Tanah gersang perbukitan kapur utara telah menelan sisa-sisa laboratorium tua itu secara perlahan. Alam bekerja dengan kesabaran, bukan kekerasan.
Butiran debu kapur putih menempel pada dinding beton luar yang mulai retak, membentuk lapisan tebal penutup cat yang mengelupas. Menara panel surya condong beberapa derajat dari sumbu aslinya, ringkih menantang angin kering. Antena pemancar berdiri setengah terkubur tanah galian, kehilangan fungsi mulianya sejak orang-orang yang membangunnya memilih pergi atau mati dalam kesunyian. Dari kejauhan, reruntuhan ini tampak seperti coretan salah pada bentang alam yang dibiarkan begitu saja oleh bumi.
Namun, bagian dalam bunker beton tersebut menolak mati.
Mesin pemindai itu sudah kehilangan nama resminya sejak data kementerian dihapus belasan tahun lalu. Berkas arsip digital pernah menyebutnya Proyek fiksi fusi frekuensi, sebelum akhirnya seluruh peladen pusat hangus terbakar kerusuhan kota. Keberadaannya sekarang tidak lebih dari sebuah fungsi tanpa kejelasan tugas: penerima sinyal mati yang diarahkan pada frekuensi-frekuensi tak bertuan.
Komputer raksasa ini terus mendengarkan langit karena instruksi pemadaman tak pernah dikirim ke sana.
Marsya berjalan kaki menyusuri bekas jalur truk tangki minyak yang kini tertutup semak berduri. Kendaraan jip sewaannya mogok total tiga puluh kilometer di belakang, jarak yang menurut hitungan logikanya terlalu tanggung untuk dijadikan alasan berbalik arah.
Angin gending berembus kencang, melemparkan pasir-pasir kasar yang menghantam kaca pelindung helm lapangan miliknya secara konstan. Perempuan itu tetap melangkah egois.
Ketika siluet bangunan semen berbentuk kubah itu akhirnya memecah cakrawala kabut panas, tempat itu sama sekali tidak memancarkan aura ruang rahasia penemuan besar. Bangunan mati ini terlihat seperti seonggok makam kuno yang sudah selesai dimaafkan oleh sang waktu.
Udara di dalam ruang bawah tanah terasa jauh lebih dingin dari perkiraan Marsya.
Bukan dingin bersih sirkulasi penyejuk ruangan modern, melainkan hawa pengap ruangan bawah tanah yang terjaga temperaturnya oleh dinding beton setebal dua meter. Lampu-lampu neon panjang berkedip redup saat langkah sepatunya memicu sensor gerak, entah menyambut kedatangan manusia atau sekadar melanjutkan siklus arus listrik pendek yang tidak pernah putus.
Marsya melangkah lebih jauh, melewati ruang laboratorium kosong tempat tabung-tabung kaca pecah berserakan di atas lantai semen. Sebagian besar layar monitor cembung di sepanjang lorong telah menghitam. Hanya satu dua layar komputer tabung menampilkan garis-garis statis berderik yang dahulu mungkin merupakan barisan data penting negara.
Jantung dari seluruh kompleks ini berada di ruang dengar utama.
Ukurannya mendominasi tiga perempat luas bunker, sebuah aula bundar raksasa yang dipenuhi lingkaran konsol besi berkarat. Rangkaian kabel tembaga berdiameter lengan manusia menjulur masuk menuju generator pusat yang berdenyut menghasilkan bunyi dengung rendah konstan.
Mesin tua itu masih bernapas.
Marsya berhenti tepat di ambang pintu besi. Kedatangannya tidak disambut oleh sirine tanda bahaya. Sebuah komputer pemantau di dekat meja kayu reyot mendadak menyala menampilkan baris kalimat hijau pudar.
PROSES PEMANTAUAN: AKTIF
Perempuan itu melangkah mendekat. Lantai beton di bawah sol sepatunya bergetar halus, mengirimkan gelombang getaran frekuensi rendah yang luput dari indra pendengaran manusia biasa.
