Bank Dunia menurunkan kelas kita. Indonesia kembali terperosok menjadi negara berpendapatan menengah bawah. Dua dekade pembangunan yang kita banggakan seolah menguap begitu saja. Para pejabat mungkin sibuk memoles angka agar terlihat tidak memalukan. Mereka menyebut ini kemunduran sementara. Padahal, penurunan ini mencerminkan kegagalan model pembangunan yang selama ini kita puja.
Kita terlalu terobsesi mengejar pertumbuhan lima persen setiap tahun. Kita lupa bertanya ke mana perginya kue ekonomi itu.
Angka ketimpangan berteriak dengan nyaring di balik laporan statistik. Gini rasio kekayaan mencapai angka tujuh puluh tujuh. Kekayaan hanya menumpuk di puncak piramida. Sisa remah-remah jatuh ke bawah, sementara orang miskin harus bersyukur dengan jaring pengaman sosial yang tipis. Pemerintah mengklaim rasio ketimpangan pengeluaran mereka cukup terjaga di angka tiga puluh delapan. Sebuah angka yang mereka banggakan demi menutupi realitas pahit di lapangan.
Pandemi datang menghantam.
Ekonomi terkontraksi dua persen lebih. Ini kali pertama kita mengalami kontraksi dalam kurun waktu dua puluh tahun terakhir. Pendapatan per kapita jatuh ke bawah batas yang ditetapkan Bank Dunia. Kita kehilangan posisi sebagai negara berpendapatan menengah atas. Kita kembali ke titik nol.
Si kaya mungkin merasa sedikit sesak karena harta mereka berkurang secara statistik. Namun, mereka memiliki bantalan yang tebal untuk bertahan dari hantaman badai. Nasib buruh dan warga miskin jauh lebih mengenaskan. Mereka kehilangan pekerjaan. Mereka harus mengantre bansos untuk menyambung hidup.
Badan Pusat Statistik mencatat lebih dari satu juta orang jatuh ke bawah garis kemiskinan hanya dalam enam bulan pertama pandemi. Jumlah ini terus merangkak naik. Keluarga yang sebelumnya berada di ambang kemiskinan kini terjerumus ke jurang yang lebih dalam. Kita tidak bisa terus menipu diri dengan rata-rata ekonomi yang indah di atas kertas.
Pemerintah masih berkutat dengan ambisi lama. Undang-undang cipta kerja dan reformasi pajak mereka tetap berfokus pada investasi besar. Mereka percaya pertumbuhan akan menetes ke bawah dengan sendirinya. Keyakinan naif yang sudah terbukti gagal selama dua dekade ini. Kita tidak bisa membiarkan rakyat miskin menunggu tetesan yang tidak pernah sampai ke meja makan mereka.
Saatnya membuang jauh-jauh model pembangunan yang pincang ini. Kita butuh cara baru yang memastikan kesejahteraan bukan milik segelintir orang.