Jam kiamat bukan alat pengukur waktu untuk menyeduh kopi atau mengejar rapat pagi. Ia adalah jam simbolis, sebuah metafora yang dirancang oleh sekelompok ilmuwan yang dulu ikut menggodok bom atom di Proyek Manhattan.
Sejak 1947, Bulletin of the Atomic Scientists menggunakan jam ini untuk memberi tahu dunia seberapa dekat kita dengan kehancuran total. Jika jarum jam menyentuh angka dua belas, itu adalah titik nadir. Kejadian itu menandakan kiamat hasil perbuatan manusia sendiri.
Awalnya, jam ini hanya menghitung ancaman nuklir yang membayangi perang dunia. Namun, seiring bumi yang makin renta, mereka memasukkan krisis iklim, ancaman biologis, serta teknologi liar seperti kecerdasan buatan ke dalam hitungan.
Jam ini bukan ramalan takdir yang tidak bisa diubah. Ia adalah pengingat.
Setiap tahun, para ahli dari dewan keamanan Bulletin, yang mencakup banyak peraih Nobel, duduk bersama untuk memutuskan apakah kita harus memajukan atau memundurkan jarum jam tersebut. Jika dunia terasa makin kacau dan pemimpin negara makin gemar mengancam dengan senjata, jarum jam bergerak semakin mendekati “tengah malam”.
Banyak orang mengkritik jam ini karena dianggap tidak saintifik atau terlalu dramatis. Namun, itulah tujuannya. Jam ini tidak diciptakan untuk menjadi alat ukur presisi, melainkan untuk memancing percakapan yang sulit, memaksa kita menatap cermin, dan menyadari bahwa eksistensi kita di planet ini jauh lebih rapuh daripada yang kita duga.
Hari ini, jam kiamat kembali berdetak mendekati ajal. Delapan puluh lima detik menuju tengah malam. Para ilmuwan di balik jam tersebut menyatakan bahwa umat manusia semakin dekat dengan lubang kuburnya sendiri. Ini rekor paling mematikan sepanjang sejarah.
Tengah malam, dalam logika mereka, berarti akhir segalanya.
Tahun lalu, jarum jam berada di posisi 89 detik. Sekarang, dipangkas empat detik lagi. Mengapa? Karena para penguasa bumi ini terlalu sibuk bertengkar daripada membenahi kekacauan nuklir, iklim yang makin mengamuk, ancaman biologis, serta kecerdasan buatan yang dibiarkan liar tanpa kendali.
Alexandra Bell, pemimpin Bulletin itu, menyebut kita gagal total dalam mengatasi risiko eksistensial. Kebohongan dan teori konspirasi pun merajalela, mengaburkan fakta hingga kita tidak lagi tahu mana yang nyata dan mana yang sekadar sampah informasi.
Negara-negara besar malah memilih menjadi lebih agresif dan egois berkedok nasionalis.
Alih-alih bekerja sama, mereka justru memamerkan taring militer. Perjanjian pembatasan senjata nuklir antara Amerika dan Rusia akan segera kedaluwarsa bulan depan. Untuk pertama kalinya dalam setengah abad, tidak ada lagi rem yang mencegah perlombaan senjata nuklir menjadi tak terkendali. Kita membiarkan pintu neraka terbuka lebar, lalu bertanya-tanya mengapa udara terasa begitu panas.
Di laboratorium, para peneliti biologi sintetis bermain-main dengan kehidupan tanpa rencana cadangan. Kita tidak punya perlindungan jika virus atau ancaman biologis baru tiba-tiba meledak. Kecerdasan buatan? Alat itu mempercepat penyebaran disinformasi, membuat kolaborasi global yang jujur menjadi mustahil. Tanpa fakta yang disepakati, kita bahkan tidak punya bahasa yang sama untuk bertahan hidup.
Dahulu, pada 1991, jam itu pernah bergerak menjauh hingga tujuh belas menit menuju tengah malam. Saat itu, manusia masih punya akal sehat untuk duduk bersama dan menandatangani perjanjian pengurangan senjata. Sekarang, akal sehat itu menguap entah ke mana.
Kita terjebak dalam delusi bahwa teknologi akan menyelamatkan kita, padahal kitalah yang menciptakan senjata untuk memusnahkan diri sendiri. Maria Ressa benar. Tanpa fakta, tidak ada kebenaran. Tanpa kebenaran, kepercayaan runtuh. Tanpa itu semua, demokrasi mati dan kita tidak punya dasar untuk bergerak bersama.
Jadi, apa yang bisa kita lakukan?
Berhenti menjadi penonton yang pasif. Berbicara dengan orang lain, berbagi kebenaran, menolak disinformasi. Mungkin terdengar sepele, seperti mengganti cara kita menghangatkan dan menyejukkan rumah atau mengurangi sampah plastik di dapur. Namun, ini adalah satu-satunya jalan keluar yang tersisa sebelum lonceng tengah malam benar-benar berbunyi.
Tunggu, apakah kita ingin terus menunggu lonceng itu berdentang?