Pustaka Tua Gang Pinggir

Toko buku Pustaka Tua terjepit di antara kios penjahit pakaian tentara dan warung martabak manis yang jelaga wajannya mengotori dinding gang. Papan namanya bergoyang ditiup angin malam, menyisakan huruf-huruf pudar yang enggan mengeja namanya sendiri dengan tegas.

Hardy mendorong pintu kayu berkaca buram itu karena hujan di kawasan pecinan lama Gang Pinggir mendadak turun berhamburan seperti paku payung jatuh dari langit.

Bau kertas lembap, kamper, dan minyak cengkih langsung menyergap hidungnya, mengusir aroma aspal basah yang sejak tadi mengikutinya. Di dalam ruangan, rak-rak kayu jati berdiri jangkung menimbun ribuan jilid buku tua berdebu yang tampak lelah karena terus-menerus menunggu pembaca yang tidak kunjung datang.

Di balik meja kasir berkaki timpang, seorang perempuan sedang menekur, menulis sesuatu pada buku agenda bergaris.

Rambutnya disanggul asal-asalan dengan bantuan sebatang pensil 2B, memperlihatkan tengkuknya yang putih bersih di bawah bias lampu neon lima watt. Kehadiran Hardy tidak membuatnya melompat kaget atau melempar senyum basa-basi khas pelayan toko swalayan moderen. Perempuan itu hanya mendongak sekilas, mencatat raut wajah Hardy ke dalam kepalanya, lalu kembali menggerakkan jemarinya di atas kertas.

“Cari buku apa jam dua belas malam begini?” suaranya dingin, menyerupai bunyi gesekan kertas semen.

Hardy mengibas-ngibas ujung jaket parasitnya yang basah. “Saya cuma mau numpang berteduh sampai hujan agak reda.”

Perempuan itu menutup agendanya dengan ketukan pelan. “Toko ini bukan halte bus, tapi silakan saja kalau mau melihat-lihat.”

Percakapan ketus itu justru membuat Hardy melangkah lebih dalam ke sela-sela rak. Ia melemparkan pandangannya secara acak pada judul-judul buku saku yang jilidnya sudah mulai lepas. Jari-jarinya menyentuh sebuah buku tipis tanpa sampul, kumpulan cerita pendek mistik terbitan tahun tujuh puluhan yang halamannya sudah sewarna air teh pekat.

Ketika Hardy membawa buku itu ke meja kasir, si perempuan menerimanya dengan gerakan jemari yang teratur.

“Sita,” ucap perempuan itu memperkenalkan diri tanpa mengulurkan tangan.

“Hardy,” jawabnya singkat sambil menyodorkan selembar uang dua puluh ribuan yang agak basah.

Pertemuan malam itu mengikat ingatan Hardy untuk kembali melintasi Gang Pinggir pada malam-malam berikutnya, bahkan saat langit sedang bersih tanpa awan. Sita selalu ada di sana, duduk menyendiri mengitari meja kasir, terkadang ditemani sebuah radio saku yang mendesiskan siaran ketoprak malam dari stasiun RRI lokal. Mereka mulai berbagi cerita dalam potongan-potongan obrolan hambar yang tidak pernah tuntas.

Sita mengaku mewarisi toko itu dari pamannya yang hilang secara misterius saat peristiwa kerusuhan dagang puluhan tahun silam.

Hardy membalas cerita itu dengan keluhan-keluhan kecil mengenai pekerjaannya sebagai buruh pemeriksa laporan keuangan, sebuah rutinitas menjemukan yang membuatnya merasa seperti angka yang salah hitung.

Malam ketujuh, kejanggalan itu datang tanpa ketukan pintu.

Hardy sedang membolak-balik halaman majalah harian lama di rak bagian belakang ketika ia menemukan sebuah amplop cokelat besar terselip di antara tumpukan dokumen inventaris toko. Di dalamnya terdapat berkas perkara kepolisian lengkap dengan foto-foto tempat kejadian perkara yang diambil secara kasar. Salah satu foto menampilkan jasad seorang pria paruh baya yang tewas mengenaskan di atas meja kasir toko Pustaka Tua ini, dengan luka robek besar di leher akibat hantaman bilah pisau pemotong kertas.

Mata Hardy terpaku pada lembar identitas korban di samping foto tersebut: Pemilik Toko, Hardy Pranoto, Tewas dalam Perampokan Malam Hari.

Darah di sekujur tubuh Hardy mendadak berhenti mengalir, seluruh sendinya kaku seketika saat menyadari nama dan wajah korban di dalam berkas itu adalah wajahnya sendiri, dengan pakaian yang persis sama dengan jaket parasit yang sedang ia kenakan saat ini.

Sita melangkah pelan dari balik rak buku, memegang sebuah pisau pemotong kertas bergagang besi yang berkilat di bawah lampu neon.

“Kamu selalu datang di jam yang sama, Hardy,” bisik Sita, matanya tidak lagi memancarkan ketenangan, melainkan kekosongan malam yang teramat pekat. “Kamu selalu datang setiap malam, membeli buku yang sama, dan melupakan fakta bahwa kamu sudah mati di atas meja ini tiga tahun lalu karena saya yang menggorok lehermu.”

