Sensor Algoritma yang Membunuh Ruang Edukasi

Hujan turun di luar, menyapu debu-debu yang hinggap di kaca jendela, seolah ia ingin menghapus sesuatu dari dunia ini. Di dalam, sunyi yang menjepit, Manomi terdiam. Ia ingat masa mudanya yang gersang, sewaktu ia menginjak usia dua puluh satu tahun dan memasuki gerbang perkawinan tanpa tahu apa-apa. Suaminya menghampiri, malam demi malam, dan ia tetap menjadi orang asing di dalam tubuhnya sendiri. Tidak ada guru biologi di desa terpencil Kerala yang pernah memberinya kunci untuk membuka pintu itu. Hanya sepatah kata, lalu senyap. Ia tidak tahu arti persetujuan. Ia tidak tahu bahwa pemerkosaan dalam nikah adalah sebuah kenyataan yang bisa menghancurkan martabat. Tiga bulan kemudian, ia angkat kaki. Ibunya yang berani mengambil langkah untuk menyelamatkannya.

Tahun-tahun berlalu, ia menetap di ibu kota, menggambar rancangan kota, namun jiwanya masih mencari jawaban. Ia bertemu tulisan Leeza Mangaldas di dunia maya. Pesan itu sederhana namun tajam. Seks haruslah didasari persetujuan, aman, dan memberi kenikmatan. Sesuatu yang seharusnya wajar, namun di negeri yang memuja tabu, ia menjadi sebuah wahyu.

Leeza tidak sendirian. Ia menjadi mercusuar bagi jutaan orang. Mereka yang mencari pencerahan di antara sela-sela sensor yang menghimpit. Namun, mesin-mesin platform media sosial kini bertindak sebagai hakim yang tuli. Mereka memblokir, mereka menyembunyikan, mereka melabeli pendidikan sebagai pornografi dengan kecerobohan yang memuakkan.

Pikirkan ini. Seseorang mengunggah gambar sejarah seni Prancis abad ke-19, sebuah pinggul telanjang yang melukiskan keindahan zaman, dan mesin itu memblokirnya. Mengapa? Karena algoritma mereka tidak punya mata untuk melihat seni, ia hanya punya mata untuk memburu tubuh yang dianggap kotor. Meta bersembunyi di balik kebijakan seragam, seolah konteks tidak punya tempat di bawah kekuasaan mereka.

Tisha Gopalakrishnan, yang mengelola Women First Digital, sering terjebak dalam badai yang sama. Laman edukasi tentang aborsi yang aman dihilangkan tanpa jejak. Mereka harus memohon, meminta bantuan organisasi hak asasi manusia, sekadar untuk mengembalikan hak mereka berbagi informasi. Kebijakan platform sering kali merupakan cerminan dari kegaduhan politik di Washington, jauh dari denyut nadi kehidupan nyata di India atau Asia Tenggara.

Para pencipta konten kini memilih untuk membungkam diri sendiri. Mereka menggunakan kode bahasa. Mereka mengganti gambar grafis dengan abstrak yang samar. Mereka menari di atas tali yang ditarik kencang oleh ketakutan akan sensor. Jika mereka tidak patuh, konten mereka tenggelam. Jika mereka membangkang, mereka lenyap.

Di luar sana, jutaan anak muda di Asia tumbuh dalam ketidaktahuan. Mereka tidak mendapat pendidikan formal, dan kini pintu gerbang informasi digital pun ditutup rapat. Mereka berdiri di tepi jurang, takut salah melangkah, takut tidak tahu cara melindungi diri dari pelecehan atau bahaya kesehatan. Para penguasa platform telah menjadi penjaga gerbang yang sewenang-wenang. Mereka memegang kunci, namun mereka membuangnya ke laut.

Natasha Vijayalaxmi pernah merasa terasing. Tubuhnya sering dijadikan objek, dipandang dengan nafsu yang merendahkan. Namun, di dunia maya, ia menemukan suara-suara yang memberinya ruang. Ia belajar mencintai dirinya sendiri kembali. Ia belajar bahwa seks tidak selalu berwajah kelam. Ketika ia mendengar tentang sensor yang kini melanda, ia merasa amarah yang wajar.

