Stoking Putih Listy

“HUUAA! JAM SETENGAH SEMBILAN!”

Teriakan Tirta membelah keheningan pagi, membuat botol parfum murah di atas meja kos bergoyang. Pemuda itu melompat dari kasur busa dengan mata melotot, menatap jarum jam dinding yang seolah sedang menertawakannya.

“Berisik, Tir. Kuping gue nggak budek,” sahut Jaka dari sudut ruangan, tangannya sibuk mengucek mata yang masih belepotan kotoran pagi.

“Kenapa nggak bangunin gue, Jak? Kita bisa telat massal ini!” Tirta menyambar handuk kusamnya dengan panik.

Jaka malah menunjuk sudut bibirnya yang masih menyisakan bekas air liur kering. “Nih, lihat sendiri. Gue juga baru mendarat dari alam mimpi. Nyantai saja, nggak usah seperti dikejar utang bank keliling.”

Tirta mematung, menatap nanar seragam pabriknya yang masih tergantung di kapstok besi. Ini rekor sejarah selama enam bulan dia bekerja di kawasan industri Karangwangsa. Belum pernah sekalipun dia absen atau terlambat. Bayangan wajah mandor pabrik yang hobi memaki dengan absen absen binatang mendadak menari-nari di pelupuk matanya.

“Terus mau gimana? Lo mau maksain berangkat?” Jaka merebahkan kembali badannya, berbantalkan kedua tangan. “Bayangin saja muka lo dibilas makian dua jam penuh oleh si bos gara-gara terlambat. Pilih mana?”

Tirta terdiam. Logika Jaka masuk akal, atau lebih tepatnya, memberikan pembenaran yang sangat dia butuhkan saat ini.

“Jadi?” tanya Tirta, suaranya melunak.

“Tidur lagi,” jawab Jaka enteng.

Hasrat untuk menjadi karyawan teladan mendadak runtuh, berganti dengan godaan selimut yang luar biasa magis. Menikmati hari bolos seolah hari kemerdekaan nasional rasanya bukan ide yang buruk.

“Tapi, Jak, absensi kita gimana? Kalau tanpa keterangan, bonus bulanan bisa hangus,” Tirta masih bimbang.

“Tinggal bilang kalau kita mendadak demam berdarah atau salah urat. Beres, kan?”

“Sakit kan harus pakai surat keterangan dokter, Jaka.”

Jaka mendengus, menertawakan kepolosan sahabatnya. “Halah, macam nggak tahu dunia saja. Uang sepuluh ribu perak di klinik depan gang sudah bisa menyulap selembar kertas kosong jadi surat sakti penuh cap basah. Sudah, tahu beres saja. Nanti sore gue yang meluncur ke klinik.”

“Lo serius?”

“Dua rius, Tir. Sampai seribu rius gue jamin aman.” Jaka tertawa lebar, memperlihatkan deretan giginya yang tidak terlalu rapi.

Tirta akhirnya menyerah. Dia merebahkan kembali tubuhnya ke bantal. Persetan dengan target produksi pabrik hari ini. Toh, sekali-sekali mencicipi nikmatnya melanggar aturan tidak akan membuat dunia kiamat. Namun, baru saja matanya hendak terpejam, sebuah bayangan mengerikan memotong isi kepalanya.

“Eh, gimana dengan perempuan di kamar sebelah?” Tirta mendadak teringat Listy.

Jaka menguap lebar. “Mana gue tahu? Gue kan baru bangun. Coba lo intip ke kamar sebelah, jangan-jangan dia sudah angkat kaki dari kosan ini.”

“Kenapa kalau urusan yang begini selalu gue yang ketiban sial?” protes Tirta.

“Ya ampun, Tir, cuma nengok tetangga saja hitung-hitungan amat. Tidak ada pahalanya pisan lo hidup.”

“Lo sajalah yang lihat.”

“Ya sudah, anggap saja perempuan itu masih tidur nyenyak di kamar gue. Beres, kan?” Jaka membalikkan badan, memunggungi Tirta.

