Ada seorang buta yang bisa melihat lebih jelas dari orang-orang bermata normal. Matt Murdock namanya, tapi orang-orang jahat di Hell’s Kitchen mengenalnya sebagai Daredevil, dan mereka yang pernah berhadapan dengannya biasanya tak sempat menceritakan pengalaman itu kepada siapa pun.
Wilson Fisk pernah dipenjarakannya. Kali ini, di musim baru yang tayang sejak Maret 2025, Fisk keluar dari sel, dan alih-alih kembali ke dunia bawah tanah, ia mencalonkan diri jadi wali kota New York. Ia menang.
Begitulah cara paling rapi untuk melegalkan kejahatan, memenangkan pemilu.
Sebagai wali kota, Fisk membentuk pasukan khusus, dipenuhi polisi-polisi yang sebelumnya disingkirkan NYPD karena kebrutalan mereka. Namanya kedengaran mulia, Satgas Anti Kelompok Main Hakim Sendiri. Fungsinya sederhana saja, algojo pribadi sang wali kota. Mereka membunuh seorang vigilante bernama White Tiger. Mereka juga menyaksikan atasan mereka sendiri, Komisioner Gallo, dibunuh Fisk di depan mata, karena berani menolak arah politiknya.
Daredevil sendiri sedang berduka. Sahabatnya, Foggy Nelson, tewas di tangan Bullseye. Ia sempat membalas, melempar pembunuh itu dari gedung tinggi, tapi Bullseye selamat, bahkan sempat mencoba membunuh Fisk sendiri.
Belakangan Matt tahu, dalang di balik kematian Foggy bukan Fisk, melainkan Vanessa, istrinya. Foggy berhasil membongkar sarang mafia di pelabuhan Red Hook, tempat Vanessa mengendalikan bisnis suaminya selama sang suami mendekam di penjara. Matt menghadapinya langsung, di tengah pesta dansa yang diselenggarakan Fisk sendiri, berdansa dengan istri musuhnya sambil membuka kartu.
Frank Castle juga kembali musim ini. The Punisher, orang-orang menyebutnya, dan caranya menyelesaikan masalah selalu sama, membunuh. Daredevil berbeda, ia berusaha melumpuhkan, bukan menghabisi. Perbedaan kecil yang, dalam dunia yang mereka tinggali, sering terasa seperti kemewahan.
Episode terakhir musim ini membawa sesuatu yang lebih besar dari sekadar kelanjutan cerita.
Di berbagai negara, kekuatan politik sayap kanan, berorientasi bisnis, jauh dari rakyat kecil, sedang menang di mana-mana. Donald Trump salah satu contohnya, didukung kelompok yang mengagungkan supremasi kulit putih, kebijakan-kebijakannya condong rasis dan proteksionis.
Di akhir episode, Daredevil berkata kepada Karen Page. “Kau benar. Kita bisa mengalahkannya. Kita akan merebut kembali kota ini, Karen. Kita butuh pasukan.”
Kalimat itu terdengar seperti pesan yang lebih besar dari sekadar dialog fiksi. Melawan kekuatan kanan yang sudah menguasai negara dan pemerintahan tidak lagi cukup dengan wacana dan kata-kata. Buzzer, sebagai juru bicara tak resmi, akan memutarbalikkan fakta soal kejahatan penguasa, menenggelamkan suara kritis sebelum sempat terdengar.
Jadi barangkali begitulah arah season berikutnya, perang antara Fisk dan pasukan perlawanan yang dipimpin Daredevil dan kawan-kawannya.
Bagaimana dengan dunia nyata? Akankah muncul pasukan perlawanan serupa, di berbagai penjuru dunia, melawan penguasa-penguasa sayap kanan?
Itu tergantung pada kelompok pro-rakyat, demokratis, dan humanis. Apakah mereka benar-benar melawan secara terorganisir, atau cuma kelompok protes musiman yang muncul sebentar setiap kali ada isu kontroversial, lalu bubar begitu isu itu reda.
Indonesia sendiri sulit dilabeli, kanan atau kiri. Prabowo Subianto, presiden saat ini, seorang jenderal TNI AD, mantan Danjen Kopassus di era Orde Baru, menantu Soeharto. Latar belakang seperti itu, sepintas, terdengar seperti tanda-tanda seorang pemimpin kanan.
Tapi susunan kabinetnya cukup terbuka bagi mantan aktivis mahasiswa era Orde Baru, termasuk lima mantan anggota Partai Rakyat Demokratik, satu-satunya partai yang berani menentang Orde Baru secara langsung, kini diberi jabatan setingkat menteri.
Kebijakan-kebijakan yang keluar juga lebih condong pro-rakyat dibanding pro-bisnis. Makan Bergizi Gratis, pembebasan biaya izin mendirikan bangunan bagi masyarakat berpenghasilan rendah, swasembada energi, swasembada pangan.
Indonesia juga resmi bergabung dengan BRICS pada 6 Januari 2025, forum kerja sama ekonomi negara-negara berkembang, salah satu tujuannya mengurangi ketergantungan pada dolar AS.
Kalau disimpulkan, pemerintahan Indonesia saat ini condong ke tengah-kiri, bukan kanan. Tapi Indonesia juga termasuk negara yang dirugikan kebijakan tarif impor proteksionis Trump. Amerika Serikat awalnya menetapkan tarif impor produk Indonesia sebesar 32 persen. Trump menawarkan pembebasan tarif, dengan syarat Indonesia membangun pabrik untuk produk Indonesia di Amerika Serikat.
22 Juli 2025, tarif itu diturunkan jadi 19 persen, dengan berbagai syarat, salah satunya tarif impor 0 persen untuk produk Amerika ke Indonesia. Hasil negosiasi antara kedua pemerintah.
Sikap Indonesia terhadap kebijakan pro-bisnis Trump inilah yang akan menentukan, apakah negeri ini akan tetap pro-rakyat, seperti Daredevil dan kawan-kawannya, atau perlahan bergeser jadi pro-bisnis, seperti Fisk.
Kalau boleh meminjam kalimat Daredevil, “kita butuh pasukan” untuk melawan Kingpin yang sudah menguasai negeri, maka Indonesia, di bawah Prabowo, semestinya sanggup merajut persatuan yang kuat di antara negara-negara yang sama-sama dirugikan, untuk menghadapi Amerika Serikat di bawah Trump. Bukan sekadar bernegosiasi, yang hasilnya, seperti biasa, lebih menguntungkan pihak yang lebih besar.
Dalam sejarah, hanya satu presiden Indonesia yang pernah berani berhadapan langsung dengan Amerika Serikat. Sukarno. Dan itu tampaknya menjadi salah satu alasan mengapa ia jatuh dari kekuasaan.