Ketukan pena Misna beradu dengan derap langkah siswa yang meninggalkan kelas biologi. Damar melintas di depan pintu sambil menyandang tas kain. Lambaian tangan Misna membuatnya berhenti.
“Ibu mendadak ke Solo sore tadi, ada urusan koperasi,” kata Misna dari balik pintu. Ujung penanya menekan kertas catatan hingga melengkung. “Baru pulang besok siang.”
“Lalu?” Damar menatap koridor yang mulai sepi.
“Malam ini aku sendirian.”
Damar teringat rumah Misna di ujung Perumahan Argo Mulyo. Bangunan paling tepi itu berbatasan dengan kebun singkong. Bapaknya sudah tiga bulan tugas di area tambang Balikpapan, sementara rumah tetangga paling dekat berjarak dua blok dari sana.
“Aku menginap saja,” kata Damar. “Sekalian menyelesaikan bab fotosintesis.”
Misna mengangguk. “Pukul setengah delapan. Kita makan dulu.”
Gerimis menyiram jalan setapak samping rumah saat Damar tiba. Bau tanah basah merebak di antara batang singkong. Motor matiknya dituntun pelan-pelan melewati ceruk berair di tanah berkerikil.
Pintu seng gudang di samping rumah sedikit terbuka. Dari celahnya tercium aroma karat dan karung pupuk basah. Damar mendorong motor hingga standar sampingnya tertancap di celah semen. Ia menarik pintu seng rapat-rapat.
Hujan deras mendadak turun begitu kakinya menjejak teras depan.
Misna membuka pintu kayu. Keramik ruang tamu terasa dingin di telapak kaki. Di lorong, lemari kaca kusam memajang piala paduan suara berdebu dengan cat perak yang mengelupas.
Di kamar, lampu meja menyala kuning temaram. Uap tipis naik dari dua cangkir kopi hitam. Buku biologi terbuka di samping dispenser yang mendengung pelan.
Jarum jam dinding berdetak. Suara hujan di atap menyamarkan derit pintu depan yang terbuka.
Pintu kamar terdorong tanpa ketukan.
Pria pendek masuk lebih dulu dengan kain hitam menutup wajah hingga hidung. Di belakangnya, pria berbadan tinggi mengacungkan pistol berperedam ke dada Damar.
Damar membeku. Napasnya tersangkut di tenggorokan.
Misna berdiri. “Siapa kalian?”
Pria pendek bergerak cepat mencengkeram rambut Misna. Kain berbau kimia menyengat langsung dihantamkan ke hidungnya. Misna memberontak sebentar sebelum tubuhnya lemas dan roboh ke lantai.
Sebuah benda keras menghantam tengkuk Damar dari samping. Penglihatannya seketika gelap.
Rasa nyeri menusuk di belakang kepala saat Damar siuman. Bau oli bekas dan getah karet menyengat hidung.
Pipinya menempel di lantai semen yang dingin. Tangan dan kakinya tidak diikat. Di depannya, motor bersandar di antara tumpukan cangkul dan selang.
Damar meraba kantong kemeja dan celananya. Kosong. Kepala yang pening menahannya saat ia beringsut ke dinding seng yang bergetar dihantam hujan.
Jarum jam menunjukkan pukul 23.57.
Gagang pintu diputarnya pelan. Slot luar terkunci rapat.
Damar merangkak mendekati motor. Tangannya membuka jok dan meraba bagian bawah jas hujan basah hingga jemarinya menyentuh layar ponsel yang menyala.
Ia menekan nomor ayahnya. Panggilan berdering tiga kali sebelum terputus. Sinyal di layar mendadak hilang.
Suara langkah kaki menginjak genangan air terdengar dari luar.
Damar menyembunyikan ponsel ke bawah karung pupuk. Tubuhnya kembali direbahkan ke lantai semen.
Slot pintu bergeser kencang. Pria pendek masuk membawa senter dan botol air. Siraman air dingin mendarat tepat di wajah Damar. Setelah terbatuk beberapa kali, Damar membuka mata dengan pandangan kabur.
Kerah kemejanya direnggut kencang hingga ia terduduk. Ujung botol ditekan kasar ke bibirnya.
“Di mana ponselmu?”
“Ketinggalan,” kata Damar serak.
“Di mana?”
“Di dalam rumah.”
Pria itu menyeret Damar melewati jalan setapak yang becek. Lumpur dari sol sepatu mengotori keramik ruang tamu.
Di kamar, pria tinggi menanti. Tamparan keras mendarat di pipi Damar hingga bibirnya pecah dan berdarah.
“Cepat tunjukkan.”
Misna duduk di ranjang dengan tangan dan kaki terikat tali rafia. Lakban cokelat menutup mulutnya. Matanya melirik berulang kali ke bawah bantal.
Pria tinggi merogoh rongga di bawah bantal. Tangannya menarik keluar ponsel berlayar retak.
“Punya siapa ini?”
“Punya saya,” kata Damar.
Pria itu menyodorkan ponsel. “Nyalakan.”
Damar menekan nomor Misna. Getaran ponsel terdengar dari dalam saku pria pendek. Damar menggeser kartu mahasiswa dari dompetnya ke atas meja.
Pria tinggi memeriksa identitas di kartu tersebut sebelum mengalihkan pandangannya ke arah Misna.
“Anak ini bilang bapakmu banyak uang di Balikpapan,” kata pria itu. “Bagus, dapat dua sekalian.”
Ia mengarahkan pistol ke dada Damar sebelum menyelipkannya ke pinggang.
“Tulis nomor bapakmu.”
Pria pendek menarik kedua tangan Damar ke belakang punggung dan membelitnya dengan tali rafia. Kain lap kotor disumpalkan ke dalam mulutnya. Kedua pria itu mengunci kamar dari luar.
Pukul 03.35 dini hari, pintu kamar terbuka kembali. Kedua pria itu merenggut bahu Damar dan Misna untuk diseret ke ruang tamu.
Tiba-tiba pintu depan didobrak hingga kosennya retak. Sorot lampu tembak putih menerobos masuk dari halaman.
Suara pengeras suara memekak dari luar.
Pria tinggi merenggut baju Misna dan menempelkan pistol ke pelipisnya.
Damar menundukkan badan, menerjang lambung pria itu dari samping. Pria tinggi terpental menabrak lemari kaca. Kaca pecah berantakan bersama piala-piala perak. Pistol terlempar ke kolong meja.
Di saat bersamaan, hantaman kedua siku Misna yang terikat mendarat di wajah pria pendek. Pria itu terhuyung dan jatuh telentang di lantai licin.
Polisi menerobos masuk dan mengepung kedua pelaku.
Tiga hari kemudian, Damar duduk di bangku luar kelas biologi. Di sebelahnya, Misna menatap ponsel berlayar retak di atas meja.
“Simpan saja,” kata Damar. “Tidak usah dikembalikan.”
Misna meraih ponsel itu dan membalik permukaannya yang retak. Matanya menatap Damar tanpa bersuara.