Suara kecipak air keruh Kali Besar bertumbukan dengan geladak sampan kayu. Raffly siuman di atas tanah basah dekat fondasi batu sebuah gudang tua. Di dekat tangannya, tabung peretas waktu meredup, menyisakan bau logam terbakar dan gesekan kumparan yang perlahan padam.
Raffly mengusap mukanya yang kotor. Pakaian kain sintetisnya berlumur lumpur basah dan serpihan daun busuk. Di luar gang, derak roda kayu dokar dan lengkingan peluit kuli panggul bersahut-sahutan.
Ia berjalan menyusuri lorong di antara deretan bangunan papan. Di teras sebuah rumah panggung dekat muara sungai, seorang perempuan muda sedang merapikan setumpuk lembaran kertas merang dan beberapa papan batu. Kebaya katun putihnya ternoda bercak tinta di bagian lengan, sementara ujung kain jariknya menyapu lantai kayu yang berdebu.
Beberapa anak perempuan bersarung batik kecil melangkah turun dari tangga teras.
“Di mana stasiun kereta yang ke arah selatan?” tanya Raffly. Suaranya serak di tengah bising lalu lintas pinggir kali.
Perempuan itu menengadah, mengamati celana sintetis dan sepatu Raffly. “Stasiun NIS di balik benteng. Jalan terus melewati jembatan gantung.”
Perempuan itu bernama Saras. Papan-papan batu di mejanya berisi goresan abjad dan angka dasar yang ditulis dengan kapur untuk bahan belajar anak-anak di sekitarnya.
Selama dua minggu, Raffly berulang kali kembali ke tepi Kali Besar. Setiap sore, setelah anak-anak pulang dan asap minyak tanah mulai membumbung dari tiang lampu jalan, mereka duduk di bangku batu bawah pohon asam.
Saras mengumpulkan anak-anak nelayan dan kuli panggul secara sembunyi-sembunyi dari pengawasan kompeni. Raffly memperhatikan gerakan jemari Saras yang cermat saat memeriksa satu per satu papan batu milik muridnya.
Suatu sore, Raffly mengeluarkan kotak kuningan kecil dari saku jaketnya. Di dalam kotak terbaring liontin perak polos. Menggunakan pena baja berujung lancip dari saku celananya, Raffly menggoreskan huruf “S” berukir tipis di permukaan liontin tersebut.
Ia meletakkan kotak kuningan itu di atas meja batu, membiarkannya diam di antara tumpukan papan batu.
“Untuk apa ini?” tanya Saras.
“Agar ada bekas yang tertinggal jika besok lusa aku harus pergi,” ujar Raffly.
Saras memandangi permukaan kotak kuningan itu cukup lama sebelum meraih dan menggenggamnya rapat.
Malam pelarian itu tiba saat hujan deras membanjiri dermaga kayu Kali Besar. Gemuruh air sungai menyamarkan dengung kencang dari tabung tembaga yang bergetar di bawah celah batu jembatan.
Pendar cahaya kebiruan memantul di dinding jembatan yang basah. Saras berdiri beberapa langkah di luar jangkauan pendar tersebut. Sarung jariknya basah tersiram percikan air hujan, tetapi ia berdiri tegak menahan dingin angin malam.
“Waktuku habis,” kata Raffly di tengah deburan air.
Saras meremas kotak kuningan di balik lipatan kebayanya. “Pergilah. Tulisan di kertas bisa terhapus air, tapi apa yang kau tinggalkan di sini tidak akan hilang.”
Raffly menekan katup baja pada alatnya. Dengungan listrik melonjak tinggi, menarik pendar biru ke satu titik pekat, sebelum kemudian lenyap dan menyisakan kesunyi malam di tepi sungai.
Tahun 2026, ruang pamer Museum Sejarah Jakarta terasa lengang dan dingin. Raffly berdiri dua langkah di depan etalase kaca yang memajang peninggalan perintis sekolah rakyat akhir abad ke-19.
Di atas beludru hitam, terbaring sebuah liontin perak kusam yang permukaannya menghitam dimakan usia. Goresan huruf “S” masih berjejak samar di bagian tengahnya.
Papan informasi berbahan akrilik di samping etalase memuat catatan:
“Milik Saraswati (1879–1938), tokoh pengajar mandiri bagi anak-anak di sekitar Kali Besar. Liontin perak ini ditemukan di dalam kotak penyimpanan pribadinya, diduga merupakan kenang-kenangan dari seorang sahabat yang tak pernah tercatat dalam arsip Hindia Belanda.”
Raffly memandangi etalase itu dalam diam. Dari balik kaca yang bersih, pantulan bayangan dirinya berhimpit sejajar dengan lencana perak tua di dalamnya.