Kabar tentang virus korona sedang memenuhi ruang dengar kita saat ini. Surat kabar memasang tajuk utama dengan huruf tebal, siaran berita berteriak di layar televisi, dan orang-orang di media sosial kehilangan akal sehat karena ketakutan yang menjalar. Kita berenang dalam lautan informasi yang keruh, di mana fakta sering bercampur dengan spekulasi liar.
Para ilmuwan melacak asal virus ini melalui kode genetik. Mereka menemukan kemiripan dengan kode yang bersemayam dalam tubuh kelelawar. Ini bukan kali pertama virus melompat dari dunia hewan ke manusia. Tercatat tujuh jenis korona melakukan lompatan serupa, dan varian Covid-19 menjadi nomor tujuh dalam daftar panjang tersebut.
Pasar basah di Wuhan dicurigai sebagai titik awal penyebaran. Meski kelelawar tidak dijual secara langsung di sana, teori menyebutkan hewan lain yang diperdagangkan telah terinfeksi lebih dulu. Mereka menjadi jembatan bagi virus untuk menyusup ke tengah kerumunan manusia.
Virus ini memiliki kerabat dekat yang cukup kejam. Middle East respiratory syndrome (MERS) dan Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS) pernah membuat dunia mencekam beberapa tahun silam. Keduanya merenggut ribuan nyawa sejak awal dua milenium. Sejarah mencatat betapa mematikannya sepupu-sepupu virus ini.
Anak-anak tampak lebih kebal dibanding orang dewasa. Data di Amerika menunjukkan angka penderita anak-anak sangat kecil. Teori menyebutkan reseptor dalam tubuh mereka mungkin menolak virus yang mencoba menempel. Kejadian serupa terjadi saat wabah terdahulu muncul.
Ilmuwan masih berupaya membedah rahasia di balik imunitas alami pada tubuh anak-anak. Jawaban yang mereka cari memegang kunci menuju penemuan obat.
Organisasi Kesehatan Dunia menyatakan status pandemi pada Maret 2020.
Sang ketua meminta negara-negara menyeimbangkan kesehatan masyarakat dengan hak asasi. Ia percaya tindakan yang benar dengan kepala dingin masih bisa dilakukan untuk melindungi warga dunia. Pemerintah harus bekerja keras tanpa melupakan martabat manusia dalam kebijakan mereka.
Virus ini tidak menyebar melalui udara. Data menyatakan penularan terjadi lewat kontak dekat. Seseorang harus menghabiskan waktu setidaknya lima belas menit dalam jarak dekat dengan penderita untuk terinfeksi. Menutup mulut saat bersin atau batuk dengan tisu lalu membuangnya segera menjadi langkah sederhana yang paling manjur. Mencuci tangan sesering mungkin mematikan peluang virus menetap di permukaan benda.
Tetap tenang dan waspada menjadi kunci utama. Jika merasa tertular, hubungi layanan kesehatan lewat telepon dan mintalah saran untuk mengisolasi diri. Tidak perlu panik berlebihan atau ikut arus kepanikan massa yang tidak berdasar. Segala bentuk kepanikan justru lebih cepat membunuh daripada virus itu sendiri.