Tirta mendengus gusar. Sifat Jaka yang selalu menggampangkan segala sesuatu kadang membuat urat sarafnya menegang. Mau tidak mau, dengan langkah gontai dia berjalan keluar meniti selasar menuju kamar Jaka. Pintunya tidak terkunci rapat. Tirta mendorong daun pintu kayu itu perlahan, nyaris tanpa suara.

Di dalam kamar yang temaram, Listy sudah terbangun. Dia duduk bersandar pada dinding semen, memeluk kedua lututnya. Sebagian rambut panjangnya yang acak-acak menutupi sela-sela wajah, sementara matanya terpejam erat.

“Hei, selamat pagi,” Tirta menyapa dengan volume suara yang dia atur seramah mungkin.

Hening. Tidak ada riak jawaban. Kamar itu mendadak terasa seperti kuburan. Tirta tahu pasti bahwa perempuan itu tidak tuli.

“Selamat pagi, Listy…” Tirta mengulangi kalimatnya, kali ini melangkah lebih dekat.

Kelopak mata Listy terbuka lambat. Dia menatap Tirta lurus-lurus. Sialan, Tirta merinding seketika. Tatapan mata itu kosong, dingin, dan seolah bisa melubangi jidat Tirta saat itu juga. Tirta mematung, menunggu bibir tipis itu mengeluarkan setidaknya satu suku kata. Namun, nihil. Senyum ramah di wajah Tirta perlahan luntur, berganti rasa canggung yang luar biasa.

“Bangun jam berapa tadi?” Tirta mencoba mencairkan suasana, memilih duduk di tepi kasur busa yang agak jauh dari jangkauan kaki Listy.

Perempuan itu tetap membisu, mengunci mulutnya rapat-rapat seperti brankas bank.

Tirta menarik nafas dalam-dalam, mengelus dada di dalam hati. Sabar, Tir, sabar, batinnya. Dia mengalihkan pandangan dari mata Listy yang mengintimidasi. Berada dalam satu ruangan dengan orang yang hobi menyayat kulit sendiri memang membutuhkan ketahanan mental tingkat tinggi.

“Kamu lapar tidak? Dari kemarin siang sepertinya belum ada nasi yang masuk ke perutmu,” Tirta teringat bungkusan nasi goreng tadi malam yang kini pasti sudah basi di pojok ruangan.

Tetap tidak ada respons. Listy menjelma menjadi patung bernafas. Tirta mulai merasa kesal. Rasanya ingin sekali dia mengetuk kepala perempuan ini dengan gagang sapu agar kesadarannya kembali ke bumi.

“Ya sudah, aku belikan bubur ayam di depan gang saja ya,” kata Tirta akhirnya, menyerah pada kebisuan sang tetangga.

Tirta segera bergegas kembali ke kamarnya, membasuh muka seadanya dengan air keran yang dingin, lalu turun ke warung nasi langganan di bawah bangunan kos. Sayangnya, bubur ayam di warung itu sudah ludes tak bersisa. Terpaksa dia harus menyeret langkah lebih jauh ke mulut gang, tempat mangkal abang bubur ayam khas Bandung.

Sepuluh menit kemudian, Tirta sudah kembali ke atas dengan membawa tiga bungkusan plastik. Dua bungkus nasi uduk jengkol untuk dirinya dan Jaka, serta sekantong kecil bubur ayam hangat untuk perempuan ajaib dan menyebalkan di kamar sebelah.

“Nih, silakan dimakan selagi hangat,” Tirta menuangkan bubur itu ke mangkuk plastik, lalu meletakkannya di dekat tempat tidur bersama segelas air putih. “Kalau sudah selesai makan, obat dari Dokter Rindra tadi malam jangan lupa diminum. Ini aku taruh di sini.”

Tirta menunjuk bungkusan puyer di samping mangkuk. “Tidak perlu aku suapi, kan?” godanya memancing reaksi.

Tetap sepi seperti malam satu suro.

“Ah, capek juga bicara tidak pernah diladeni! Terserah kamulah!” Tirta kehilangan kesabaran.