Manomi, yang kini berusia tiga puluh dua tahun, bertanya dengan getir. Bagaimana orang-orang seperti dirinya akan tahu tentang tubuh mereka sendiri jika para pendidik ini dilarang bicara? Pertanyaan itu menggantung di udara, sama sunyinya dengan hujan yang kini mereda, menyisakan tanah basah dan rasa getir yang tak kunjung hilang.

Bagikan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Plus Exclusive Smilies 3.0 Kaskus-style Large Kaskus-style Small Standard Smilies
:welcome
:terimakasih
:tepuktangan
:tepar
:sudahkuduga
:siapgan
:semangat
:sale
:pertamax
:pencet
:paket
:nyantai
:nulisah
:monggo
:merdeka
:kangen
:jones
:insomnia
:hargapas
:goyang
:garudadidadaku
:gagalpaham
:gaasik
:dor
:cih
:ceyem
:butuhpacar
:bokek
:belumtidur
:batik
:banggapakebatik
:ayoindonesia
:ngamuk
:lemparbata
:keepposting
:hansip
:cendolgan
:bigkiss
:xmas
:wow
:wkwkwk
:wakaka
:ultahhore
:ultah
:travel
:toast
:telolet4
:telolet3
:telolet2
:telolet1
:takut
:sup:
:sup2
:sorry
:shakehand2
:selamat
:salamkenal
:salaman
:salahkamar
:request
:repost:
:repost2
:repost
:recsel
:rate5
:peluk
:omtelolet
:nyepi
:nosara
:nohope
:ngakak
:ngacir2
:ngacir
:najis
:motret
:mewek
:matabelo
:marigerak
:marah
:malu
:maafaganwati
:maafagan
:lehuga
:kts:
:kr
:kiss
:kimpoi
:ketupat
:kbgt:
:kacau:
:jrb:
:imlek2
:imlek
:ilovekaskus
:iloveindonesia
:hoax
:hn
:hammer
:hai
:games
:entahlah
:dp
:cystg
:cool
:coblos
:cipok
:cendolbig
:cendol
:cekpm
:cd:
:cd
:catchemall:
:bola
:bingung
:bigo:
:betty
:berduka
:bedug
:batabig
:babygirl
:babyboy1
:babyboy
:angpau
:angel
:2thumbup
:1thumbup
:malu2
:siul
:newyear
:alay
:hoax2
:hope
:hotrit
:lapar
:mahongintip
:mewek2
:nerd
:pertamax
:rate
:sungkem
:supermaho
:thanks2
:tkp
:Yb
:takuts
:sundulgans
:shutups
:reposts
:ngakaks
:najiss
:malus
:mads
:kisss
:ilovekaskuss
:iloveindonesias
:hammers
:cendols
:cendolb
:cekpms
:capedes
:bookmarks
:bingungs
:bettys
:berdukas
:berbusas
:batas
:bata
:armys
:addfriends
:)b
;)
:wowcantik
:tv
:thumbup
:thumbdown
:think:
:tai
:tabrakan:
:table:
:sun:
:siul
:shutup:
:shakehand
:rose:
:rolleyes
:ricebowl:
:rainbow:
:rain:
:present:
:Phone:
:Peace:
:Paws:
:p
:Onigiri
:o
:norose:
:nohope:
:ngacir:
:moon:
:metal
:medicine:
:matabelo:
:malu:
:mad
:linux2:
:linux1:
:kucing:
:kissmouth
:kissing:
:kimpoi:
:kagets:
:hi:
:heart:
:hammer:
:gila:
:genit
:fuck:
:fuck3:
:fuck2:
:frog:
:fm:
:flower:
:exclamati
:email
:eek
:doctor
:D
:cool:
:confused
:coffee:
:clock
:ck
:buldog
:breakheart
:bingung:
:bikini
:berbusa
:beer:
:baby:
:babi:
:army
:anjing:
:angel:
:amazed:
:afro:
:)
:(