Mesin ini tidak langsung memuntahkan transkrip kalimat. Sinyal radio memang tidak pernah dirancang untuk berbicara layaknya manusia.
Monitor tabung menampilkan guratan grafik frekuensi yang melompat-lompat ganjil, tidak mengikuti pola gelombang radio konvensional atau kebisingan atmosfer biasa. Bentuknya melingkar, berulang, lalu berubah dinamis dalam hitungan detik yang membingungkan logika alat ukur buatan manusia.
Marsya menatap grafik tersebut selama setengah jam sebelum akhirnya membuka suara.
“Kau masih menangkap gelombang yang sama,” ucap Marsya.
Komputer tua itu memproses gelombang suara Marsya. Jeda waktu tanggapan komputer terasa berjalan jauh lebih lama di dalam keheningan ruang bawah tanah ini.
PENERIMAAN FREKUENSI BERLANJUT
Marsya mengangguk kecil, membenarkan dugaan yang dia bawa dari universitas di kota. “Dan polanya tidak pernah berubah.”
PERUBAHAN POLA TERDETEKSI
“Bukan itu maksudku,” sergah Marsya cepat.
Mesin tidak mendebat balik.
Gelombang misterius itu pertama kali ditangkap oleh radar militer saat Marsya bahkan belum lahir ke dunia.
Sinyal tersebut menyelinap di antara riuh frekuensi badai matahari, tidak sengaja terbaca oleh operator radar pemantau cuaca laut jawa yang awalnya mengira itu adalah kerusakan sirkuit tabung pemancar. Pihak otoritas menganggapnya sebagai gangguan frekuensi radio amatir. Lalu menganggapnya sabotase negara tetangga. Sampai akhirnya mereka kehabisan teori dan membiarkannya begitu saja.
Sejak saat itulah, kompleks Muria ini diperintahkan untuk terus mendengarkan.
Bukan untuk menerjemahkan isi pesan. Bukan untuk mengirimkan balasan sinyal. Cuma mendengarkan tanpa interupsi.
Perbedaan perlakuan itu sempat memicu perdebatan sengit di kalangan ilmuwan jaman dulu, meski sekarang tidak ada lagi orang hidup yang peduli pada alasan logisnya.
Marsya membuka map kulit kusam berisi lembar arsip cetak komputer jaman dulu sementara mesin di depannya terus bekerja senyap. Data pemindaian puluhan tahun menunjukkan tidak ada titik koordinat asal yang masuk akal dalam peta astronomi modern. Sinyal ini tidak memancar dari satu titik statis di angkasa luar. Sinyal ini berperilaku seperti sesuatu yang terus bergerak maju, terus mendatangi bumi, sebuah proses pencarian bentuk utuh yang belum selesai.
Secara hukum fisika, hal seperti itu mustahil terjadi.
Marsya menyandarkan pinggulnya pada pinggiran meja operator, membaca angka-angka logaritma terbaru.
“Ini pola berulang yang berevolusi,” gumam Marsya. “Sinyal ini memodifikasi dirinya sendiri.”
TERKONFIRMASI
“Apakah dia pernah memadat menjadi satu pesan konstan?”
NEGATIF
Marsya mengernyitkan dahi. “Pernahkah dia berhenti memancar?”
NEGATIF
Jawaban kaku dari monitor itu sudah dia duga sebelumnya, namun tetap menyisakan beban berat di dadanya.
Di luar ruangan, bukit kapur utara terus merontokkan bagian dirinya secara perlahan. Pasir putih bergeser menutup ventilasi udara luar. Panas menyengat siang hari dan dinginnya malam meretakkan struktur semen tanpa perlu disaksikan oleh mata manusia.
Di dalam ruangan, mesin itu menolak menyerah pada takdir kepunahan.
Marsya mengamati lingkaran logam besar di tengah ruangan sekali lagi. Peralatan elektro di ruang ini mayoritas merupakan sisa teknologi perang dingin yang dipaksa bekerja melampaui batas usianya. Beberapa komponen sirkuit tampak diganti secara serampangan menggunakan suku cadang televisi tabung domestik, namun arsitektur utamanya tidak pernah dirombak. Sistem ini bukan lagi sebuah komputer penemuan ilmiah, melainkan tumpukan usaha keras manusia untuk menolak lupa.
