Negeri ini telah berubah menjadi pasar malam yang bising, di mana suara rakyat tak lebih dari barang dagangan yang bisa ditawar dengan keping-keping uang haram. Kita menyebutnya demokrasi, padahal sesungguhnya kita hanya sedang menyaksikan sebuah pertunjukan teater murahan di mana naskahnya ditulis oleh para pemilik modal dan aktornya hanyalah boneka-boneka yang telah dibeli jiwanya.
Sungguh menggelikan melihat mereka yang duduk di kursi kekuasaan berpura-pura terkejut dengan kenyataan bahwa delapan puluh dua persen calon kepala daerah hanyalah pesuruh para cukong. Mengapa harus terkejut? Bukankah sejak pertama kali pilkada langsung digelar, kita semua tahu bahwa kursi kekuasaan telah dipasang label harga layaknya barang di toko kelontong? Biaya politik yang selangit bukan sekadar angka, ia adalah darah yang harus dibayar oleh calon pemimpin dari rakyat yang sudah melarat. Bagaimana mungkin seseorang dengan harta yang tak seberapa berani melangkah ke gelanggang jika bukan dengan menggadaikan lehernya pada mereka yang punya uang?
Kalian menyebut ini pilkada. Sayau menyebutnya pasar budak modern.
Lihatlah betapa rajinnya mereka membeli dukungan partai. Mahar politik bukan lagi rahasia, ia adalah ritual wajib bagi siapa saja yang ingin mencicipi manisnya kekuasaan. Lalu, ketika sang pemenang akhirnya duduk di singgasana, apa yang ia lakukan? Ia mulai melayani tuannya. Perizinan diobral, proyek-proyek pemerintah dibagi-bagikan sebagai imbalan budi, dan jabatan-jabatan strategis diserahkan kepada mereka yang telah mendanai kemenangan itu. Tidak ada makan siang gratis dalam dunia mereka. Rakyat hanyalah penonton yang bertepuk tangan saat tanahnya dirampas dan nasibnya diatur oleh pemerintah bayangan yang bernama cukong.
Para penguasa di Jakarta hanya bisa bermain wacana. Mereka sibuk mengurai masalah dengan laporan-laporan tebal yang hanya berakhir di keranjang sampah. Mereka bicara tentang regulasi, tentang pelaporan dana kampanye, padahal mereka sendiri tahu betul bahwa pembukuan hanyalah dusta yang disusun rapi untuk menipu mata hukum. Mereka membiarkan pilkada dibajak hingga kehilangan nafasnya sendiri. Akhirnya, yang kita punya bukanlah demokrasi dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat, melainkan sebuah demokrasi cukong yang berwajah busuk dan berhati kejam.
Jangan lagi mengigau tentang integritas jika kalian sendiri membiarkan sistem ini terus membusuk. Selama mahar politik masih menjadi pintu masuk bagi kekuasaan, selama itu pula kepala daerah akan terus berbaris menuju jeruji besi karena terjerat hutang budi pada para pemodal. Pilkada bukan lagi alat untuk memilih pemimpin, ia telah menjadi alat untuk memindahkan kekayaan negara ke kantong segelintir orang kuat lokal.
Berhentilah bermain sandiwara. Jika kalian masih memiliki sisa kehormatan, berhentilah berwacana dan mulailah melacak aliran uang haram itu sampai ke akar-akarnya. Tapi, Saya pesimistis. Bagaimana mungkin kalian bisa menangkap cukong jika kalian sendiri adalah bagian dari permainan mereka? Demokrasi telah kalian kebiri, dan kini kita hanya sedang menunggu saat di mana seluruh negeri ini benar-benar tergadai oleh mereka yang punya uang paling banyak.