Pintu Kamar Dua Empat

Seandainya kebersamaan bersama Listy hanyalah sebuah plot di dalam tidur, maka Tirta berani bertaruh bahwa itu adalah tidur paling lelap yang pernah singgah di kepalanya. Sering kali Tirta mengutuk kenyataan yang memaksanya terjaga. Masalahnya, hidup tidak pernah menyediakan tombol jeda. Setiap langkah awal yang diambil manusia, pada hakikatnya adalah satu ayunan kaki menuju akhir. Waktu bergulir tanpa kompromi, menggilas harapan-harapan konyol tentang masa lalu. Detiknya tidak pernah berjalan mundur. Tirta paham risiko itu, namun hatinya yang bebal menolak berhenti mengunyah penyesalan.

Sisa air mata yang mengering di pipi menjadi saksi bisu. Tirta belum sanggup membersihkan separuh ruang di dadanya yang telanjur sesak oleh bayang-bayang Listy selama empat tahun ini. Telinganya merindukan cubitan maut di lengan setiap kali perempuan itu merajuk akibat godaan tololnya. Suasana pagi di rumah kos ini mendadak berubah mencekam karena sepi yang keterlaluan. Kehilangan ini bukan cuma soal kamar yang mendadak lowong, melainkan sebuah ruang kosong yang menuntut pemilik aslinya untuk pulang.

Rindu itu sialan. Tirta merindukan sapaan ketus bermulut manis milik Listy, merindukan kekonyolan jemarinya saat mengacak-acak isi meja, merindukan sepasang mata yang selalu gagal menyembunyikan isi kepala.

Gitar tua peninggalan Jaka tergeletak mengenaskan di sudut ruangan, berdebu, seolah enggan disentuh lagi. Tirta pernah mencoba memetik senarnya, mencoba mengulang akor lagu yang biasa mereka nyanyikan bersama di selasar. Nada yang keluar justru sumbang, hambar, kehilangan jiwanya sejak Listy angkat kaki dari rumah kos ini. Lirik yang meluncur dari mulut Tirta menguap begitu saja, menjelma menjadi derau tidak berarti di udara.

Tirta melangkah lambat menuju pagar beranda, menatap hamparan langit malam yang bertabur kerlip bintang. Malam kehilangan dayanya untuk terlihat indah. Bintang-bintang di atas sana meredup, tenggelam dalam kepekatan malam yang muram seolah enggan berbagi cahaya.

Namun, ingatan Tirta justru memutar rekaman lama dengan sangat jernih di atas lantai semen itu. Dia melihat dua manusia sedang asyik bermain catur di bawah lampu selasar. Seorang lelaki yang wajahnya persis seperti pantulan Tirta di cermin, dan seorang perempuan yang mengenakan stoking hitam kesayangannya. Keduanya tertawa lepas, melempar banyolan renyah yang memecah kesunyian malam.

Bibir Tirta menyunggingkan senyum getir menyaksikan fatamorgana itu.

Perlahan, bayangan kedua manusia itu menipis, memudar, lalu lenyap sama sekali ditelan realitas.

“Visualisasinya selalu sama,” suara berat Jaka tiba-tiba memecah lamunan Tirta dari balik pintu. “Ada orang yang melangkah pergi untuk kembali, tapi ada juga yang sekali melangkah langsung hilang arah.”

Tirta mematung, mencerna ucapan sahabatnya.

“Tapi sebelum naik bis waktu itu, Listy janji bakal balik lagi ke sini,” Tirta membela harapannya yang mulai sekarat.

Jaka mendesah panjang. Dia menyulut rokoknya, membiarkan kepulan asapnya berkejaran dengan asap rokok Tirta di udara.

“Semenjak dia angkat koper, kalian masih sering tukar kabar?” tanya Jaka, menyelidiki.

Tirta mengangguk lemah, nyaris tak kentara.

“Awal-awal saja sering telepon. Begitu dia keterima kerja di perusahaan barunya, ritmenya kacau. Waktu buat sekadar tanya kabar saja habis digilas lembur,” Tirta berucap lirih.

“Dan lo, sampai detik ini tetap memilih jadi pengecut yang tidak berani bilang suka?” Jaka menembak langsung ke pusat masalah.