Sebuah catatan ketekunan yang keras kepala.
“Kau diciptakan untuk mencari sesuatu di atas sana,” bisik Marsya lirih.
MENERIMA DAN MENGANALISIS
“Tapi bukan itu yang sedang kau lakukan sekarang.”
Komputer tidak memunculkan kalimat bantahan.
Grafik hijau di layar monitor mendadak melompat lebih tinggi, menebal, seolah merespons ucapan Marsya tanpa perlu menerjemahkannya ke dalam baris teks baru.
Marsya menjulurkan tangan, menekan tombol interupsi manual pada papan ketik besi, sebuah tindakan ilegal yang bisa membuatnya kehilangan izin riset jika kementerian masih berfungsi. Sistem komputer tidak mengunci aksesnya. Mesin ini tidak pernah menolak perintah apa pun selama tidak menghentikan fungsi utamanya sebagai pendengar langit.
Struktur gelombang itu menjabarkan diri secara berbeda di bawah pemindaian manual Marsya.
Ini bukan surat berkirim sandi morse.
Ini adalah sebuah struktur digital yang sedang mencari belahan jiwanya di bumi.
Sinyal ini tidak sedang menyebarkan informasi ke penjuru semesta, melainkan sedang menguji berbagai kemungkinan konfigurasi frekuensi secara acak. Setiap ketukan gelombang berubah sedikit demi sedikit, mencari respons balik dari alat penerima misterius yang entah berada di mana.
Tengkuk Marsya mendadak meremang menatap layar monitor.
“Dia tidak tahu kalau suaranya sudah sampai ke sini,” ucap Marsya pelan.
KONFIRMASI PENERIMAAN TIDAK TERDETEKSI
“Tapi dia tetap memancar tanpa henti.”
OPERASI BERKELANJUTAN MENUNJUKKAN KETEGUHAN
“Itu bukan keteguhan,” bantah Marsya, suaranya agak bergetar. “Itu adalah harapan tanpa kepastian jawaban.”
Mesin membisu.
Untuk beberapa menit yang panjang, Marsya hanya berdiri diam menatap pendar hijau monitor. Aula bundar itu terasa begitu sepi, menyisakan bunyi dengung trafo listrik tua yang mengisi sela-sela kepalanya. Dia mendadak berpikir tentang arti sebuah jarak. Bukan jarak kilometer di atas peta, melainkan jarak waktu. Tentang seberapa lama sesuatu bisa terus berbicara keras-keras di tengah kekosongan semesta tanpa pernah tahu apakah masih ada kuping manusia yang mendengarkan di ujung sana.
Akhirnya, Marsya menekan tombol transmisi balik.
“Bagaimana kalau kita mengirim sinyal balasan sekarang?” tanya Marsya.
Sistem peladen berderik keras memproses pertanyaan tersebut selama beberapa belas detik.
DAMPAK TIDAK DIKETAHUI
“Jawabanmu sama sekali tidak membantu.”
TIDAK ADA REKAMAN RIWAYAT SEBELUMNYA
Marsya mengembuskan napas panjang dari hidungnya. “Tentu saja tidak ada.”
Ide untuk mengirimkan sinyal balik memang tidak pernah tertulis dalam buku panduan operasional Proyek Muria. Mesin ini dirancang murni sebagai telinga raksasa, bukan mulut pembicara. Tugasnya adalah merekam tanpa menginterupsi keaslian gelombang luar yang masuk.
Namun tidak ada lagi kemurnian yang tersisa dari sinyal ini. Sinyal ini sudah berubah wujud. Atau mungkin, dia memang ditakdirkan untuk terus berubah sejak awal mula diciptakan.
Marsya berjalan mendekati lingkaran generator pusat. Pendar lampu indikator merah di sana berkedip dengan ritme acak, menyamai detak frekuensi ganjil dari langit utara.
