Filosofi Pion Catur

Rabu malam. Langit Grand Karangwangsa tumpah. Hujan melumpuhkan jalanan. Belasan motor merapat ke emperan toko. Tirta salah satunya. Setang motor bebek pinjaman itu berbelok ke parkiran lobi selatan. Atap beton melindunginya dari amukan air. Di balik kaca butik, gaun-gaun malam wanita berjejer kaku.

Saku celana Tirta bergetar. Pesan dari Jaka.

“Lo di mana? Belum balik juga. Pacar lo nanyain terus. Kuping gue budek.”

Tirta mengetik balasan dengan jempol kaku. “Kejebak hujan di pelataran toko.”

Bau jas hujan plastik basah menyengat hidung. Asap rokok mengepul dari mulut orang-orang yang berteduh. Bosan, Tirta melangkah masuk. Ruko grosir pakaian konveksi. Pengap. Kain dan manekin berderet hingga lantai dua.

Langkahnya mendadak terhenti. Sebuah toko pakaian wanita bernuansa Jepang berdiri di sudut. Di balik kaca, manekin memakai busana musim dingin Tokyo. Pandangan Tirta tertuju pada stoking belang hitam putih yang membungkus kaki plastik itu. Pikiran Tirta langsung terbang pada kaki Listy.

“Ada yang perlu dibantu, Pak?” Seorang wanita pramuniaga membungkuk sopan.

“Boleh saya melihat ke dalam?”

“Silakan, Pak.”

Tirta melangkah melewati karpet, mendekati manekin. “Mbak, stoking belang ini dijualnya terpisah?”

“Aksesori boleh dibeli terpisah, Pak.”

“Saya ambil satu.”

Pramuniaga itu tersenyum geli. “Harus sepasang, Pak. Kaki kanan dan kiri.”

Tirta menepuk jidat. “Maksud saya satu pasang. Masa sebelah.”

“Mohon tunggu di kasir, Pak.”

Gerimis tipis menyisakan hawa dingin saat Tirta keluar lobi. Tangan kanannya meremas kantong plastik kecil berisi stoking belang. Setengah jam kemudian, motor bebek itu membelah sisa genangan kota.

***

Kamar kos Tirta sudah sewangi sabun mandi. Tirta sedang merapikan rambut di depan cermin saat pintu kamarnya jebol terbuka. Listy berdiri di ambang pintu, menyeringai lebar.

“Jam segini baru sampai rumah?”

“Ketuk pintu dulu kalau masuk kamar orang,” sahut Tirta ketus. “Bagaimana kalau aku sedang telanjang?”

Listy terkekeh. Melangkah masuk tanpa beban. “Kamu sedang berpakaian lengkap, kan?”

Tirta mendengus.

“Sudah makan?”

Tirta menggeleng.

Listy mengeluarkan tangan dari balik punggung. Sebungkus mi ayam kuah, uapnya masih mengepul dari balik plastik bening. “Mi ayam langgananmu di pertigaan. Masih hangat.”

“Sempurna. Perutku sudah lapar.”

“Aku taruh di atas kasur.”

“Terima kasih, Lis. Aku punya sesuatu untuk kamu.”

Mata Listy melebar. “Apa?”

Tirta berbalik. Lemari pakaian berkaki tiga dibuka kasar. Lipatan baju diaduk. Kantong plastik butik itu lenyap. Tas kerja dibongkar. Kolong kasur diraba. Kantong jaket jinsnya yang lembap diperiksa. Nihil.

“Cari apa, Tir?” Listy mengernyit.

“Aku lupa menaruhnya.” Tirta menggaruk kepala. Barang itu pasti terbawa sampai kos. Atau tertinggal di gantungan motor? Jatuh saat membayar parkir? Sial.

“Maaf, Lis. Barangnya hilang. Tertinggal di luar.” Tirta menunduk, malu.

Listy tersenyum tenang. “Tidak apa-apa. Habiskan dulu mi ayammu, keburu bengkak.”

