Pemerintah Inggris akhirnya mengeluarkan larangan operasi perbaikan selaput dara. Mereka mengkategorikan tindakan tersebut sebagai tindak pidana. Keputusan ini mengikuti jejak pelarangan tes keperawanan yang lebih dulu mereka sahkan.
Dokter Edward Morris dari Royal College of Obstetricians and Gynecologists menyuarakan kegusaran. Ia melabeli semua praktik ini sebagai bentuk kekerasan sistemik terhadap perempuan. Kaum konservatif selalu punya cara untuk membungkus penindasan dengan kain kesucian.
Kita tidak boleh berhenti di legislasi Inggris. Masalah utama bukan sekadar tes atau operasi bedah. Masalahnya adalah konsep keperawanan itu sendiri. Gagasan ini berkuasa dengan tangan besi. Ia mencekik leher perempuan, baik di tanah yang mengaku liberal maupun di wilayah yang terang-terangan kolot.
Dunia heteronormatif menimbang nilai seorang gadis lebih rendah daripada anak laki-laki. Keperawanan menjelma komoditas. Ia ditukar dengan masa depan yang dijanjikan lebih cerah. Pernikahan menjadi pasar transaksi paling menjijikkan.
Martabat manusia dihancurkan atas nama pendidikan. Afrika Selatan pernah mengusulkan beasiswa dengan syarat penerima harus tetap perawan. Sungguh rendah derajat pendidikan saat ia menuntut kemurnian biologis sebagai harga bagi sebuah ilmu.
Batu penjuru budaya kemurnian ini sebenarnya keropos. Lynn Enright dalam bukunya membongkar kebohongan besar ini. Selaput dara bukan lapisan kulit kencang yang menjaga kehormatan organ intim. Ia sekadar lipatan tipis selaput lendir di lubang vagina.
Mitos ini memakan korban. Perempuan muda merasa tertekan untuk mencari jalan pintas. Seks anal menjadi pelarian agar keutuhan organ intim terjaga. Mereka melakukan itu di bawah bayang-bayang ketakutan.
Maskulinitas beracun merusak laki-laki sekaligus perempuan. Perjakaan bagi laki-laki dianggap aib. Sebaliknya, keperawanan perempuan dipuja sebagai harta yang harus dijaga.
Definisi seks menjadi sempit. Penetratif adalah harga mati. Hubungan antar sesama jenis tersingkir dari definisi ini. Remaja berada dalam bahaya besar. Mereka kehilangan arah untuk mengenali pelecehan seksual karena definisi seks yang mereka tahu hanya melibatkan penetrasi penis.
Keperawanan hanyalah fase hidup. Ia sama seperti masa gigi susu. Orang akan melewatinya. Saat ia menjadi identitas yang memicu rasa malu atau alat kontrol, saat itulah kekerasan merajalela. Perempuan menjadi mangsa bagi teman sebaya atau keluarga sendiri.
Organisasi Kesehatan Dunia menegaskan tes keperawanan adalah masalah sosial, budaya, dan politik. Penghapusannya menuntut perubahan total masyarakat.
Jangan lagi memberi ruang bagi dongeng yang menghancurkan kemanusiaan. Singkirkan makna yang selama ini kita gantungkan pada selaput lendir tersebut. Biarkan manusia berdiri sebagai manusia. Bukan sebagai komoditas yang dinilai dari robekan kain tipis di bagian tubuh yang paling privasi.