Kopi susu di tangan Nessa mendingin. Uapnya berhenti mengepul, menyisakan jejak putih samar di permukaan cangkir keramik. Di luar, rintik hujan membasahi kaca jendela warung kopi kecil bernama Kedai Akar, menciptakan garis-garis abstrak yang merusak pemandangan jalanan. Dia terdiam, membiarkan pikirannya hanyut bersama air yang jatuh ke tanah.
“Tempat kosong? Boleh aku duduk?”
Nessa mendongak. Seorang pria berdiri membawa buku catatan lusuh. Mata pria tersebut memiliki binar yang tenang, serupa air kolam setelah hujan reda.
“Silakan,” jawab Nessa singkat.
Pria itu memperkenalkan diri sebagai Indra. Dia menulis tentang perjalanan, tentang hal-hal yang sering luput dari penglihatan orang kebanyakan. Nessa melukis. Dia menghabiskan waktu menangkap warna-warna yang berubah setiap detik di atas kanvas. Mereka bicara tentang garis, tentang kata, tentang dunia yang terasa terlalu sempit untuk keinginan mereka.
Waktu seakan melarikan diri tanpa permisi. Awan hitam pecah, menyisakan semburat jingga di ujung cakrawala. Harapan baru muncul di dada Nessa, mekar seperti bunga liar yang tumbuh setelah badai.
“Aku punya keinginan lama,” ucap Nessa. “Melihat hujan bintang jatuh.”
Indra tersenyum lebar. Matanya menyipit, menampilkan gurat kebahagiaan yang jujur. “Kebetulan sekali. Malam ini langit punya janji. Ayo ikut.”
Nessa mengangguk pelan. Jantungnya berdegup tidak karuan.
Mereka mendaki bukit belakang desa ketika malam benar-benar turun. Langit terbuka lebar, memamerkan panggung megah yang dipenuhi cahaya jatuh. Di atas bukit, di antara rumput yang masih basah, mereka mendekap satu sama lain. Cahaya meteor membelah kegelapan, meninggalkan jejak api perak di atas kepala mereka.
“Cinta datang tanpa undangan,” bisik Nessa.
Indra menggenggam jemari Nessa. Jemarinya kasar, penuh bekas tinta dan debu jalanan.
“Terkadang, pertemuan menjadi bagian dari rencana semesta,” jawab Indra.
Di bawah langit yang sedang menari, mereka merasa kecil, namun utuh. Kisah mereka dimulai dari ketidaksengajaan, dari pertemuan singkat di antara sisa kopi dan hujan yang mereda. Mereka membiarkan malam itu menyimpan rahasia tentang dua jiwa yang baru saja menemukan rumah di mata orang asing.