Dia melangkah keluar, membanting pintu kamar dengan dongkol lalu bergabung dengan Jaka di kamarnya sendiri. Nasi uduk di tangannya langsung dilahap habis dengan gusar, membuat Jaka yang sedang asyik memilah pakaian kotor melongo keheranan.

“Tumben-tumbenan lo ngerokok, Tir,” celetuk Jaka siang itu, memandang Tirta yang sedang asyik mengisap sebatang rokok kretek di balkon kos.

Mereka berdua sedang menikmati sisa hari bolos kerja dengan duduk santai di atas tembok pembatas selasar.

“Memangnya kenapa? Lo pikir gue tidak jantan?” balas Tirta ketus, mengembuskan asap pekat ke udara sore.

“Eits, jangan salah. Zaman sekarang, perempuan di panti pijat pun rokoknya lebih garang dari rokok lo itu,” Jaka terkekeh geli.

Tirta ikut tertawa, rasa kesalnya sedikit menguap oleh banyolan garing sahabatnya. “Sudahlah, jangan membahas masa lalu lo yang kelam itu.”

Tepat saat tawa mereka mereda, pintu kamar Jaka terbuka. Listy keluar dengan langkah yang pincang dan terseret-seret. Kain perban putih tebal yang membalut kedua betisnya jelas membuat pergerakan perempuan itu menjadi sangat terbatas.

“Mau ke mana, Lis?” Jaka bertanya dengan nada santai.

“Percuma lo tanya, Jak. Tidak akan dijawab. Dia kan punya paspor dari kerajaan bisu,” bisik Tirta mengingatkan dengan nada sarkas.

“Mau kembali ke kamarku,” sahut Listy pendek.

Tirta tersentak, hampir saja rokok di jarinya terjatuh ke lantai. Dia menoleh dengan mata melotot karena tidak percaya. Rasa dongkol mendadak memenuhi dadanya. Sialan, batin Tirta, kenapa kalau Jaka yang bertanya perempuan ini langsung menjawab? Apa wajahnya mirip malaikat pencabut nyawa sampai-sampai Listy enggan membuka suara di depannya?

Jaka menyenggol lengan Tirta sambil berbisik jahil, “Makanya, kurangi dosa lo, Tir. Muka lo itu mirip penagih utang koperasi, makanya dia malas bicara.”

Tirta cuma mencibir, membuang muka dengan kesal.

“Butuh bantuan untuk jalan ke sebelah?” Jaka menawarkan diri lagi dengan sopan.

“Tidak usah, aku bisa sendiri,” jawab Listy, melangkah lambat tanpa sudi menoleh sedikit pun ke arah mereka berdua.

Tirta menggerutu dalam hati, menatap lekat punggung perempuan itu sampai dia menghilang di balik pintu kamar nomor dua puluh empat. “Aneh benar itu orang. Sama gue seperti musuh bebuyutan, sama lo langsung luluh.”

“Mumpung dia sudah pindah, gue mau ganti seprai kasur dulu. Bau anyirnya masih nempel,” Jaka bergegas masuk ke kamarnya. Sepuluh menit kemudian, dia sudah kembali keluar sambil menenteng gitar akustik cokelat kesayangannya.

“Sepertinya bulan ini pengeluaran gue bakal jebol, Tir,” keluh Jaka, mengambil posisi duduk di kursi plastik. “Harus beli seprai baru, belum lagi kaos yang gue gunting-gunting semalam untuk perban darurat. Semua gara-gara perempuan itu.” Jaka memonyongkan bibirnya ke arah kamar Listy.

“Mungkin dia memang pembawa sial di kosan ini,” sahut Tirta sengaja mengeraskan suaranya.

“Sst! Jangan kencang-kencang, kalau dia dengar lalu ngamuk lagi gimana?” Jaka memperingatkan.

“Biar saja, biar dia tahu kalau kelakuannya itu merepotkan orang satu lantai!” Tirta mendengus, sengaja menantang keheningan sore.

Jaka cuma menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah sahabatnya. “Gue sendiri nggak mau buru-buru menghakimi dia, Tir. Yang membuat gue khawatir justru keselamatan kita sendiri. Bagaimana kalau suatu malam kebiasaan anehnya kambuh lagi, lalu dia nggak menyayat kakinya sendiri melainkan menyayat leher kita yang sedang tidur?”

