Di Kota Rimba Kelabu, legenda tentang rumah tua di ujung hutan selalu punya cara untuk merayap masuk ke celah saraf penduduk. Mereka menyebutnya Rumah Bayang. Konon, kegelapan berakar di sana, bersarang di balik dinding kayu yang lapuk dan lantai yang berderit memanggil kematian.
Malam itu hujan turun seperti dicurahkan dari langit yang murka. Bayu, Sinta, dan Dika berdiri di depan gerbang besi berkarat. Petir menyambar, menyinari wajah mereka yang pucat.
“Yakin kita mau masuk?” suara Bayu bergetar, nyaris tertelan guntur. “Cerita orang tua dulu tentang tempat ini, masa iya benar semua?”
Sinta memaksakan senyum, meski tangannya menggigil memegang senter. “Tinggal rumah tua, Bay. Mau takut apa? Orang cuma kayu sama batu.”
Mereka melangkah masuk.
Halaman depan terasa mencekik. Bau tanah basah bercampur aroma apak dedaunan busuk menyeruak. Pintu depan terbuka sedikit, menyambut mereka dengan rongga gelap yang menelan cahaya senter. Begitu kaki menapak di ruang tengah, udara berubah dingin. Sangat dingin.
Tiba-tiba, lampu senter mereka padam serempak.
Kegelapan total membungkus tubuh mereka seperti kain kafan. Suara bisikan merayap dari sudut plafon, memenuhi telinga dengan kalimat yang terdengar seperti kutukan kuno.
“Harusnya kalian tidak ke sini. Pergi sebelum waktu habis.”
Dika meraba dinding, mencari jalan keluar, tapi dinding itu terasa lembap dan berdenyut. Jantung mereka berdegup kencang, menghantam rusuk seolah ingin melompat keluar. Mereka tetap melangkah naik ke lantai dua, meski kaki terasa berat seperti ditarik gravitasi.
Bayangan di dinding bergerak. Mereka meliuk-liuk, memanjang, berubah rupa menjadi bentuk-bentuk yang tidak masuk akal.
“Kalian lihat itu?” bisik Sinta.
Belum sempat suara itu hilang, sesosok bayangan dengan mata cekung muncul dari balik kegelapan. Wujudnya abstrak, tangannya panjang dan kurus seperti ranting pohon kering yang tajam.
“Lari! Sekarang!” teriak Bayu.
Mereka berlari menembus lorong yang terasa semakin panjang. Rumah itu seolah hidup, mengubah tata letak ruangan agar mereka terjebak di dalam labirin ketakutan. Lorong yang tadi lurus tiba-tiba buntu. Pintu yang terbuka mendadak terkunci.
Mereka terpojok di sebuah ruangan kecil yang lembap. Di tengah ruangan, sebuah meja kayu tua berdiri kokoh dengan buku kulit usang di atasnya. Tulisan-tulisan aneh tercetak di sana, berpendar samar dengan warna kebiruan.
“Ini sumbernya,” Sinta menunjuk buku itu. Suaranya serak.
Dika menatap buku itu, membuang ketakutannya ke sudut pikiran. “Hancurkan. Bakar atau apalah. Selesaikan malam ini.”
Tangan mereka gemetar saat menyentuh sampul kulit dingin itu. Mereka membacakan mantra yang tercetak, tidak paham artinya, hanya berharap kegilaan ini berhenti. Energi meledak dari dalam buku, merambat ke seluruh penjuru rumah. Rumah bergetar hebat. Dinding mulai retak, atap ambruk, dan jeritan sosok bayangan itu memekakkan telinga.
Mereka terjatuh keluar dari reruntuhan saat fajar mulai mengintip. Napas mereka terengah, paru-paru terasa terbakar oleh debu dan sisa hujan. Rumah Bayang telah rata dengan tanah. Hanya menyisakan tumpukan kayu hitam dan bau hangus.
Penduduk Kota Rimba Kelabu bernapas lega. Teror berakhir.
Bayu, Sinta, dan Dika berjalan menjauh tanpa menoleh. Luka gores di tangan mereka perih, menyisakan jejak yang tidak akan pernah hilang. Namun, saat mereka menoleh untuk terakhir kali, angin sepoi-sepoi membawa bisikan lembut dari reruntuhan itu. Sesuatu yang gelap tidak pernah benar-benar mati. Sesuatu yang jahat hanya menunggu orang berikutnya yang cukup bodoh untuk melangkah masuk ke dalam jebakan.