Tujuh puluh lima ribu tahun lalu, manusia pertama menginjakkan kaki di gugusan pulau yang kelak disebut Nusantara. Mereka pemburu-pengumpul yang tidak punya ambisi menguasai samudera. Namun, dua milenium sebelum Masehi, datanglah orang-orang Austronesia. Pelaut ulung. Mereka menyebar dari Madagaskar sampai Hawaii, membawa bahasa dan peradaban yang kelak memeluk samudera antara Hindia dan Pasifik.
Begitulah awal mula sebuah negeri yang kini menampung dua ratus delapan puluh juta jiwa. Negeri dengan populasi Muslim terbesar di planet ini. Sayang sekali, dunia barat sering lupa menaruh Jakarta di peta. Mereka terlalu sibuk dengan ego mereka sendiri.
David Van Reybrouck mencoba merangkai serpihan sejarah yang berserakan ini dalam buku berjudul Revolusi. Tugas yang monumental. Menggali ingatan tentang tujuh belas ribu pulau bukanlah pekerjaan enteng.
Perjalanan sejarah ini tidak dimulai dengan romansa. Ia dimulai dengan bau rempah. Lada, pala, cengkeh, kayu manis. Bumbu-bumbu ini bernilai emas di pasar Eropa. Orang Portugal mencari jalan memutar lewat Tanjung Harapan demi memangkas biaya perantara.
Tahun 1596, Cornelis de Houtman tiba di Jawa. Ia tidak datang untuk belajar budaya. Ia datang untuk mengeruk laba. Enam tahun kemudian, Belanda mendirikan VOC. Perusahaan dagang yang bertindak layaknya negara. Mereka punya tentara, membangun benteng, dan memaksa penduduk lokal tunduk. Tahun 1619, Batavia berdiri di atas reruntuhan. Jakarta lahir dari keserakahan.
VOC tidak punya tujuan lain selain memperkaya pemegang saham. Tidak ada ruang bagi moral di sana. Proyek dagang berubah menjadi perampasan wilayah. Belanda menukar Manhattan yang berawa dengan Pulau Run di Kepulauan Banda yang penuh pala. Mereka membantai siapa saja yang menghalangi jalan.
Napoleon mengacaukan Eropa, Inggris sempat menyerobot Jawa di bawah Raffles, tapi Belanda merebut kembali kendalinya. William I memeras keringat penduduk Hindia demi mengisi kas kerajaan yang nyaris kosong.
Kehidupan di koloni tampak seperti kapal uap yang penuh sesak dan rasis. Belanda menciptakan kasta berdasarkan etnis. Eropa di puncak, Timur Asing di tengah, dan pribumi di dasar.
Sukarno, anak seorang guru dari golongan bangsawan rendah, muncul di tahun 1920-an. Ia menggabungkan nasionalisme, Marxisme, dan Islam menjadi satu gerakan. Ia menggunakan kata Indonesia. Kata yang dicetuskan oleh seorang petualang Inggris.
Perang dunia kedua membuka celah. Jepang datang mengusir Belanda. Pemuda dididik, milisi dibentuk, dan dekolonisasi dipromosikan. Agustus 1945, Jepang menyerah. Belanda belum sempat kembali. Sukarno memproklamasikan kemerdekaan. Rakyat menyambutnya dengan jantung berdebar. Belanda, yang baru saja bebas dari pendudukan Jerman, justru bertindak seperti penjajah yang haus darah. Mereka mengkhianati setiap perjanjian yang ditandatangani.
Lima tahun berikutnya menjadi catatan paling brutal dalam sejarah. Belanda mengerahkan pasukan untuk merebut kembali sapi perah mereka. Inggis dan Amerika berdiri di belakang Belanda. Di sisi lain, para pemuda melakukan kekerasan yang tidak kalah mengerikan. Namun, kemarahan sejarawan jatuh pada politisi dan perwira Belanda. Mereka menggunakan penyiksaan sebagai alat kendali.
Kapten Raymond Westerling, komandan pasukan khusus Belanda ini punya metode sendiri di Sulawesi Selatan. Ia mengepung desa sebelum fajar. Warga dikumpulkan di alun-alun. Jika seseorang punya senter atau baju hijau, ia dianggap tersangka. Westerling menembak kepala mereka di tempat. Korban lain dipaksa berdiri tegak, lalu ditembak kakinya satu per satu sebelum dihabisi. Desa-desa dibakar habis. Westerling tidak pernah dihukum. Ia pensiun di Belanda, menghabiskan masa tua sebagai penjaga kolam renang sambil membanggakan kejahatannya pada para perenang.
PBB akhirnya turun tangan. Tekanan Amerika memaksa Belanda menyerahkan kedaulatan di akhir 1949. Sukarno terbang ke Jakarta untuk berpidato di tangga istana gubernur jenderal. Indonesia resmi berdaulat. Seorang anggota parlemen Belanda, Jacques de Kadt, menulis penyesalan atas keserakahan bangsanya. Ia menyebut mereka tiran dan penipu. Segala kehancuran yang terjadi adalah hasil dari kebodohan dan kesombongan para politisi yang berpandangan sempit.
Sejarah yang ditulis Van Reybrouck adalah cermin. Kita menatap wajah kita sendiri dalam kekacauan yang ditinggalkan. Tidak ada lagi musuh dari seberang laut. Kini, kitalah yang memegang kemudi kapal ini. Apakah kita sudah belajar dari masa lalu, atau kita akan mengulang kembali kebodohan yang sama dengan kostum yang berbeda? Itu adalah persoalan yang harus kita jawab sendiri. Tanpa perlu menunggu jawaban dari sejarawan atau politisi di Den Haag.