“Kan Dokter Rindra sudah bilang dia cuma melukai dirinya sendiri, bukan tipe psikopat yang suka menyerang orang lain.”

“Ya, siapa tahu saja pikirannya mendadak melintir. Waspada itu wajib, Tir. Apalagi kamar sebelahnya sudah kosong sejak dua bulan lalu.”

Tirta mengernyitkan dahi. “Kosong? Memangnya Mang Eko dan istrinya pindah ke mana? Kok gue nggak pernah melihat mereka mengangkut lemari atau kasur?”

“Lo sih, isi kepalanya cuma pabrik dan kerjaan terus. Mereka sudah pindah ke daerah Gempol biar lebih dekat dengan tempat kerja barunya. Jadi praktis di lantai tiga ini cuma ada kita berdua dan perempuan misterius itu.” Jaka mulai menyetem senar gitarnya.

“By the way, enaknya kita ngapain sore-sore begini?” tanya Jaka kemudian.

“Lo sudah pegang gitar, ya tinggal nyanyi saja. Repot amat,” Tirta menyulut sebatang rokok lagi, hasil rampasan dari bungkus rokok milik Jaka yang tergeletak di tembok. “Coba mainkan lagunya Jamrud yang sedang hits itu. Yang ceritanya tentang jam dinding bisa tertawa.”

“Oh, lagu itu. Gue tahu chord-nya, tapi lo yang ambil vokal ya.” Jaka mulai memetik intro lagu dengan ritme yang rancak.

Tirta mulai bernyanyi, suaranya mengalun membelah angin sore Karangwangsa. Sesekali matanya melirik ke arah pintu kamar nomor dua puluh empat, berharap daun pintu itu terbuka dan Listy ikut bergabung di selasar. Seperti malam itu, saat kebersamaan mereka terasa begitu cair di bawah naungan langit malam. Namun, Tirta segera menepis pikiran konyol itu. Untuk apa mengharapkan perempuan ketus itu muncul? Bikin kesal saja.

Mereka terus bernyanyi bergantian hingga senja benar-benar tenggelam, digantikan oleh hamparan malam yang pekat. Jaka akhirnya menguap lebar, menyerahkan gitarnya ke pangkuan Tirta. “Gue menyerah, ngantuk banget. Gue tidur duluan di kamar lo ya, Tir.”

Tirta sendirian sekarang di atas balkon. Bernyanyi sendirian tanpa teman duet rasanya hambar. Rasa penasaran yang tertahan sejak siang membuat langkah kakinya bergerak sendiri mendekati kamar Listy. Dia berdiri di depan pintu kayu kusam itu, lalu mengetuknya tiga kali.

Tidak ada sahutan.

Tirta mengetuk lagi, kali ini lebih keras. Sesaat kemudian, telinganya menangkap suara yang sangat familiar. Suara isak tangis perempuan, sangat lirih namun sarat akan kepedihan yang mendalam. Ternyata pintunya tidak dikunci rapat. Tirta mendorongnya perlahan, melangkah masuk ke dalam ruangan yang pengap dan gelap gulita. Di sudut ruangan, samar-samar dia melihat siluet Listy yang sedang duduk meringkuk memeluk lutut. Tangan Tirta meraba dinding, mencari saklar lampu.

“Jangan nyalakan lampu,” larang Listy tiba-tiba, suaranya parau terputus oleh sisa isak tangis.

“Kenapa?” Tirta menahan jarinya di atas saklar.

Listy tidak menjawab, dia justru semakin menenggelamkan wajahnya di antara kedua lutut yang tertekuk.

Tirta menghela nafas, mencoba menurunkan egonya. “Ada yang ingin kamu ceritakan? Setidaknya membagi sedikit beban dengan orang lain akan membuat perasaanmu lebih baik daripada dipendam sendiri sampai menyiksa tubuh.”

“Bukan urusanmu,” ketus Listy dari kegelapan.

