Jan sampai di kampung itu sore hari, sepatunya sudah kotor dari jalan setapak yang becek, tasnya berisi buku catatan yang halamannya belum terisi satu pun.
Seorang kuli perkebunan, umurnya mungkin sudah lewat lima puluh, sedang duduk di depan gubuknya, memilin tembakau ke dalam kertas rokok, tidak berhenti walau ada orang asing berdiri di dekat pagar bambunya.
“Boleh saya duduk?” tanya Jan, dalam bahasa Jawa yang masih kaku.
Laki-laki itu bergeser sedikit, tidak menjawab, tapi ruang di sampingnya jadi lebih lapang.
Mereka duduk lama tanpa banyak bicara. Jan mencatat apa saja yang terlihat: berapa karung yang harus dipanggul sekali angkut, jam berapa mulai kerja, jam berapa pulang, berapa upahnya sehari, dipotong berapa kalau kerjanya kurang cepat.
“Sudah dari kapan kerja di sini, Pak?”
“Dari bapak saya masih hidup.”
“Bapak Anda juga di sini?”
Laki-laki itu mengangguk, menyalakan rokoknya, tidak menambahkan apa-apa lagi.
Bertahun-tahun Jan kembali ke kampung-kampung serupa, di daerah yang berbeda-beda, mencatat hal yang sama. Buruh perkebunan yang berpindah dari satu musim tanam ke musim berikutnya tanpa pernah punya tanah sendiri. Tukang becak yang menunggu penumpang dari subuh sampai lewat tengah malam. Pekerja harian yang tidak pernah tahu apakah besok masih ada kerjaan untuknya.
Ia belajar mengukur waktu dari cara orang-orang itu mengukurnya sendiri, bukan dari jam tangan. Musim panen. Musim paceklik. Hari gajian, hari sebelum gajian, hari sesudah gajian ketika uang sudah habis lagi.
Di catatannya, ia menulis satu kalimat yang terus diulangnya sendiri bertahun-tahun kemudian, sampai jadi semacam pertanyaan yang tidak pernah selesai dijawab: siapa yang mengajarkan orang-orang ini bahwa memang begitulah seharusnya hidup mereka.
Pulang ke Belanda, ia membawa buku catatan yang sudah penuh, sampulnya lecek karena kena hujan beberapa kali, halamannya berlipat-lipat di beberapa bagian.
Di rumahnya di Amsterdam, ia meletakkan buku-buku catatan itu di rak, berjajar menurut tahun, dan mulai menulis ulang semuanya dalam bahasa yang bisa dibaca orang-orang di negerinya sendiri.
Ia tidak menulis tentang kemerdekaan. Ia menulis tentang apa yang tetap sama sesudahnya.
Kolonialisme, tulisnya, tidak selesai ketika bendera diturunkan. Ia berpindah rumah, dari perusahaan dagang ke sistem upah, dari tuan tanah ke pemilik modal yang wajahnya lebih ramah tapi caranya tidak jauh berbeda.
Dan rasisme, tulisnya lagi, jarang datang sebagai penghinaan langsung. Lebih sering ia datang sebagai rasa normal. Normal kalau ada yang harus lelah seumur hidup. Normal kalau ada yang tidak pernah ditanya pendapatnya soal upahnya sendiri.
Bukunya terbit puluhan tahun kemudian, sesudah rambutnya sudah putih semua, sesudah banyak dari orang-orang yang dulu ia wawancarai sudah lama meninggal.
Di halaman pertama, ia menuliskan nama-nama kampung yang pernah ia tinggali, satu per satu, seperti orang membuat daftar utang yang belum terbayar.
Buku itu diterjemahkan, dicetak, diletakkan di rak-rak toko buku di negeri yang dulu ia datangi dengan sepatu kotor dan buku catatan kosong.
Di salah satu gubuk yang dulu pernah ia singgahi, kalau ada yang mau mencarinya sekarang, mungkin masih ada anak dari kuli yang dulu ditanyainya, memilin tembakau yang sama, duduk di depan rumah yang sama, menunggu musim panen yang sama seperti bapaknya dulu.