobilnya membelah gelapnya jalanan. Gedung tua yang ia tuju tampak rapuh, seolah bertahan berdiri hanya karena enggan untuk rubuh. Lampu lorong lantai tiga berkedip, nyaris padam. Udara di sana terasa pengap, jauh lebih berat daripada yang seharusnya.
Pintu kamar nomor 3C terbuka sedikit. Mako mengucap salam, namun tidak ada jawaban. Keadaan di dalam berantakan, bukan karena perkelahian hebat, melainkan seperti tempat yang ditinggalkan pemiliknya di tengah kalimat. Kursi terbalik. Cangkir kopi tumpah ke atas meja dapur, meninggalkan noda hitam yang mengering. Televisi masih menyala, menampilkan layar penuh semut yang berdesis.
Di tengah ruangan, seorang pria duduk diam. Tatapannya tertuju lurus pada Mako, seolah pria itu sudah menunggu kedatangannya sejak lama.
Mako terkesiap. Ia menatap wajah itu. Wajah itu miliknya.
Bukan hanya mirip. Pria itu memiliki bekas luka tipis di atas alis kiri, luka yang didapat Mako saat menangani kasus penangkapan bandar narkoba lima tahun silam. Postur tubuhnya sama persis, meski ada jeda sepersesekian detik dalam gerak-geriknya, persis seperti bayangan yang telat menangkap cahaya.
Tangan Mako refleks menyentuh pinggang, mencari senjata. Namun, pria di kursi itu mengangkat telapak tangan dengan tenang.
“Tidak perlu,” ucapnya lirih.
Mako tidak menyingkirkan tangannya. Ia justru bertanya dengan suara parau. “Siapa kau?”
Pria itu memiringkan kepala. “Aku versi yang memutuskan untuk tinggal.”
Mako mendengus. “Jawaban itu tidak masuk akal.”
“Tentu saja. Karena kau sudah pernah berada di sini sebelumnya. Kau hanya lupa.”
Pria itu menatap lorong gelap di luar pintu, lalu kembali menatap Mako. Segala sesuatu tentang situasi ini terasa salah. Simetri geraknya, presisi kata-katanya, bahkan aura yang ia pancarkan terasa menolak untuk diklasifikasikan ke dalam nalar polisi manapun.
“Tiga orang hilang,” desis Mako. “Semua terkait dengan laporan kembaran. Semua korban lenyap setelah terlihat berbicara dengan diri mereka sendiri. Kau pelakunya?”
Pria itu mengangguk pelan. “Bukan pelaku. Aku sekadar konsekuensi.”
Lampu kamar berkedip sekali lagi. Saat cahaya kembali normal, ekspresi pria itu berubah. Ia tampak lebih lelah, seolah waktu telah bergeser secara paksa di sekelilingnya.
“Setiap pilihan yang kau ambil memiliki percabangan,” pria itu menjelaskan. “Sebagian besar percabangan itu runtuh dengan sendirinya. Tapi ada sebagian yang terus berlanjut tanpa kehadiranmu. Aku adalah apa yang terjadi ketika satu versi dirimu menolak untuk berhenti pada waktunya.”
Mako merasakan hawa dingin menusuk dada. Ia menolak mempercayai omong kosong ini. “Realitas tidak bekerja seperti itu.”
Pria itu tersenyum tipis. “Itu asumsimu. Asumsi tidak pernah sama dengan kenyataan.”
Ada suara langkah kaki di lorong. Mako menoleh cepat, namun tidak ada siapa-siapa. Ketika ia berpaling kembali ke dalam ruangan, pria itu sudah berada lebih dekat, padahal ia tidak melihatnya melangkah.
“Aku tidak datang untuk mencelakaimu,” ujar pria itu lembut. “Aku datang karena kau memanggilku.”
“Aku tidak memanggil siapa pun.”
Pria itu menatap Mako dengan sorot mata yang mengandung kesedihan dalam. “Kau memanggil. Bukan dengan kata-kata.”
Lampu kembali berkedip. Kali ini, saat cahaya menstabilkan diri, ada dua pria yang duduk di sana. Keduanya memiliki rupa yang identik. Pria kedua tidak muncul dari cermin atau bayangan. Ia sekadar ada di sana, seolah ia selalu ada namun tidak terlihat oleh mata Mako.
Mako melangkah mundur. “Ini mustahil.”
Pria pertama mengangguk. “Ya. Itu asumsi pertamamu tadi.”
Pria kedua bersuara untuk pertama kalinya. Suaranya lebih halus, terdengar jauh. “Pergilah sebelum ruang ini menyesuaikan diri kembali.”
“Menyesuaikan dengan apa?” bentak Mako.
“Dengan versi dirimu yang sudah memutuskan untuk tinggal.”
Perasaan aneh menghujam kesadaran Mako. Ruangan itu tampak bergeser secara metafisik. Sudut-sudut dinding tidak lagi sejajar. Ruang itu seolah disusun ulang dari kepingan ingatan, bukan dari struktur batu dan semen.
Tiba-tiba, Mako teringat sesuatu. Ada celah dalam hidupnya yang selama ini ia hindari untuk diingat. Satu malam yang tidak bisa ia jelaskan. Sebuah panggilan telepon yang pernah ia jawab tanpa tahu siapa pengirimnya.
“Kau pernah menangani kasus ini sebelumnya,” ujar pria pertama lembut. “Dan kau tidak pernah keluar dari ruangan ini.”
Napas Mako tercekat.
“Kau memutuskan untuk tinggal dan memahami siapa kami,” sambung pria kedua. “Keputusan itu menciptakan kami. Tapi kau juga meninggalkan satu versi dirimu yang lain, dan versi itulah yang akhirnya kembali padamu.”
Lantai di bawah kakinya seolah kehilangan pijakan. Ruang itu bukan lagi tempat kejadian perkara. Ruangan itu menjadi tumpukan versi waktu yang berbeda, saling menimpa tanpa sempurna.
“Kau masih memiliki pilihan,” pria pertama memberi isyarat ke arah pintu. “Pergi sekarang, maka versi ini akan runtuh. Tetap tinggal, maka kau menjadi konsisten dengan apa yang sudah terjadi.”
Mako menatap kedua bayangan dirinya. Ia sadar, tidak ada penjelasan yang bisa dipercaya karena keduanya menuntut satu syarat yang sulit diterima akal: jati diri bukanlah sesuatu yang tunggal.
Di kejauhan, sirine mobil polisi terdengar melintas. Mereka tidak menyadari keretakan realitas yang terjadi di balik pintu apartemen tua itu.
Mako menurunkan senjatanya perlahan.
Untuk pertama kalinya sejak ia tiba, ia tidak bisa mengingat versi mana dari dirinya yang tadi pertama kali mencabut pistol itu.