Kereta dari Jakarta sampai di Ponorogo sore hari, dan Zarkasyi turun dengan tas kain yang isinya cuma beberapa map dan satu buku catatan.
Rapat di Departemen Agama sudah selesai dua hari sebelumnya. Konsep kurikulum yang ia bawa, kalah suara dari konsep yang diajukan Sigit. Ia tidak protes waktu keputusan itu dibacakan. Ia cuma mengumpulkan kertas-kertasnya, memasukkan ke tas, dan pamit lebih dulu dari yang lain.
Di stasiun, tidak ada yang menjemput. Ia jalan kaki ke arah selatan, ke dusun yang dulu, kata orang-orang tua, disebut nggon kotor. Tempat orang main judi, tempat maling singgah, tempat yang jarang disebut orang tanpa nada rendah.
Ia berhenti di sebidang tanah kosong, berdiri lama di situ sebelum akhirnya berjongkok, meraup segenggam tanahnya, membiarkannya jatuh lagi dari sela jarinya.
Bangunan pertama cuma satu petak, atapnya dari seng, dindingnya belum semuanya rapat. Santri-santri awal tidur berdesakan, sebagian di lantai, sebagian di ranjang bertingkat yang kayunya masih berbau gergaji.
Tidak ada papan tata tertib dipaku di dinding. Zarkasyi selalu bilang, aturan yang ditempel di dinding gampang dilupakan begitu orang berjalan lewat. Aturan harus masuk ke kepala, bukan cuma ke mata.
Setiap awal dan akhir semester, ia berdiri di depan santri-santrinya, bicara berjam-jam, berhenti cuma untuk salat dan makan, lalu bicara lagi. Santri-santri baru biasanya mengantuk di jam-jam awal, lalu entah kenapa, di jam-jam berikutnya, mereka lupa mengantuk.
Sesudah pidato itu selesai, giliran santri-santri senior yang bicara di kamar masing-masing, mengulang apa yang sudah disampaikan, dengan kata-kata mereka sendiri. Tidak ada yang mencatatnya jadi buku pedoman. Yang diinginkan Zarkasyi bukan hafalan, tapi kebiasaan.
Lonceng berbunyi jam empat pagi, lalu lagi jam setengah lima, lalu berkali-kali sepanjang hari, menandai kelas, menandai olahraga, menandai giliran mandi, sampai jam sepuluh malam ketika lampu-lampu asrama dipadamkan satu per satu.
Sore itu, lapangan sepak bola penuh. Santri melawan ustadz, pertandingan yang selalu ditunggu tiap bulan.
Seorang ustadz yang terkenal galak di kelas, suka menjewer kalau ada santri telat setoran hafalan, menguasai bola di sisi kanan lapangan. Seorang santri kelas dua berlari mendekat, tidak menyodorkan kaki sopan-sopan seperti biasanya orang menghormati atasan, tapi meluncur, sliding tackle yang agak keras, membuat ustadz itu jatuh terduduk di rumput.
Peluit ditiup. Tidak ada kartu, tidak ada teguran panjang. Ustadz itu bangkit, menepuk celananya yang kotor, lalu tersenyum, menepuk kepala santri yang tadi menjatuhkannya.
“Bagus,” katanya, “tapi kurang cepat.”
Malam sebelum pemilihan pengurus baru, santri-santri berkumpul di aula, membicarakan siapa yang layak jadi penyelia muhadarah, siapa yang cocok masuk Qismul Amn.
Tidak ada guru yang menentukan dari atas. Nama-nama diajukan dari lantai, diperdebatkan, kadang dengan suara keras, kadang dengan tawa, sampai akhirnya disepakati lewat suara terbanyak.
Zarkasyi duduk di pojok aula, tidak ikut bicara, cuma mendengarkan. Sesekali ia mencatat sesuatu di buku kecilnya, entah apa, tidak pernah ditunjukkannya ke siapa pun.
Bertahun-tahun kemudian, waktu Gontor sudah punya banyak gedung, listrik sendiri, dan santri dari berbagai daerah yang bahasa sehari-harinya campuran Arab dan Inggris, tanah kosong tempat Zarkasyi dulu berjongkok dan meraup tanah sudah jadi lapangan basket.
Anak-anak yang bermain di sana tidak tahu persis di titik mana dulu tanah itu diraup, dan mungkin memang tidak perlu tahu.
Yang mereka tahu cuma satu kalimat yang terus diulang dari kelas ke kelas, dari senior ke junior, tanpa pernah ditulis di dinding mana pun:
Kami tidak memberimu ilmu. Kami memberimu alat untuk mencarinya sendiri.