Lampu studio menyala terang, panasnya sampai ke dahi orang-orang yang duduk di bawahnya. Sanal Edamaruku duduk di kursi paling ujung, tangannya terlipat di pangkuan. Di sisi lain meja, seorang tantrik berkain oranye sudah menggerakkan jari-jarinya sebelum acara dimulai.
“Mantra bisa membunuh siapa saja,” katanya, “hanya dalam tiga menit.”
Jarum jam dinding studio baru lewat angka delapan.
“Kalau begitu kutuk saya sekarang,” kata Sanal. “Di sini, disaksikan semua orang ini.”
Kru kamera saling melirik. Pembawa acara menggenggam earpiece-nya erat-erat.
Tantrik itu mulai merapal, matanya terpejam, bibirnya mengulang suku kata yang sama berkali-kali. Ia berhenti sebentar, mengumumkan: lima belas menit, dan Sanal akan mati.
Lima belas menit lewat. Sanal masih di kursinya, sesekali melirik jam, lalu kembali ke kamera. Tantrik merapal lagi. Setengah jam. Satu jam. Keringat mulai membasahi kerah bajunya sendiri, bukan kerah baju Sanal.
Dua jam kemudian siaran itu dihentikan. Bukan karena Sanal sudah mati. Jadwal acara berikutnya sudah menunggu.
Empat tahun berselang, seorang biarawati sedang membersihkan lantai Gereja Our Lady of Velankanni di Mumbai, ember kecil di tangannya, ketika ia berhenti di depan patung Yesus. Ada air menetes dari ujung jari kaki patung itu, jatuh satu-satu ke lantai marmer.
Tak sampai seminggu, kabar itu sudah sampai ke seluruh kota. Orang-orang datang membawa botol, gelas, apa saja yang bisa menampung. Sebagian meminumnya.
Stasiun televisi menelepon Sanal lagi.
Ia datang lagi dengan tas kerja yang itu-itu juga. Kamera TV9 sudah berjajar di depan gerbang, lebih ramai dari biasanya. Seorang pendeta menjabat tangannya, tersenyum lebar.
“Kali ini,” kata salah satu kru di belakangnya, “sepertinya keajaiban memang ada.”
Sanal berjalan mengelilingi patung, memeriksa tembok di baliknya. Tembok itu basah, ditumbuhi lumut tipis. Ia menelusuri jalur basah itu keluar dari ruang utama, melewati lorong, berhenti di depan sebuah pintu bertuliskan toilet.
Ketika ia kembali ke depan patung, seorang pendeta bertanya, suaranya sudah meninggi, “Air tidak mungkin mengalir ke atas.”
“Kapiler,” jawab Sanal. “Airnya naik sendiri lewat pori-pori tembok, seperti air naik di batang tanaman.”
Bisik-bisik jemaat berhenti satu per satu. Ia menunggu tanggapan. Tidak ada yang datang. Yang kemudian ia sadari, tatapan orang-orang di ruangan itu sudah pindah. Bukan lagi ke pendeta.
Ia mengambil tasnya, keluar lewat gerbang samping, sebelum orang-orang sempat mengerumuninya.
Beberapa minggu kemudian, halaman parkir stasiun televisi penuh orang membawa spanduk. Sanal dievakuasi lewat pintu belakang. Beberapa organisasi keagamaan melaporkannya dengan tuduhan penistaan agama, tuduhan yang di sana bisa berbuntut panjang.
Baju secukupnya, paspor, dan beberapa buku dimasukkannya ke dalam satu tas. Pesawat mendarat di Helsinki tengah malam. Salju turun di landasan, salju yang belum pernah ia lihat semasa di New Delhi.
Empat belas tahun kemudian, di apartemen kecil dekat pelabuhan, lampu mejanya masih menyala setiap malam. Ia membaca berita dari negeri yang sudah lama ia tinggalkan.
Kadang namanya masih muncul di kolom komentar, di forum-forum yang bahkan tidak pernah ia buka.