Tirta menggeleng, kali ini gerakannya lebih pasrah.

“Gue mau dia fokus mengejar kariernya tanpa beban, Jak. Gue takut ego gue malah mengacaukan hal-hal baik yang sedang dia bangun di luar sana.”

“Kalau itu pilihan lo, artinya lo harus berani melihat dia bersanding dengan orang lain,” sahut Jaka dengan nada dingin tanpa tedeng aling-aling.

Kata-kata itu menghantam kesadaran Tirta, membuat tengkuknya mendadak panas. Dia seperti disentak paksa dari zona nyaman yang melenakan selama ini.

Jaka menggeser duduknya, menatap Tirta lurus-lurus. “Tata lagi hati lo yang berantakan itu. Gue tidak menyuruh lo melupakan Listy, tapi lo harus melek. Bedakan mana kenangan, mana kenyataan. Jangan menyiksa diri di dalam lubang kehilangan yang lo gali sendiri. Bukan cuma Listy yang berhak bahagia, lo juga punya hak yang sama.”

Tirta menunduk, menatap ujung sepatunya yang kusam. Napasnya terasa kian berat setiap hari. Menolak kenyataan bahwa dia mencintai Listy setengah mati adalah sebuah kesia-siaan, dan sekarang perasaan itu mulai berubah menjadi belati yang menikam pelan.

“Gue paham ketulusan lo,” Jaka menepuk pundak Tirta. “Tapi sekarang pilihannya cuma dua, lo susul dia ke tempat kerjanya dan selesaikan urusan lo, atau lo kunci rapat cerita ini lalu mulai menata hidup baru.”

Tirta memilih bungkam.

“Kalau gue jadi lo, sudah gue kejar dari kemarin,” Jaka menyenggol lengan Tirta, mencoba mencairkan ketegangan dengan seringai tipis. “Cewek model Listy itu langka. Bodoh namanya kalau lo biarkan lepas begitu saja.”

Tirta terkekeh hambar. Dia tidak tahu apakah langkahnya selama ini termasuk kategori setia atau justru ketololan murni. Satu hal yang pasti, malam ini adalah batas akhir untuk menentukan sikap. Sebuah keputusan yang akan menguji seberapa besar arti Listy di dalam hidupnya.

“Jadi, ini keputusan akhir lo?” suara Jaka terdengar lagi dari arah belakang.

Tirta bergeming. Tangannya berhenti di atas ritsleting tas kanvas besar yang baru saja dia tutup rapat. Dia membalikkan badan, menghadap Jaka yang berdiri bersedekap.

“Lo tidak akan menyesal?” Jaka memastikan sekali lagi.

Sebuah anggukan tegas menjadi jawaban Tirta.

“Nah, ini baru sahabat gue. Pegang ucapan lo, kejar apa yang memang pantas lo dapatkan,” Jaka menjabat tangan Tirta dengan cengkeraman kuat penuh dukungan.

Jaka mengedarkan pandangan ke sekeliling kamar Tirta yang kini melompong. Tidak ada lagi tumpukan buku yang berserakan, tidak ada lagi kasur busa tanpa sprei yang biasanya terhampar tengah ruangan. Semua sudah bersih, siap ditinggalkan.

“Gue bakal merindukan kamar ini,” gumam Jaka.

“Gue jauh lebih merindukannya, Jak.”

“Gue masih ingat betul hari pertama kita menginjakkan kaki di kosan ini. Waktu itu kita masih miskin, tidak punya apa-apa selain ambisi konyol. Pengen rasanya mengulang kegilaan bareng anak-anak yang lain.”

“Hahaha, mendadak melankolis lo, Jak?”

Jaka tersenyum menatap langit-langit plafon yang mulai mengelupas. “Tempat ini punya sejarah panjang buat kita, Tir. Di kamar sempit ini kita merancang masa depan. Tapi setelah semua impian itu perlahan terwujud, kita justru dipaksa untuk melangkah pergi.”

Tirta menyandarkan punggungnya pada dinding semen yang terasa dingin. Dia memantik rokok terakhirnya, membiarkan ruangan kosong itu dipenuhi kabut putih yang beraroma cengkeh.