Darah Tirta mendadak mendidih mendengar jawaban dingin itu. “Heh, perempuan keras kepala! Kamu pikir kalau ada orang yang hampir mati kehabisan darah di depan mataku, itu bukan urusanku? Kalau tahu kelakuanmu menyebalkan begini, semalam lebih baik aku biarkan kamu mati konyol di dalam kamar mandi!”

Tirta sengaja melempar kalimat kasar itu untuk memancing emosi Listy. Dia berharap perempuan ini akan berdiri, berteriak, atau setidaknya memaki balik seperti manusia normal. Namun, dugaannya meleset jauh. Listy tetap bergeming, tenggelam dalam keheningan dunianya sendiri yang kelam.

“Ayo, bicaralah. Mau sampai kapan kamu mengunci diri jadi patung bisu begini? Cerita apa masalahmu, siapa tahu aku dan Jaka bisa bantu,” suara Tirta melembut, ada rasa iba yang mendadak menyeruak di sela kemarahannya.

Tetap tidak ada jawaban. Tirta akhirnya angkat tangan. Dia melangkah keluar kamar dengan gusar, menutup pintu lalu duduk bersila di lantai semen bawah jendela kamar Listy yang kacanya masih terlepas. Sembari memeluk gitar cokelat milik Jaka, Tirta mulai memetik senar asal-asalan. Dia sengaja bernyanyi dengan nada melengking yang sumbang dan sangat mengkhawatirkan, murni untuk mengacaukan kesunyian malam.

Benar saja, belum genap satu menit ritual nyanyian gilanya berjalan, pintu kamar sebelah terbuka kasar. Sebuah sandal jepit melayang sukses mendarat telak di jidat Tirta tanpa sempat dia hindari.

“Lo kesurupan jin iprit, ya?!” seru Jaka dari ambang pintu dengan wajah bantalnya yang gusar.

Tirta cuma meringis lebar sambil memegangi jidatnya yang agak memerah. “Sengaja, Jak, biar kosan ini ada suaranya.”

“Kurang kerjaan!” Jaka membanting kembali pintunya, melanjutkan tidurnya yang terganggu.

Tirta kembali memetik gitarnya, bersenandung asal dengan kunci-kunci nada yang berantakan. Musiknya sumbang, suaranya hancur, sanggup membuat siapa saja yang mendengar mendadak menderita sakit telinga akut.

“Mau sampai kapan bernyanyi dengan suara sejelek itu?” sebuah suara terdengar tepat di atas kepala Tirta.

Tirta mendongak. Kepala Listy menyembul dari balik lubang jendela yang gordennya tersingkap sedikit.

“Bukan urusanmu,” balas Tirta meniru kalimat perempuan itu tadi, nadanya mengejek.

“Kamu sudah mengganggu ketenangan tidur orang satu lantai, masih berani bilang bukan urusanku?” Listy mendengus.

Tirta bangkit berdiri, menaruh gitar di lantai tegel lalu bersedekap. “Dengan bernyanyi, setidaknya aku bisa mengeluarkan apa yang mengganjal di dada. Cara ini jauh lebih sehat daripada duduk meringkuk meratapi nasib di dalam kamar yang gelap dan pengap.”

“Kamu sedang menyindir aku?” mata Listy menyipit tajam.

“Baguslah kalau kamu merasa tersindir, artinya fungsi otakmu masih normal.”

“Kenapa sih kamu hobi sekali membuat orang lain naik darah?”

“Tidak apa-apa, aku senang saja melihatnya. Lagipula, hanya dengan cara begini kan kamu akhirnya mau membuka mulut dan bicara denganku?” Tirta mengakhirinya dengan senyuman lebar, senyuman kemenangan.

Listy terdiam. Tirta bisa melihat dengan jelas di bawah temaram lampu selasar bahwa sepasang mata perempuan itu bengkak dan sembap karena terlalu lama menangis.

“Ayo keluar sini. Kita mengobrol di balkon. Di dalam kamarmu itu pengap sekali, bau karbolnya membuat pusing,” Tirta spontan meraih pergelangan tangan Listy, berniat menariknya keluar.

