Aroma karbol bercampur pesing mengendap kaku di sudut-sudut bangsal kelas tiga Rumah Sakit Siti Khadijah. Di luar jendela, langit Jatinegara malam itu abu-abu monoton, menyemburkan gerimis tipis yang membikin aspal jalanan mengkilap seperti punggung kecoak. Mardani duduk bersandar pada tiang besi ranjang, kedua matanya merah karena menolak kantuk yang menyergap sejak dua malam lalu. Tangannya yang kasar karena saban hari memegang kemudi angkot jurusan Kampung Melayu gemetar saat menyeka pelipis sang istri.
Di atas kasur berbungkus kain parasit hijau, Aminah meringis, giginya bergepukan menahan nyeri yang menyodok-nyodok isi perutnya. Usia kandungannya genap sembilan bulan, masuk hari ketiga sejak gelombang mulas pertama datang menghantam.
“Bagaimana, Min?” suara Mardani serak, habis oleh kepulan asap rokok kretek yang dia sesap diam-diam di tangga darurat.
Aminah hanya menggeleng. Keringat sebesar biji jagung meleleh di pipinya yang kuyu. Tangannya mencengkeram sprei sampai urat-urat lengannya menegang biru. Mulas ini aneh, datang menghentak seperti mau merobek panggul, lalu mendadak surut, menyisakan rasa pegal yang membuat perempuan itu merasa seperti tersumbat kotoran seminggu penuh.
Dokter bermata sipit yang bertugas malam itu masuk tanpa mengetuk pintu, memeriksa jalan lahir dengan sarung tangan karet yang berdecit menyebalkan.
“Belum ada pembukaan baru. Bayinya masih betah di dalam,” kata dokter itu, datar tanpa beban, seolah sedang membicarakan jemuran yang belum kering.
Mardani mengusap mukanya yang kusut. Kumis tebalnya turun berantakan, menutupi bibirnya yang kering. Pikirannya tidak lagi berada di ruang bersalin ini, melainkan melompat ke arloji plastik di pergelangan tangan, menghitung sisa lembaran uang ratusan ribu di dalam dompet kulit imitasi miliknya. Anak pertama selalu punya cara sendiri untuk menguji nyali seorang lelaki kelas pekerja.
“Anakmu ini keras kepala, Dan. Mirip kamu kalau dibilangin mertua,” bisik Aminah di antara napasnya yang memburu.
Mardani memaksakan senyum, mencoba melawak di depan istrinya yang sedang bertaruh nyawa. “Biar saja, yang penting nanti mukanya mirip bintang film, jangan mirip kenek angkot.”
“Bintang film apanya, mukamu saja waktu muda mirip pelawak legendaris yang giginya maju itu,” balas Aminah, tawanya terputus oleh ringisan baru yang lebih tajam.
Lalu, situasi berubah kacau dalam hitungan detik.
Lampu neon di langit-langit bangsal berkedip sekali sebelum terdengar jeritan tertahan dari mulut Aminah. Cairan ketuban pecah, membanjiri sela-sela paha, membawa bau anyir yang pekat ke udara ruangan. Dokter sigap menyibak kain penutup. Senter kecil dinyalakan.
Seketika wajah dokter itu menegang. “Bukan kepala. Ini kaki.”
Mardani melongok, nyaris muntah saat melihat seonggok daging kecil berwarna keunguan menyembul keluar dari jalan lahir. Cuma satu kaki. Kaki kanan yang mungil, ringkih, bergoyang pelan menantang lampu bangsal rumah sakit. Sungsang. Janin di dalam perut Aminah rupanya salah membaca peta jalan keluar, memilih menjejakkan kaki duluan daripada menyodorkan kepala.
“Panggil ruang operasi sekarang! Siapkan inkubator!” teriak dokter pada perawat di sampingnya.
Suasana mendadak hiruk-piruk. Roda brankar besi berdentang keras menghantam pintu kayu saat mereka mendorong Aminah keluar ruangan. Mardani berlari kecil di sampingnya, menggenggam jemari Aminah yang mendadak sedingin es. Wajah istrinya putih pucat, matanya melotot kosong menatap langit-langit lorong yang bergerak cepat.
“Lakukan operasi, Pak. Tidak ada pilihan lain, bayinya macet,” kata perawat sambil menyodorkan selembar kertas persetujuan tindakan medis ke dada Mardani.
Tangan Mardani gemetar hebat saat membubuhkan tanda tangan di atas meterai kusam. Dia tahu, goresan pulpennya malam itu berarti hilangnya seluruh tabungan sewa rumah kontrakan untuk tiga bulan ke depan. Namun, di depan pintu ruang operasi yang tertutup rapat dengan lampu merah menyala, semua angka-angka nominal itu mendadak menguap, kalah telak oleh rasa takut kehilangan dua nyawa sekaligus.
Dua jam berlalu seperti siksaan abadi di atas bangku kayu panjang lorong rumah sakit.
Ketika pintu ruang operasi akhirnya terbuka, seorang perawat keluar menggendong bungkusan kain flanel bergaris merah muda. Suara tangisan melengking, cempreng, dan menuntut perhatian langsung memecah kesunyian malam Jatinegara.
Mardani bangkit, mendekatkan wajahnya yang kotor oleh sisa keringat. Di dalam dekapan kain itu, seorang bayi laki-laki dengan jidat agak lebar menangis sekencang-kencangnya, merah padam, sehat tanpa kurang satu apa pun. Anak sungsang yang merepotkan sejak dari dalam kandungan itu akhirnya mengirup udara dunia, meninggalkan ibunya yang masih terbaring lemas di dalam ruang operasi karena pengaruh obat bius total. Mardani menatap anaknya, lalu bersumpah dalam hati, kelak bocah kecil ini harus hidup lebih baik daripada ayahnya yang menghabiskan umur di balik kemudi angkutan umum.