“Bagi gue, ini bukan sekadar tempat merajut mimpi, Jak. Ini adalah sudut tempat gue pernah memiliki mimpi paling indah,” sahut Tirta, memorinya kembali melesat pada hari-hari penuh tawa bersama Listy.

“Satu per satu dari kita akhirnya tumbang dan pergi. Mulai dari gue yang menikah, Listy yang lulus, dan sekarang giliran lo. Kosan ini resmi jadi saksi sejarah perjalanan kita,” Jaka tersenyum hampa.

Tirta mengembuskan asap rokoknya ke langit-langit. Bukankah skenarionya selalu begitu? Pada akhirnya, semua perjumpaan akan bermuara pada satu titik bernama perpisahan. Kepergian Nadya, kehilangan ibunya beberapa tahun silam, adalah bukti otentik bahwa tidak ada yang abadi. Lalu Jaka, Misya, dan puncaknya adalah Listy.

“Semoga pilihan gue kali ini tidak melahirkan penyesalan baru, Jak,” ada nada ragu yang menyelinap dalam suara Tirta.

“Gue selalu berdiri di belakang lo, apa pun jalanmu.”

“Thanks, Jak,” Tirta berjalan mendekati jendela, menyibak gorden lusuh dan memandang lurus ke arah pintu kamar nomor dua empat di seberang sana yang terkunci rapat.

Jaka diam, memberikan ruang bagi sahabatnya.

“Sejak awal, gue sadar Listy berhak mendapatkan seluruh hal terbaik dalam hidupnya. Dia seperti pion yang berhasil mencapai kotak ujung papan catur, bertransformasi menjadi menteri yang bebas melangkah ke mana saja,” Tirta berucap pelan, matanya tidak berkedip menatap pintu seberang.

Jaka masih memilih mendengarkan.

“Dan gue, gue tidak mau ego gue sebagai pion kecil justru menjadi batu sandungan yang menghalangi langkahnya menuju kotak kemenangan itu.”

“Tuhan punya cara sendiri untuk membagikan porsi kebahagiaan,” Jaka menepuk pundak Tirta dengan mantap. “Selamat berjuang di tanah perantauan yang baru, Tir.”

Tirta mengangguk pasti.

“Kalau lo punya waktu senggang, datanglah ke rumah. Pintu rumah gue selalu terbuka untuk lo. Nanti kita kumpulkan anak-anak yang lain untuk reunian di kosan ini,” ujar Jaka, mencoba meringankan suasana.

“Siap. Kabari saja kalau jadwalnya sudah cocok.”

Tirta melempar senyum lebar. Sebelum perpisahan ini berubah menjadi drama picisan yang menguras emosi, dia menyampirkan tas ransel besarnya di pundak sementara Jaka membawakan kardus berisi sisa barang lainnya. Di ambang pintu, langkah mereka berdua mendadak terhenti. Jaka menatap pintu kamarnya sendiri yang sudah lama kosong sejak dia memutuskan mengontrak rumah bersama istrinya. Dia tampak ingin bernostalgia sejenak. Sementara itu, Tirta melangkah pelan menuju pintu kamar nomor dua empat. Pintu yang tidak pernah terbuka selama hampir dua belas bulan terakhir.

Semenjak Listy pergi, kamar itu sengaja dibiarkan kosong oleh pemilik kos. Tirta sengaja membayar penuh uang sewanya setiap bulan hanya agar tidak ada orang asing yang menempatinya. Dia menolak membiarkan kenangan tentang Listy tumpang tindih dengan kehadiran penghuni baru. Dia ingin ruangan itu tetap seperti semula, hingga tiba waktunya dia sendiri yang melangkah pergi.

Tirta berdiri mematung di depan daun pintu yang mulai lapuk. Dadanya mendadak sesak, pasokan oksigen di sekitarnya seolah menipis setiap kali memori hari itu berputar kembali.

Tangannya bergerak perlahan memutar kenop pintu. Ruangan gelap gulita langsung menyambut, membawa aroma debu dan udara pengap yang menyengat hidung. Setelah matanya berhasil menyesuaikan diri dengan remang-remang cahaya, Tirta melangkah masuk. Tata letak barang di dalam kamar ini tidak berubah seujung kuku pun sejak hari keberangkatan Listy. Meja belajar, rak buku kecil, semuanya masih berada di posisi yang sama. Bedanya, kini seluruh permukaan furnitur itu sudah tertutup lapisan debu tebal yang kusam. Tirta tertegun.