Perempuan itu berbalik, melangkah ke kamarnya.

Satu jam kemudian, papan catur sudah tergelar di lantai semen selasar.

Luncur hitam Listy bergerak cepat, menusuk sisi kanan pertahanan Tirta. Tirta mendorong satu pion. Ruang gerak luncur terkunci.

“Tidak akan kubiarkan lolos,” gumam Tirta.

Listy menopang dagu, mendengus.

“Heleh, asyik benar yang sedang pacaran malam-malam.” Suara berat Jaka memecah keheningan. Dia muncul dari kamar, memakai jaket tebal, memegang kunci motor. Siap berangkat sif malam.

“Siapa yang pacaran?” Listy membentak. “Aku sama Tirta? Seleraku tidak seburuk itu, Jak.”

“Aku juga mikir dua kali kalau harus jalan sama kamu,” balas Tirta.

Jaka tertawa, menyampirkan ransel.

Tirta melirik Listy. Di bawah lampu selasar yang remang, pipi perempuan itu memerah.

“Sudah, Jak. Cepat berangkat, nanti kamu terlambat absen,” usir Tirta.

Tirta kembali menatap papan catur. Matanya membelalak. Rajanya terjepit menteri musuh. “Sejak kapan menterimu ada di situ?”

“Sejak kamu sibuk mengusir Jaka. Skak mat,” ucap Listy pongah.

“Tidak sah. Kenapa kedua luncurmu berada di atas kotak hitam?” Tirta menunjuk dua gajah milik Listy. “Kamu curang!”

Listy melongo. Memeriksa papan sebelum wajahnya merona. “Eh, maaf. Aku salah menggeser petak saat memakan kudamu tadi.” Dia menarik kembali luncurnya ke kotak putih.

“Pantas selama ini aku kalah telak.”

“Aku salah lihat petak, Tir. Sumpah.”

“Orang curang pasti banyak alasan.”

Sepuluh menit berikutnya berjalan lambat. Tirta mengawasi setiap jengkal pergerakan jemari Listy. Suasana menegang.

“Skak!” Tirta menghentakkan menterinya, melibas pion pelindung terakhir milik Listy.

Listy terdiam. Matanya menatap papan, tapi pikirannya terbang. Dia tidak menggerakkan raja.

“Hei.” Tirta melambaikan tangan di depan wajah Listy. “Rajamu terancam. Malah melamun.”

“Maaf. Pikiranku terlempar ke hal lain.” Listy menarik napas panjang. “Aku sedang memikirkan nasib pion kecil ini. Aku merasa hidupku tidak ada bedanya dengan pion ini. Kecil, tidak punya kuasa, selalu dikorbankan, dan dianggap remeh. Aku selalu merasa kerdil di hadapan dunia. Bahkan di depanmu.”

“Sini, biar aku beri tahu satu hal, Listy manis.” Tirta merebut pion kayu dari genggaman Listy, meletakkannya di petak kosong. “Pion ini memang terlihat tidak berharga di awal. Tapi, kalau dia sanggup bertahan menembus gempuran dan berhasil menginjakkan kaki di petak terakhir pertahanan musuh…” Tirta menggeser pion itu hingga ke ujung papan, lalu menggantinya dengan menteri yang mati. “…dia bermetamorfosis menjadi kekuatan terbesar. Dia bisa menjadi benteng, kuda, atau menteri yang ditakuti.”

Listy terpaku.

“Hidup kita menganut hukum yang sama,” lanjut Tirta, suaranya menekan. “Kalau kamu sanggup bertahan melewati badai, suatu hari kamu akan berdiri lebih tinggi dari orang-orang yang pernah merendahkanmu. Kamu akan menjadi sesuatu yang berarti bagi dunia. Aku menerima kamu apa adanya.”