“Eh! Sembarangan saja tarik-tarik tangan orang!” protes Listy kasar, menarik kembali tangannya.

Tirta salah tingkah, buru-buru melepaskan cekamannya. “Ah, maaf, aku lupa kalau kamu sedang terluka.” Padahal dalam hati, dia sengaja melakukannya agar suasana kaku di antara mereka mencair.

Listy akhirnya keluar juga dari kamarnya, berjalan pelan lalu duduk di atas tembok balkon kos, membiarkan kedua kakinya yang terbungkus perban putih menggantung di udara. Malam itu, Tirta kembali merasakan desiran aneh yang sama, perasaan yang sempat mampir di hatinya sebulan lalu saat pertama kali dia melihat sosok perempuan ini meniti tangga kos.

“Aku Tirta,” Tirta mengulurkan tangan kanan, mencoba memulai perkenalan yang resmi.

Listy cuma melirik tangan itu sekilas tanpa berniat membalas jabatannya. “Aku sudah tahu namamu dari Jaka.”

Tirta buru-buru menarik kembali tangannya dengan kikuk, menaruhnya di saku celana jins untuk menutupi rasa malu. Sialan, perempuan ini benar-benar lihai membuat orang mati kutu.

“Jadi, sudah berapa lama?” tanya Tirta mengalihkan topik.

“Apanya yang berapa lama?” Listy mengernyitkan dahi.

“Sudah berapa lama namamu jadi Listy?” Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari mulut Tirta, terdengar sangat konyol dan bodoh bahkan di telinganya sendiri.

Listy memutar bola matanya malas. “Pertanyaan bodoh yang tidak perlu aku jawab.”

“Mau minum sesuatu? Biar aku ambilkan ke dalam.”

“Terima kasih. Tidak usah berbasa-basi, aku tidak suka.”

Tirta menarik nafas dalam-dalam, menahan dongkol. “Oke, aku memang bukan tipe pria yang pintar merangkai kalimat basa-basi. Tapi kalau urusan memberi julukan untuk orang lain, aku ahlinya.”

“Maksudmu?”

“Sejak pertama kali melihatmu sebulan lalu di tangga, aku sudah punya julukan khusus untukmu karena saat itu aku tidak tahu namamu. Aku menamaimu ‘wanita berstoking’.” Tirta tertawa hambar, mencoba melihat reaksi wajah Listy.

Listy melirik kedua betisnya yang kini tertutup balutan kain kasa tebal buatan Dokter Rindra. “Sekarang julukan itu sudah tidak berlaku. Kakiku berubah jadi putih semua begini.”

“Kalau begitu, mulai malam ini julukanmu berganti jadi ‘wanita berperban putih’.”

Mendengar ucapan Tirta, sudut bibir Listy perlahan terangkat. Dia tersenyum kecil, sangat tipis namun berhasil membuat jantung Tirta melewatkan satu ketukan. Itu adalah senyuman pertama yang Listy perlihatkan sejak mereka saling mengenal, sebuah pemandangan langka yang mendadak membuat malam sepi di Karangwangsa terasa sedikit lebih hangat.

“Sakit tidak sih, Lis?” tanya Tirta pelan, menunjuk ke arah balutan perban di kaki perempuan itu.

Listy menatap lurus ke depan, ke arah hamparan kegelapan malam yang luas. “Kamu mau mencoba mengambil pisau cutter lalu menyayat kulit pahamu sendiri sampai berlubang? Coba saja nanti malam, lalu kamu akan tahu sendiri bagaimana rasanya.”

Tirta bergidik ngeri, membayangkan logam tajam merobek dagingnya sendiri sudah sukses membuat bulu kuduknya berdiri. “Gila. Membanyangkannya saja aku sudah mau pingsan.”

“Makanya, jangan banyak bertanya,” bisik Listy, suaranya mendadak berubah menjadi sangat rapuh. “Kamu tidak akan pernah tahu seberapa perih rasa sakit yang ada di dalam kepalaku sebelum kamu merasakannya sendiri.”

“Mungkin kamu benar,” Tirta menatap profil wajah Listy dari samping. “Tapi bukankah rasa sakit di dalam kepala itu akan sedikit berkurang kalau kamu mau membaginya dengan orang-orang yang ada di sekitarmu?”