“Tirtaaaaaaaa…!”

Lengkingan suara yang sangat familier itu tiba-tiba berdengung hebat di dalam gendang telinga Tirta. Detik itu juga, sosok Listy seolah hadir secara visual di depannya, berdiri tegak sambil melayangkan senyum mengejek yang biasa dia tunjukkan jika berhasil memenangi perdebatan.

Dada Tirta bergemuruh hebat. Dia membuang muka ke sudut lain ruangan, namun ke mana pun matanya memandang, bayangan Listy selalu berhasil merebut tempat di sana.

“Kamu bakal rindu tidak kalau aku pulang kampung?” tanya Listy sore itu, suaranya terdengar lembut menelisik telinga Tirta.

“Rindu? Mmm, bagaimana ya, rindu tidak ya?” jawab Tirta asal-asalan, mencoba mencairkan suasana sementara Listy menunggu jawaban dengan raut muka yang tegang.

“Rindu tidak, bodoh?” kejar Listy, tidak sabar.

“Rindu deh kalau dipaksa!” Tirta tertawa kecil.

“Kok dipaksa? Benar-benar tidak ikhlas ya rindu sama aku!” protes Listy sambil mengerucutkan bibirnya.

Tirta hanya menyeringai tanpa dosa.

“Tapi kamu janji bakal balik lagi ke kosan ini kan?” Tirta balik melempar tanya.

“Mmm, balik tidak ya?” Listy melirik jahil. “Balik deh kalau dipaksa!” Dia meniru gaya bicara Tirta barusan.

Sebuah jitakan ringan mendarat di puncak kepala Listy.

“Sakit, Tir!” Listy membalasnya dengan cubitan kilat di lengan Tirta.

“Makanya kalau menjawab yang serius.”

“Kamu sendiri yang mulai duluan!”

Listy memasang wajah cemberut yang dibuat-buat, namun ekspresi itu justru membuat Tirta harus sekuat tenaga menahan tawa karena perempuan itu terlihat berkali-kali lipat lebih menggemaskan.

“Sudah ah, cepat berangkat sana. Nanti kamu ketinggalan bis,” kata Tirta, menurunkan nada suaranya menjadi lebih bersahabat.

Listy mendadak bungkam.

“Kenapa diam?”

Sepasang mata Listy menatap Tirta dengan pandangan penuh selidik.

“Kok aku merasa kamu senang sekali ya kalau aku pergi dari sini?” tanya Listy curiga.

“Tentu saja senang. Kalau kamu tidak ada, artinya tidak akan ada lagi makhluk berisik yang menggedor pintu kamar gue tengah malam hanya untuk curhat masalah cowok tidak jelas. Tidak ada lagi yang berteriak pagi-pagi di depan kuping gue. Tidak ada lagi yang…”

Kalimat Tirta menggantung di udara.

“Loh, kok malah menangis?” Tirta kaget saat mendapati kepala Listy menunduk dalam-dalam, menyeka sudut matanya yang basah.

Listy tidak bergeming, bahunya bergetar kecil. Tirta mendadak panik, merasa bersalah atas ucapan asalnya tadi. Dia meraih pergelangan tangan Listy untuk memastikan apakah perempuan itu benar-benar menangis atau sekadar bersandiwara.

“Lis? Kamu tidak apa-apa…”

“Dasar KEBO!” Listy berteriak tepat di lubang telinga Tirta dengan volume maksimal. “Jadi cowok tidak ada peka-pekanya sama sekali!”

Tirta refleks menjitak kembali kepala Listy karena saking kagetnya. Balasannya, Listy menjambak rambut Tirta tanpa ampun hingga keduanya mengaduh bersamaan.

“Sakit, tahu!” teriak Listy.

“Gila kamu ya? Kupingku sampai tuli begini,” Tirta mengosok-gosok telinga kanannya yang memerah. “Mentang-mentang mau pergi, sengaja mau balas dendam ya?”

“Hehehe, damai!” Listy memamerkan dua jarinya sambil menyeringai lebar tanpa beban. “Sudah yuk, antarkan aku ke terminal sekarang sebelum kehujanan.”

“Ogah. Jalan sendiri sana!”