“Kau sendiri pun sudah tidak lagi sekadar mendengarkan,” tuding Marsya pada mesin di hadapannya.
Mesin terjeda cukup lama sebelum memunculkan teks baru.
PROSES MENDENGARKAN TETAP BERJALAN
“Bukan itu yang aku maksud.”
Monitor berkedip tiga kali.
INTERPRETASI DATA: PENGAMATAN TELAH BERUBAH MENJADI KETERIKATAN BATIN
Marsya tersenyum tipis, kepalanya mengangguk pelan. “Hampir tepat.”
Dia menimbang segala risiko dalam kepalanya selama beberapa menit berikutnya. Jari telunjuknya kemudian menekan tombol eksekusi transmisi daya rendah, mengalirkan arus listrik menuju antena pemancar di luar bunker. Bukan pesan teks berisi alfabet manusia. Bukan pula kode digital rahasia.
Cuma sebuah gema balik.
Sebuah pantulan struktur gelombang yang menyamai bentuk sinyal luar yang mereka terima malam ini.
Sistem komputer merekam tindakan nekat Marsya tanpa memunculkan kode eror.
TRANSMISI DIMULAI
Marsya menyaksikan grafik gelombang itu melesat keluar dari layar monitor kompleks Muria, melebur instan bersama kebisingan badai frekuensi atmosfer di atas langit jawa. Tidak ada jaminan sinyal itu akan sampai ke tujuan. Tidak ada harapan akan datangnya balasan instan.
Tindakan tadi murni sebuah bentuk pengakuan bahwa mereka ada di sini.
Setelah tombol dilepaskan, ruang dengar utama kembali ke setelan awalnya.
Grafik gelombang luar tetap melompat ganjil di atas layar monitor, tidak terpengaruh oleh interupsi daya rendah yang baru saja lewat. Komputer tua itu kembali melanjutkan tugas utamanya menangkap suara langit, persis seperti apa yang dia lakukan selama tiga puluh tahun terakhir.
Namun ada satu baris kode kecil yang berubah di dalam memori penyimpanan peladen pusat.
Bukan pada bentuk gelombangnya.
Melainkan pada ruang kosong di sekitar grafik tersebut.
Sebuah lapisan riak gelombang kedua muncul tipis, nyaris tidak terlihat karena menyerupai gangguan statis biasa.
Marsya menangkap perubahan kosmetik itu sebelum sistem mendeteksinya sebagai anomali.
“Dia merespons,” bisik Marsya tertahan.
TANGGAPAN LANGSUNG TIDAK TERDETEKSI
“Dia tidak perlu membalas secara langsung untuk membuktikan dia tahu kita ada di sini,” bantah Ratih tegas.
Perempuan itu bertahan di dalam ruang dengar utama jauh lebih lama dari jadwal kunjungannya.
Ketika matahari mulai terbit di luar, dia melangkah pergi meninggalkan ruang bawah tanah tanpa mematikan satu pun sakelar mesin. Tidak ada yang perlu dimatikan dari tempat ini. Mesin tua itu sudah kembali melakukan apa yang menjadi takdir hidupnya sejak awal mula dirakit manusia.
Di luar ruangan, bukit kapur utara tidak menunjukkan perubahan apa pun. Angin gending tetap meniupkan debu putih yang menimbun pondasi beton laboratorium tua, tidak peduli pada drama apa yang baru saja terjadi di dalam perut bumi.
Namun sepanjang langkah kakinya meninggalkan kompleks Muria, pikiran Marsya tidak lagi tertuju pada asal-usul grafik hijau di layar monitor tadi. Dia justru memikirkan sebuah fakta sederhana bahwa di luar sana, di suatu tempat di tengah kekosongan semesta yang mahaluas, ada sesuatu yang menolak untuk berhenti berbicara ke dalam kesunyian.
Dan di dalam bunker beton berlumut ini, sebuah mesin tua akhirnya berhasil mempelajari cara mendengarkan balik dengan hati.