Listy terdiam seketika. Kalimat Tirta seolah memukul sesuatu yang keras di dalam dadanya. Perempuan itu mengayunkan kedua kakinya perlahan, turun dari tembok pembatas balkon tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Dia berbalik, melangkah pincang kembali masuk ke dalam kamarnya yang gulita dan menutup pintu kayu itu rapat-rapat, meninggalkan Tirta sendirian di bawah siraman cahaya bulan malam itu.

Bagikan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Plus Exclusive Smilies 3.0 Kaskus-style Large Kaskus-style Small Standard Smilies
:welcome
:terimakasih
:tepuktangan
:tepar
:sudahkuduga
:siapgan
:semangat
:sale
:pertamax
:pencet
:paket
:nyantai
:nulisah
:monggo
:merdeka
:kangen
:jones
:insomnia
:hargapas
:goyang
:garudadidadaku
:gagalpaham
:gaasik
:dor
:cih
:ceyem
:butuhpacar
:bokek
:belumtidur
:batik
:banggapakebatik
:ayoindonesia
:ngamuk
:lemparbata
:keepposting
:hansip
:cendolgan
:bigkiss
:xmas
:wow
:wkwkwk
:wakaka
:ultahhore
:ultah
:travel
:toast
:telolet4
:telolet3
:telolet2
:telolet1
:takut
:sup:
:sup2
:sorry
:shakehand2
:selamat
:salamkenal
:salaman
:salahkamar
:request
:repost:
:repost2
:repost
:recsel
:rate5
:peluk
:omtelolet
:nyepi
:nosara
:nohope
:ngakak
:ngacir2
:ngacir
:najis
:motret
:mewek
:matabelo
:marigerak
:marah
:malu
:maafaganwati
:maafagan
:lehuga
:kts:
:kr
:kiss
:kimpoi
:ketupat
:kbgt:
:kacau:
:jrb:
:imlek2
:imlek
:ilovekaskus
:iloveindonesia
:hoax
:hn
:hammer
:hai
:games
:entahlah
:dp
:cystg
:cool
:coblos
:cipok
:cendolbig
:cendol
:cekpm
:cd:
:cd
:catchemall:
:bola
:bingung
:bigo:
:betty
:berduka
:bedug
:batabig
:babygirl
:babyboy1
:babyboy
:angpau
:angel
:2thumbup
:1thumbup
:malu2
:siul
:newyear
:alay
:hoax2
:hope
:hotrit
:lapar
:mahongintip
:mewek2
:nerd
:pertamax
:rate
:sungkem
:supermaho
:thanks2
:tkp
:Yb
:takuts
:sundulgans
:shutups
:reposts
:ngakaks
:najiss
:malus
:mads
:kisss
:ilovekaskuss
:iloveindonesias
:hammers
:cendols
:cendolb
:cekpms
:capedes
:bookmarks
:bingungs
:bettys
:berdukas
:berbusas
:batas
:bata
:armys
:addfriends
:)b
;)
:wowcantik
:tv
:thumbup
:thumbdown
:think:
:tai
:tabrakan:
:table:
:sun:
:siul
:shutup:
:shakehand
:rose:
:rolleyes
:ricebowl:
:rainbow:
:rain:
:present:
:Phone:
:Peace:
:Paws:
:p
:Onigiri
:o
:norose:
:nohope:
:ngacir:
:moon:
:metal
:medicine:
:matabelo:
:malu:
:mad
:linux2:
:linux1:
:kucing:
:kissmouth
:kissing:
:kimpoi:
:kagets:
:hi:
:heart:
:hammer:
:gila:
:genit
:fuck:
:fuck3:
:fuck2:
:frog:
:fm:
:flower:
:exclamati
:email
:eek
:doctor
:D
:cool:
:confused
:coffee:
:clock
:ck
:buldog
:breakheart
:bingung:
:bikini
:berbusa
:beer:
:baby:
:babi:
:army
:anjing:
:angel:
:amazed:
:afro:
:)
:(