PSSI kembali mempertontonkan drama di panggung sepak bola kita. Mereka memecat Shin Tae-yong tepat ketika mimpi menuju Piala Dunia 2026 sedang berada di titik paling masuk akal. Langkah ini terasa seperti melemparkan nakhoda ke laut saat kapal sedang membelah ombak besar menuju dermaga.
Erick Thohir menjatuhkan palu. Patrick Kluivert datang menggantikan sosok yang selama lima tahun terakhir membangun fondasi Garuda dari puing-puing. Publik bertanya-tanya tentang motif di balik kejutan tahun baru ini. Mengapa membuang orang yang baru saja mengalahkan Arab Saudi?
Shin memberikan harapan nyata. Kemenangan dua gol tanpa balas di bulan November membuktikan racikan taktiknya bekerja. Peringkat ketiga di kualifikasi Asia bukanlah keberuntungan semata. Kita masih punya empat pertandingan sisa. Jalan menuju Amerika, Kanada, dan Meksiko memang terjal, tetapi peluang masih membentang luas.
Kini dia diganti Kluivert. Riwayat manajerialnya tipis seperti kertas. Enam bulan di Adana Demirspor bukanlah prestasi yang membuat lawan gemetar. Curacao adalah satu-satunya tim nasional yang pernah dia pegang. Membandingkan statistik kedua pelatih ini seperti membandingkan buku teks dengan selebaran promosi. Petinggi PSSI berbisik tentang hilangnya kepercayaan. Pemain naturalisasi asal Belanda katanya enggan berdiskusi taktik dengan Shin. Ada tembok tebal antara pelatih dan pemain sejak kekalahan di Beijing. Soliditas menjadi alasan utama pemecatan ini. PSSI ingin harmoni di ruang ganti.
Mereka berharap Kluivert mampu menjahit keretakan tersebut. Nama besarnya diharapkan mampu meredam ego para pemain yang kini didominasi wajah-wajah dari Belanda. Minggu depan, dia akan diperkenalkan ke publik. Targetnya besar. Piala Dunia.
Jika target itu tercapai di tangan Kluivert, kita tidak boleh melupakan peran Shin. Pria Korea itu menghancurkan mimpi negaranya sendiri di ajang Olimpiade demi Indonesia. Dia meletakkan batu pertama bagi kebangkitan sepak bola kita. Warisan Shin bukan sekadar skor di papan pertandingan. Dia memberikan mentalitas yang sebelumnya hilang. Kluivert mewarisi tim yang sudah matang. Dia menaiki bus yang sudah disiapkan mesinnya oleh orang lain.
Sepak bola kita tetap menjadi tontonan penuh intrik. Kita berterima kasih pada Shin untuk keringatnya. Kita menunggu apakah Kluivert mampu membawa Garuda terbang tinggi atau justru sekadar menjadi babak baru dari ketidakpastian yang berulang.