Sore baru beranjak naik, merayap malas di antara sela gedung yang angkuh. Masih terlalu awal bagi kegelapan untuk menjamah, tetapi lampu mobil sudah mulai berpijar, berjuang membelah kabut yang memakan jarak pandang. Segala rupa tampak abu-abu, kehilangan bentuk di bawah kepungan kelabu yang menyesakkan dada.
Jam menunjukkan pukul empat.
Baru pukul empat, tetapi langit sudah tumpah ruah tanpa ampun. Hujan menghantam bumi dengan kemarahan liar yang lepas kendali. Cahaya petir menyambar udara, membutakan mata, disusul gelegar gemuruh yang menghantam jantung hingga berdegup kencang. Aku menatap curahan air yang terjun dari atap seng, tepat di depan muka, merayap turun dengan ritme yang memekakkan telinga. Percikan air yang menumbuk aspal dingin membasahi kakiku, menciptakan rasa baal yang menjalar ke tulang.
Aku memilih diam. Paku-paku waktu seolah menghujamku di tempat duduk ini. Kaki kananku menumpang di atas kaki kiri, posisi kaku yang membuat aliran darah tersendat. Jemariku mendekap erat segelas kopi hitam pekat. Cairan itu sudah tak lagi mengeluarkan uap, dingin, separuh terbuang sia-sia oleh waktu yang membeku. Gelas itu tetap di tangan, diam, tidak berpindah ke bibir selama berjam-jam. Cahaya bohlam lima watt yang sekarat menciptakan bayang-bayang panjang di dinding, membuat sosokku tampak seperti arwah yang tertinggal di dunia orang hidup.
Pemilik warung raib.
Tadi dia muncul, menyodorkan kopi, lalu lenyap ke balik pintu kayu tanpa jejak. Entah dia tenggelam dalam mimpi atau memang sengaja membiarkan warungnya menjadi kuburan bagi mereka yang tersesat. Aku tidak peduli.
Dudukku masih sama. Kaki semakin kuyup dihajar cipratan hujan, namun bokongku seolah terpaku pada kayu bangku panjang ini. Aku menolak bergeser ke tengah. Meskipun tidak ada manusia lain di sini, ujung bangku tetap menjadi satu-satunya tempat yang sanggup menampung jiwaku yang senantiasa merasa tersisih. Berada di tengah adalah hukuman bagi mereka yang punya kawan. Berada di ujung adalah takdir bagi mereka yang terbiasa terasing.
Hujan terus memukul bumi dengan irama yang membosankan. Tidak ada tanda-tanda langit akan mengampuni tanah ini. Detik demi detik merayap, melarutkan harapan akan sebuah reda. Aku terperangkap di sini, dalam sisa kopi dingin dan percikan air hujan yang tak kunjung berhenti menggelitiki kaki. Dunia tidak bertanya kapan badai akan berhenti. Dunia hanya tahu caranya membiarkan kita menunggu hingga habis dimakan sepi.