Listy mendadak tertawa lepas. Ketegangan pecah. “Bisa saja kamu merangkai kata-kata bijak. Kita ini sedang tanding catur atau menghadiri seminar motivasi?”

“Kamu yang mulai drama filosofi pion tadi.”

“Tapi kata-katamu ada benarnya juga,” Listy menatap lurus mata Tirta. “Suatu hari, aku akan buktikan kepada dunia. Aku akan menjadi penguasa atas hidupku sendiri.”

Bagikan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Plus Exclusive Smilies 3.0 Kaskus-style Large Kaskus-style Small Standard Smilies
:welcome
:terimakasih
:tepuktangan
:tepar
:sudahkuduga
:siapgan
:semangat
:sale
:pertamax
:pencet
:paket
:nyantai
:nulisah
:monggo
:merdeka
:kangen
:jones
:insomnia
:hargapas
:goyang
:garudadidadaku
:gagalpaham
:gaasik
:dor
:cih
:ceyem
:butuhpacar
:bokek
:belumtidur
:batik
:banggapakebatik
:ayoindonesia
:ngamuk
:lemparbata
:keepposting
:hansip
:cendolgan
:bigkiss
:xmas
:wow
:wkwkwk
:wakaka
:ultahhore
:ultah
:travel
:toast
:telolet4
:telolet3
:telolet2
:telolet1
:takut
:sup:
:sup2
:sorry
:shakehand2
:selamat
:salamkenal
:salaman
:salahkamar
:request
:repost:
:repost2
:repost
:recsel
:rate5
:peluk
:omtelolet
:nyepi
:nosara
:nohope
:ngakak
:ngacir2
:ngacir
:najis
:motret
:mewek
:matabelo
:marigerak
:marah
:malu
:maafaganwati
:maafagan
:lehuga
:kts:
:kr
:kiss
:kimpoi
:ketupat
:kbgt:
:kacau:
:jrb:
:imlek2
:imlek
:ilovekaskus
:iloveindonesia
:hoax
:hn
:hammer
:hai
:games
:entahlah
:dp
:cystg
:cool
:coblos
:cipok
:cendolbig
:cendol
:cekpm
:cd:
:cd
:catchemall:
:bola
:bingung
:bigo:
:betty
:berduka
:bedug
:batabig
:babygirl
:babyboy1
:babyboy
:angpau
:angel
:2thumbup
:1thumbup
:malu2
:siul
:newyear
:alay
:hoax2
:hope
:hotrit
:lapar
:mahongintip
:mewek2
:nerd
:pertamax
:rate
:sungkem
:supermaho
:thanks2
:tkp
:Yb
:takuts
:sundulgans
:shutups
:reposts
:ngakaks
:najiss
:malus
:mads
:kisss
:ilovekaskuss
:iloveindonesias
:hammers
:cendols
:cendolb
:cekpms
:capedes
:bookmarks
:bingungs
:bettys
:berdukas
:berbusas
:batas
:bata
:armys
:addfriends
:)b
;)
:wowcantik
:tv
:thumbup
:thumbdown
:think:
:tai
:tabrakan:
:table:
:sun:
:siul
:shutup:
:shakehand
:rose:
:rolleyes
:ricebowl:
:rainbow:
:rain:
:present:
:Phone:
:Peace:
:Paws:
:p
:Onigiri
:o
:norose:
:nohope:
:ngacir:
:moon:
:metal
:medicine:
:matabelo:
:malu:
:mad
:linux2:
:linux1:
:kucing:
:kissmouth
:kissing:
:kimpoi:
:kagets:
:hi:
:heart:
:hammer:
:gila:
:genit
:fuck:
:fuck3:
:fuck2:
:frog:
:fm:
:flower:
:exclamati
:email
:eek
:doctor
:D
:cool:
:confused
:coffee:
:clock
:ck
:buldog
:breakheart
:bingung:
:bikini
:berbusa
:beer:
:baby:
:babi:
:army
:anjing:
:angel:
:amazed:
:afro:
:)
:(