Toko buku loak milik Pak Hendrawan terhimpit di antara deretan kedai fotokopi lama dan warung soto madura yang pintunya sudah digembok sejak pukul sembilan malam. Gang sempit bernama Jalan Macanan itu luput dari ingatan dinas tata kota, sebuah garis tipis kusam yang dilewati orang-orang tanpa pernah mereka ingat setelahnya.
Bram menemukan tempat itu tanpa sengaja pada malam jahanam ketika kepalanya nyaris pecah dihantam berkas tagihan bank.
Langkah kakinya terseret menyusuri paving blok yang sebagian hancur dan digenangi sisa air got. Ia hanya ingin berjalan sampai lelah, membiarkan dadanya dirobek hawa malam yang lembap, berharap penat di otaknya menguap bersama asap knalpot bajaj. Kota Jakarta sesudah tengah malam selalu menawarkan jenis ketidakpedulian yang menenangkan.
Ia melihat pendar itu.
Sebuah lampu neon redup berkedip di atas papan nama bertuliskan Pustaka Sukma. Cahayanya menyiram tumpukan majalah jadul dan novel tebal bersampul lecek yang ditata di rak kayu luar toko.
Bram melangkah masuk ke dalam ruangan yang berbau apek kertas tua dan minyak kayu putih.
Di balik meja kayu jati yang sudah tergores sana-sini, duduk seorang perempuan muda, bukan Pak Hendrawan yang biasa digosipkan para peronda sebagai pemilik sah tempat itu. Perempuan itu mengenakan daster batik bermotif mega mendung yang sudah pudar warnanya. Ia tidak menunjukkan kepanikan, tidak pula menyapa dengan keramahan pramuniaga toko modern yang serba palsu.
Ia mendongak, menatap Bram dengan sepasang mata laron yang tenang, seolah kedatangan pria itu sudah tertulis di buku kas utamanya.
“Kamu terlambat,” kata perempuan itu sambil membalik halaman koran kuning tanpa suara.
Bram mengernyitkan dahi, membersihkan sisa gerimis di pundak jaketnya. “Terlambat untuk apa? Toko ini harusnya sudah tutup sejak sore, kan?”
Perempuan itu menutup korannya pelan. “Untuk ukuran orang yang tersesat, kamu terlalu banyak protes.”
Ucapan itu telanjur membuat Bram tersedak kata-katanya sendiri.
Ia mulai memandangi jajaran buku di rak tanpa arah yang jelas, membiarkan jemarinya menyentuh jilid-jilid tebal yang sebagian besar sudah dimakan rayap. Buku-buku di sini tidak dikelompokkan berdasarkan abjad atau jenis bahasan, melainkan berdasarkan tingkat kemuraman isinya. Romantisme picisan tahun delapan puluhan berjejer dengan catatan kriminalitas kota besar dan kumpulan puisi kematian.
Ketika Bram meletakkan sebuah buku saku sastra terjemahan di atas meja, perempuan itu menerimanya dengan gerakan lambat yang tertata.
“Nama saya Indira,” ucapnya mendadak, memotong keheningan sebelum menghitung uang kembalian.
“Bram,” jawabnya pendek, enggan memperpanjang urusan.
Pertemuan malam itu mengikat kaki Bram untuk kembali datang tiga hari kemudian. Ia beralasan pada dirinya sendiri bahwa ia hanya ingin mencari kelanjutan buku saku yang dibelinya kemarin, meski hatinya tahu ada sepotong rasa penasaran yang tumbuh liar di sela-sela lantai semen toko itu.
Indira selalu ada di sana, duduk memeluk cangkir enamel berisi air teh yang sudah dingin.
Mereka mulai mengobrol dalam potongan-potongan kalimat yang ganjil. Indira menceritakan bahwa Jalan Macanan ini dahulu adalah jalur utama perdagangan sebelum proyek pembangunan jalan layang tol memotongnya menjadi gang buntu yang mati. Bram membalasnya dengan keluhan tentang pekerjaannya sebagai buruh entri data yang setiap hari memelototi angka-angka mati yang tidak pernah menjadi miliknya.
Kejanggalan mulai merayap ketika malam kesepuluh jatuh bersama badai angin yang menerbangkan atap-atap seng tetangga.
Bram memperhatikan sebuah potret hitam putih yang dibingkai kayu jati di dinding belakang meja kasir, sebuah detail yang luput dari matanya selama seminggu ini. Di dalam foto itu, Indira berdiri di depan toko Pustaka Sukma ini dengan potongan rambut lama, bergandengan tangan dengan Pak Hendrawan muda. Di sudut bawah foto, tertulis angka tahun yang dibuat dengan tinta timbul: 1982.
Darah Bram mendadak mandek di pembuluh, tangannya yang memegang buku seketika kaku. Wajah Indira yang berada di depannya saat ini sama persis dengan perempuan yang ada di dalam foto empat puluh tahun lalu itu, tanpa ada satu pun kerutan baru di sudut matanya.
Indira menyadari arah pandangan Bram, lalu tersenyum, jenis senyuman hambar yang biasa dilemparkan orang-orang kalah di terminal bus.
“Hendrawan itu ayah saya, Bram. Dia meninggal seminggu setelah foto ini diambil karena tokonya dibakar massa saat kerusuhan,” suara Indira terdengar begitu datar, sedatar bunyi mesin tik tua yang kehabisan pita. “Saya memilih tetap di sini, menjaga buku-buku yang tidak sempat diselamatkan.”
Bram mundur dua langkah, napasnya memburu, mencium bau hangus yang mendadak menyeruak dari sela-sela buku tua di sekelilingnya. Pendar lampu neon di atas kepalanya mendadak padam, menyisakan kegelapan total dan suara derit pintu toko yang berayun ditiup angin malam.
Saat Bram menyalakan senter dari ponselnya, ruangan itu telah berubah menjadi puing-puing gosong dengan pilar kayu yang arang hitamnya sudah berlumut. Tidak ada Indira, tidak ada meja jati, yang tersisa hanya selembar kertas resi pembelian buku bertuliskan namanya sendiri dengan tanggal hari ini, tergeletak di atas lantai tanah yang basah oleh air hujan.