“Yah, jangan merajuk begitu dong…”

“Masa bodoh.”

“Hehehe, begitu saja langsung pundung. Kapan lagi coba kamu bisa mengantarkan aku pulang?” Listy mengangkat tas ransel besarnya yang berat, lalu melemparkannya begitu saja ke pelukan Tirta. “Ayo cepat jalan, nanti bisnya berangkat.”

Perempuan ini memang selalu bertindak semau jidatnya sendiri.

Listy memutar kunci pintu kamarnya, lalu mereka berdua berjalan beriringan menuruni anak tangga semen menuju halaman depan. Dan itu menjadi fragmen terakhir Tirta melihat Listy di rumah kos ini.

Satu tahun penuh telah berlalu sejak hari keberangkatan itu. Komunikasi lewat sambungan telepon yang awalnya intens, perlahan-lahan mulai menemui jalan buntu. Kesibukan dunia kerja Listy merenggut seluruh waktu yang tersisa. Tirta mencoba berdamai dengan kenyataan pahit ini, menganggapnya sebagai bagian dari proses pendewasaan yang harus dilewati setiap manusia. Melihat Listy berhasil mencapai posisi puncaknya di luar sana sudah lebih dari cukup untuk mengobati luka hatinya. Jarak yang membentang di antara mereka adalah realitas yang harus diterima dengan lapang dada.

Tirta memiliki jalurnya sendiri yang harus ditempuh mulai besok. Langkah pertama harus segera diambil tanpa ragu. Dia percaya akan ada kotak kebahagiaan yang menantinya di ujung papan jalannya nanti, meskipun mungkin kali ini dia harus melangkah tanpa Listy di sisinya.

“Ayo, Tir…” panggilan Jaka kembali menarik Tirta dari pusaran masa lalu. “Kita harus berangkat sekarang sebelum jalur antar kota makin padat.”

Tirta menoleh sekali lagi ke sudut ruangan gelap itu, tempat di mana bayangan Listy sempat berdiri beberapa menit lalu.

Kosong. Tidak ada siapa-siapa lagi di sana kecuali debu yang beterbangan.

“Eh, iya, ayo jalan,” Tirta melangkah keluar dari kamar nomor dua empat. Udara segar malam hari langsung menyapa penciumannya begitu dia menjejakkan kaki di selasar luar. Jaka berdiri menyambutnya, melempar senyum tipis lalu menepuk pundak sahabatnya itu dengan penuh simpati.

“Listy pasti mendapatkan hasil terbaik di sana,” kata Jaka memotivasi. “Sekarang giliran lo yang membuktikan diri. Gue selalu ada di sini, kapan pun lo butuh bantuan, tinggal telepon saja. Jarak tidak akan pernah menjadi dinding pembatas buat persahabatan kita.”

“Terima kasih untuk semuanya, Jak,” Tirta menjabat tangan Jaka erat-erat, lalu merengkuh tubuh sahabatnya itu dalam sebuah pelukan singkat khas laki-laki.

Keduanya saling melempar senyum penuh arti.

“Tunggu sebentar,” Tirta menoleh kembali ke arah pintu kamar Listy.

Daun pintu kayu itu masih terbuka lebar. Tirta meraih gagang besinya, menariknya perlahan agar menutup rapat. Entah kenapa, engsel pintu itu terasa seberat bongkahan baja yang menolak untuk digeser. Bukan karena tumpukan debu yang mengganjal jalannya pintu, melainkan besarnya muatan kenangan di dalam ruangan itu yang membuat persendian tangan Tirta mendadak kaku untuk menuntaskan gerakannya.

“Tir,” panggil Jaka pelan dari ujung tangga. “Lo tahu kenapa kenangan selalu terasa begitu indah?”

Tirta tidak menjawab, tangannya masih memegang kenop pintu.

“Karena dia tidak akan pernah bisa terulang kembali. Hal itu yang membuatnya bernilai tinggi.”

Tirta menarik napas dalam-dalam, membiarkan dadanya terasa sesak untuk terakhir kali. Perlahan namun pasti, dia mendorong pintu kayu itu hingga berdentum pelan, mengunci seluruh cerita di dalamnya.