Hardy mundur selangkah, napasnya tersedak di tenggorokan, sementara bau darah segar mendadak menyeruak hebat menggantikan wangi kamper dan minyak cengkih.

Sebelum ia sempat berteriak memanggil bantuan, sebuah hantaman keras mendarat di pintu kaca toko, memecahkannya menjadi serpihan kecil yang berhamburan di atas lantai semen. Seorang pria berseragam tentara tua masuk dengan napas memburu, mengarahkan moncong senapan laras panjangnya tepat ke dada Sita. Pria itu adalah paman Sita, pemilik asli toko yang selama ini dikabarkan hilang, wajahnya penuh kerutan dendam yang tidak pernah padam oleh waktu.

“Sudah waktunya kamu berhenti mengurung jiwa-jiwa korbanmu di toko sialan ini, Sita!” teriak pria tua itu dengan suara menggelegar, langsung menarik pelatuk senapannya tanpa menunggu jawaban.

Dentuman senjata api itu merobek keheningan Gang Pinggir, membuat seluruh pandangan Hardy mendadak berputar menembus dinding kegelapan yang pekat.

Saat Hardy membuka matanya kembali, ia dapati dirinya sedang berbaring telentang di atas aspal basah Gang Pinggir, dikerumuni oleh beberapa warga kampung dan seorang penjaga malam yang memegang senter ronda. Toko buku Pustaka Tua di hadapannya telah menjelma menjadi sebuah ruko kosong yang hangus terbakar, dipagari oleh garis polisi yang sudah rapuh dan ditumbuhi tanaman liar di sela-sela pintunya yang digembok rapat.

Bagikan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Plus Exclusive Smilies 3.0 Kaskus-style Large Kaskus-style Small Standard Smilies
:welcome
:terimakasih
:tepuktangan
:tepar
:sudahkuduga
:siapgan
:semangat
:sale
:pertamax
:pencet
:paket
:nyantai
:nulisah
:monggo
:merdeka
:kangen
:jones
:insomnia
:hargapas
:goyang
:garudadidadaku
:gagalpaham
:gaasik
:dor
:cih
:ceyem
:butuhpacar
:bokek
:belumtidur
:batik
:banggapakebatik
:ayoindonesia
:ngamuk
:lemparbata
:keepposting
:hansip
:cendolgan
:bigkiss
:xmas
:wow
:wkwkwk
:wakaka
:ultahhore
:ultah
:travel
:toast
:telolet4
:telolet3
:telolet2
:telolet1
:takut
:sup:
:sup2
:sorry
:shakehand2
:selamat
:salamkenal
:salaman
:salahkamar
:request
:repost:
:repost2
:repost
:recsel
:rate5
:peluk
:omtelolet
:nyepi
:nosara
:nohope
:ngakak
:ngacir2
:ngacir
:najis
:motret
:mewek
:matabelo
:marigerak
:marah
:malu
:maafaganwati
:maafagan
:lehuga
:kts:
:kr
:kiss
:kimpoi
:ketupat
:kbgt:
:kacau:
:jrb:
:imlek2
:imlek
:ilovekaskus
:iloveindonesia
:hoax
:hn
:hammer
:hai
:games
:entahlah
:dp
:cystg
:cool
:coblos
:cipok
:cendolbig
:cendol
:cekpm
:cd:
:cd
:catchemall:
:bola
:bingung
:bigo:
:betty
:berduka
:bedug
:batabig
:babygirl
:babyboy1
:babyboy
:angpau
:angel
:2thumbup
:1thumbup
:malu2
:siul
:newyear
:alay
:hoax2
:hope
:hotrit
:lapar
:mahongintip
:mewek2
:nerd
:pertamax
:rate
:sungkem
:supermaho
:thanks2
:tkp
:Yb
:takuts
:sundulgans
:shutups
:reposts
:ngakaks
:najiss
:malus
:mads
:kisss
:ilovekaskuss
:iloveindonesias
:hammers
:cendols
:cendolb
:cekpms
:capedes
:bookmarks
:bingungs
:bettys
:berdukas
:berbusas
:batas
:bata
:armys
:addfriends
:)b
;)
:wowcantik
:tv
:thumbup
:thumbdown
:think:
:tai
:tabrakan:
:table:
:sun:
:siul
:shutup:
:shakehand
:rose:
:rolleyes
:ricebowl:
:rainbow:
:rain:
:present:
:Phone:
:Peace:
:Paws:
:p
:Onigiri
:o
:norose:
:nohope:
:ngacir:
:moon:
:metal
:medicine:
:matabelo:
:malu:
:mad
:linux2:
:linux1:
:kucing:
:kissmouth
:kissing:
:kimpoi:
:kagets:
:hi:
:heart:
:hammer:
:gila:
:genit
:fuck:
:fuck3:
:fuck2:
:frog:
:fm:
:flower:
:exclamati
:email
:eek
:doctor
:D
:cool:
:confused
:coffee:
:clock
:ck
:buldog
:breakheart
:bingung:
:bikini
:berbusa
:beer:
:baby:
:babi:
:army
:anjing:
:angel:
:amazed:
:afro:
:)
:(