Sebelum Mesin Ketik Berhenti

Kacamatanya tebal, bingkainya hitam, sering melorot ke ujung hidung setiap kali ia menunduk membaca naskah. Tubuhnya kurus, bajunya selalu terlihat sedikit kebesaran di bahu. Di ruang redaksi Harian Rakyat, mesin ketik berbunyi dari segala penjuru, tapi mejanya sendiri selalu yang paling sunyi. Ia menulis dengan pelan, membaca ulang tiap kalimat, mencoret satu dua kata sebelum menyerahkannya ke tukang set.

Namanya Njoto. Wakil ketua kedua partai. Satu dari tiga nama yang biasa disebut orang dalam satu tarikan napas: Aidit, Njoto, Lukman.

Di malam-malam tertentu, di rumah kawan atau di acara-acara Lekra, ia meletakkan pena dan mengangkat saksofon. Jarinya yang biasa memegang pulpen tipis, ternyata juga hafal letak kunci-kunci logam itu tanpa perlu melihat. Ia bisa berpindah dari nada ke nada tanpa jeda yang kentara, seperti orang yang sudah lama berdamai dengan dua dunia yang berbeda.

Lekra sendiri lahir dari mejanya. Sebuah organisasi kebudayaan, katanya, tempat sastrawan dan seniman berkumpul. Rapat-rapatnya panjang, diskusinya berapi-api, dan nama-nama yang tidak sejalan dengan garis partai, perlahan menghilang dari panggung dan dari kolom budaya di koran-koran.

Tahun 1950-an, ia dan Aidit termasuk barisan muda yang naik ke pucuk pimpinan, menggantikan generasi yang lebih tua. Peristiwa 1948, yang mengubur ribuan orang, jarang lagi disebut di podium-podium partai. Kalaupun disebut, sudah dengan nada lain, sudah dengan penjelasan lain.

Tahun 1960-an, partai itu menjadi kekuatan keempat terbesar di negeri ini. Presiden punya gagasan sendiri soal bagaimana tiga arus, nasionalis, agama, dan komunis, bisa berjalan berdampingan dalam satu republik. Di bawah gagasan itu, partai Njoto mendapat ruang yang lebih lapang dari sebelumnya.

Ruang itu tidak bertahan lama.

Akhir September 1965, kabar yang datang dari Jakarta membuat kota-kota lain sibuk mencari kabar lebih lanjut. Aidit berangkat ke Jawa Tengah, berpindah dari Semarang ke Solo, lalu ke Boyolali, bersembunyi di rumah-rumah yang dikenalnya. Ia ditemukan di sana. Ditembak di dekat sebuah sumur tua, dan ke sumur itu pula jasadnya diturunkan.

Njoto tetap di Jakarta.

Sebagai menteri, ia masih menghadiri sidang kabinet, duduk di antara pejabat-pejabat lain seperti hari-hari sebelumnya. Ia pernah menulis pidato-pidato kenegaraan, dan merasa kedekatan itu cukup untuk melindunginya. Ia tidak pergi. Tidak bersembunyi.

Beberapa minggu kemudian, ia ditangkap.

Tentang hari-hari terakhirnya, catatan yang beredar tidak banyak, dan yang sedikit itu pun tidak semuanya bisa dipastikan. Ada yang menyebut, menjelang ajalnya, ia sempat melantunkan bait-bait yang biasa dinyanyikan di rapat-rapat partai, pelan, seperti orang menggumamkan lagu yang sudah dihafal luar kepala sejak kecil.

Kacamatanya tidak ditemukan lagi setelah itu. Begitu juga saksofon yang biasa dibawanya ke rumah-rumah kawan, entah tertinggal di mana, entah dititipkan kepada siapa.

Meja tempatnya menulis di ruang redaksi, tetap ada di sana untuk beberapa waktu, kosong, dengan mesin ketik lain yang terus berbunyi di sekelilingnya.

Bagikan

Leave a Reply