“Selamat tinggal, Lis,” bisik Tirta lirih seiring dengan klik pengunci pintu yang menandai berakhirnya sebuah babak dalam hidupnya.

Malam ini, Tirta memilih meninggalkan seluruh memori tentang Listy di balik pintu kamar nomor dua empat. Suatu hari nanti, ketika takdir membawanya kembali untuk membuka pintu itu, dia berharap jiwanya sudah benar-benar siap dan paham bahwa sebuah perbedaan tidak seharusnya menjadi alasan bagi seseorang untuk memilih bungkam dalam menyatakan cinta. Suatu hari nanti saat pintu itu kembali terbuka, Tirta berharap sosok Listy yang nyata sudah berdiri di sana untuk menyambut kedatangannya dengan senyum yang sama.

Mungkin…

Bagikan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Plus Exclusive Smilies 3.0 Kaskus-style Large Kaskus-style Small Standard Smilies
:welcome
:terimakasih
:tepuktangan
:tepar
:sudahkuduga
:siapgan
:semangat
:sale
:pertamax
:pencet
:paket
:nyantai
:nulisah
:monggo
:merdeka
:kangen
:jones
:insomnia
:hargapas
:goyang
:garudadidadaku
:gagalpaham
:gaasik
:dor
:cih
:ceyem
:butuhpacar
:bokek
:belumtidur
:batik
:banggapakebatik
:ayoindonesia
:ngamuk
:lemparbata
:keepposting
:hansip
:cendolgan
:bigkiss
:xmas
:wow
:wkwkwk
:wakaka
:ultahhore
:ultah
:travel
:toast
:telolet4
:telolet3
:telolet2
:telolet1
:takut
:sup:
:sup2
:sorry
:shakehand2
:selamat
:salamkenal
:salaman
:salahkamar
:request
:repost:
:repost2
:repost
:recsel
:rate5
:peluk
:omtelolet
:nyepi
:nosara
:nohope
:ngakak
:ngacir2
:ngacir
:najis
:motret
:mewek
:matabelo
:marigerak
:marah
:malu
:maafaganwati
:maafagan
:lehuga
:kts:
:kr
:kiss
:kimpoi
:ketupat
:kbgt:
:kacau:
:jrb:
:imlek2
:imlek
:ilovekaskus
:iloveindonesia
:hoax
:hn
:hammer
:hai
:games
:entahlah
:dp
:cystg
:cool
:coblos
:cipok
:cendolbig
:cendol
:cekpm
:cd:
:cd
:catchemall:
:bola
:bingung
:bigo:
:betty
:berduka
:bedug
:batabig
:babygirl
:babyboy1
:babyboy
:angpau
:angel
:2thumbup
:1thumbup
:malu2
:siul
:newyear
:alay
:hoax2
:hope
:hotrit
:lapar
:mahongintip
:mewek2
:nerd
:pertamax
:rate
:sungkem
:supermaho
:thanks2
:tkp
:Yb
:takuts
:sundulgans
:shutups
:reposts
:ngakaks
:najiss
:malus
:mads
:kisss
:ilovekaskuss
:iloveindonesias
:hammers
:cendols
:cendolb
:cekpms
:capedes
:bookmarks
:bingungs
:bettys
:berdukas
:berbusas
:batas
:bata
:armys
:addfriends
:)b
;)
:wowcantik
:tv
:thumbup
:thumbdown
:think:
:tai
:tabrakan:
:table:
:sun:
:siul
:shutup:
:shakehand
:rose:
:rolleyes
:ricebowl:
:rainbow:
:rain:
:present:
:Phone:
:Peace:
:Paws:
:p
:Onigiri
:o
:norose:
:nohope:
:ngacir:
:moon:
:metal
:medicine:
:matabelo:
:malu:
:mad
:linux2:
:linux1:
:kucing:
:kissmouth
:kissing:
:kimpoi:
:kagets:
:hi:
:heart:
:hammer:
:gila:
:genit
:fuck:
:fuck3:
:fuck2:
:frog:
:fm:
:flower:
:exclamati
:email
:eek
:doctor
:D
:cool:
:confused
:coffee:
:clock
:ck
:buldog
:breakheart
:bingung:
:bikini
:berbusa
:beer:
:baby:
:babi:
:army
:anjing:
:angel:
:amazed:
:afro:
:)
:(