Tanah Papua kembali terbakar. Asap hitam membumbung tinggi, menelan cakrawala yang seharusnya tenang. Seribu lebih serdadu mendarat, membawa laras panjang dan tatapan penuh curiga. Mereka datang bukan untuk memeluk saudara sebangsa, tetapi untuk memastikan api amarah tidak melahap aset-aset kekuasaan.
Negara memutus aliran internet. Jari-jari kaku penguasa menutup kran informasi dengan dalih ketertiban. Mereka ingin rakyat di sana berhenti menjerit dalam sunyi. Mereka membungkam suara, seolah dunia akan lupa jika layar gawai berubah hitam.
Semua berawal dari Surabaya. Sejumlah orang dengan mulut yang tidak pernah mengenal arti kemanusiaan melontarkan cacian rasis kepada mahasiswa Papua. Mereka meneriakkan hinaan biadab kepada sesama manusia. Kata-kata itu menghujam jantung mereka yang sudah puluhan tahun merasa menjadi warga kelas dua.
Benny Wenda menyebut kejadian itu sebagai pemantik tumpukan kayu kering. Enam puluh tahun sudah diskriminasi menjadi menu harian rakyat Papua. Ledakan di Jayapura kemudian menjalar liar ke Manokwari, Fakfak, hingga Nabire. Bintang Kejora berkibar di depan istana negara di Jakarta.
Di Fakfak, pasar habis dilalap api. Pertempuran jalanan pecah antara polisi dan warga yang marah. Gas air mata meledak di udara. Empat puluh lima orang ditangkap. Negara menuding mereka sebagai dalang kekacauan.
Di Timika, lima ribu orang mengepung gedung parlemen lokal. Mereka melempar batu, mencoba merobohkan pagar besi. Sorong tidak kalah riuh. Penjara bobol. Dua ratus lima puluh tahanan melarikan diri di tengah kekacauan. Bandara dirusak. Api menjalar di sana-sini.
Wiranto terbang ke sana dengan janji-janji yang sudah usang. Presiden pun menjadwalkan kunjungan. Namun, janji-janji Jakarta sudah kehilangan daya magisnya.
Papua adalah bekas koloni Belanda yang unik secara etnis dan budaya. Sejak 1969, integrasi wilayah ini ke dalam pangkuan Indonesia menyisakan luka yang tak pernah menutup. Pemberontakan kecil terus merayap di tanah yang kaya emas dan tembaga ini.
Benny Wenda berbicara tentang genosida lambat. Ia menyoroti kebijakan transmigrasi yang sistematis. Penduduk asli didesak menjadi minoritas di tanah leluhur mereka sendiri. Mereka mendamba kedaulatan, ingin menentukan nasib sendiri tanpa takut mati karena peluru atau diperkosa oleh mereka yang memakai seragam negara.
Kini, seribu polisi dan tentara dari berbagai kota telah menguasai jalanan. Kepala polisi daerah mengklaim situasi dalam kendali. Namun, apakah kendali yang diukur dengan laras senjata pernah benar-benar mampu menyembuhkan hati yang luka?
Di sisi lain, narasi tentang tunggangan politik menjadi senjata baru. Ujaran rasis di Surabaya memang biadab dan layak dihukum seberat-beratnya, setara dengan dosa besar yang ditimbulkannya. Efek dari cacian itu merembet hingga ke Wamena, di mana nyawa kaum pendatang hilang dalam amuk massa yang buta.
Ujaran rasis itu menjadi bahan bakar yang terlalu mudah disulut. Benny Wenda dengan cerdik memungut bara itu untuk meniup mimpi egonya tentang kemerdekaan. Satu kata rasis bisa menjadi pintu masuk bagi masalah-masalah yang lebih besar. Ia bisa memicu pembantaian antarsuku yang memilukan.
Jakarta dan mereka yang ada di Papua terjebak dalam lingkaran setan yang sama. Ujaran kebencian di satu sisi, dan tuntutan politik di sisi lain. Keduanya saling mengunci, membiarkan rakyat di lapangan menjadi martir bagi ambisi yang tidak pernah tersentuh oleh mereka yang berteriak dari ruang berpendingin udara.
Internet yang mati membuat dunia luar hanya bisa melihat sekilas dari potongan gambar di media sosial. Kebenaran menjadi barang langka. Di balik layar gelap yang sengaja diciptakan, rakyat Papua terus menagih janji tentang kesetaraan yang tak kunjung mereka terima. Mereka tidak berhenti berjuang sebelum hak untuk menentukan nasib menjadi kenyataan.
Apakah ini akhir dari segalanya?
Kita melihat bagaimana rasisme dan politik saling menunggangi. Kebencian melahirkan kekerasan, dan kekerasan melahirkan lebih banyak kebencian. Tidak ada pemenang dalam tragedi yang berulang ini. Hanya ada abu yang tersisa setelah api amarah padam, menunggu percikan baru di hari esok.



