Ketukan Penghuni Lantai Sembilan

Rizky tidak pernah menyangka kalau sewa apartemen di pinggiran Jakarta bisa semurah itu. Namanya Apartemen Graha Kencana. Bangunan tua yang terjepit di antara menara-menara kaca yang berkilau, membuatnya tampak seperti orang tua renta yang terlupakan di tengah keramaian. Cat batanya kusam, dihiasi noda air hujan yang membekas seperti air mata, dan beberapa jendela di lantai atas tampak selalu gelap, seolah tidak pernah ada yang sudi mengintip dunia dari sana.

Pak Kusno, sang pemilik gedung, pria pucat dengan mata yang senantiasa menatap lantai saat bicara, menyerahkan kunci tanpa banyak basa-basi.

“Tempat ini tenang,” ujar Pak Kusno singkat. “Orang-orang menyukai ketenangan.”

Rizky, yang baru saja kena PHK dan dikejar tunggakan sewa di tempat lama, tidak peduli pada aura suram gedung itu. Baginya, unit di lantai sembilan itu adalah anugerah. Dapurnya memang kuno, tapi berfungsi. Ruang tamunya luas dengan jendela besar yang menghadap langsung ke jalanan. Lantainya dari kayu jati yang kokoh.

“Tidak ada syarat apa-apa?” tanya Rizky.

Pak Kusno terdiam cukup lama sebelum menjawab. “Satu saja. Kalau ada yang mengetuk pintu lewat jam dua malam, jangan dibuka.”

Rizky tertawa kecil. “Itu sangat spesifik, Pak.”

“Nanti kau mendengar sesuatu,” ucap Pak Kusno pelan, menghindari kontak mata. “Abaikan saja.”

“Sesuatu apa?”

Pak Kusno mengunci pintu depan dari dalam dan memastikan rantai pengamannya terpasang sebelum menjawab. “Suara. Kadang ketukan pintu.”

Rizky hanya menganggap itu usaha pak tua tersebut agar terlihat misterius. Hari-hari pertama berjalan normal. Rizky sibuk mengurus lamaran kerja dan beradaptasi. Gedung itu memang sangat sepi. Ia jarang bertemu penghuni lain. Suara langkah kaki di lorong sering terdengar, tapi lift tidak pernah tampak bergerak. Unit 9A dan 9C di sebelah kirinya selalu gelap. Seluruh lantai sembilan terasa seperti ruang hampa yang menunggu untuk diisi.

Malam kedelapan, Rizky terbangun tepat jam dua lebih empat belas menit.

Bukan karena guntur. Melainkan karena suara ketukan.

Tuk.

Tuk.

Tuk.

Tiga ketukan lambat yang bergema di daun pintu kayu itu. Rizky melirik ponselnya. Jam menunjukkan pukul 02.14. Ia berusaha memejamkan mata, meyakinkan diri bahwa itu hanya tetangga yang mabuk atau mungkin sekadar efek dari rumah tua yang memuai. Ia diam saja di bawah selimut.

Beberapa menit kemudian, ketukan itu berulang, lebih lirih.

Lalu, sebuah suara perempuan melayang tipis dari balik pintu. “Permisi?”

Rizky mengernyit. Suara itu terdengar cemas. “Bisa bantu saya?”

Ia mendudukkan diri di tempat tidur.

“Halo?” suara itu memanggil lagi. “Saya terkunci di luar.”

Rizky teringat peringatan Pak Kusno. Ia mendengus pelan. Pasti ini yang dimaksud dengan suara-suara itu. Ia mencoba tetap tenang meski hatinya mulai berdegup kencang. Wanita itu mengetuk lagi, kali ini dengan nada memohon yang membuat bulu kuduk Rizky meremang.

“Tolong,” bisik suara itu. “Di sini dingin sekali.”

Ada sesuatu yang salah dengan nadanya. Terdengar tulus, namun terasa sangat jauh, seolah suara itu disaring melalui air yang dalam. Rizky tetap bergeming. Ketukan itu akhirnya berhenti. Pagi harinya, Rizky hampir percaya bahwa itu hanyalah mimpi buruk.

Namun, saat ia membuka pintu apartemen, langkah kakinya terhenti.

Jejak kaki berlumpur yang basah terpatri jelas di karpet lorong. Jejak itu berhenti tepat di depan pintu unit 9B milik Rizky. Tidak ada jejak menuju lift. Tidak ada jejak keluar menuju tangga. Jejak itu hanya berakhir di depan pintunya, seolah sosok itu lenyap begitu saja setelah berdiri di sana.

Sore itu, Rizky bertanya pada seorang nenek yang sedang mengecek kotak surat di lobi. “Apa ada orang lain yang tinggal di lantai sembilan?”

Ekspresi nenek itu langsung menegang. “Kau di 9B?”

“Iya.”

“Segera pindah,” jawabnya datar.

“Kenapa?”

Nenek itu merendahkan suara, melirik ke arah tangga darurat dengan waspada. “Tiga orang sebelumnya lenyap dalam lima tahun terakhir.”

Rizky tertawa gugup. “Lenyap?”

“Barang-barang mereka masih di dalam. Tapi orangnya hilang. Tidak ada kabar, tidak ada alamat baru. Begitu saja.”

Malam itu, Rizky sengaja tidak tidur. Jam tepat menunjukkan pukul 02.14, ketukan itu kembali. Tiga ketukan lambat. Ia mendekati pintu dengan hati-hati.

“Siapa?” teriak Rizky.

Hening. Lalu suara yang sangat ia kenal menjawab, “Rizky?”

Darah Rizky membeku. Itu suara adiknya, Ratna. Tapi tidak mungkin. Ratna tinggal di kota yang jauh, ribuan kilometer dari sini.

“Ratna?” panggilnya naluriah.

“Aku butuh bantuan. Tolong buka pintunya.”

Rizky merasa ada yang janggal. Ratna tidak pernah terdengar selemah ini. Ia selalu penuh energi. “Kenapa kau di sini? Bukannya kau di kampung?”

“Kau tidak pernah membalas teleponku,” suara itu membalas pelan.

Rizky memeriksa ponselnya. Tidak ada panggilan masuk. “Kau baik-baik saja?”

“Aku takut,” bisik suara itu.

Rizky mengintip melalui lubang intip pintu. Lorong di luar kosong melompong. Tidak ada siapa-siapa. Namun, suara itu masih ada di sana, di balik kayu pintu. Tiba-tiba, suara gesekan kuku jari tangan yang pelan mulai merayap di permukaan pintu, seolah ada yang sedang menggaruk-garuk kayu dari luar.

“Buka pintunya, Rizky.”

Rizky melangkah mundur. Ia tidak membukanya.

Lalu, sebuah tawa pecah di luar sana. Bukan tawa manusia. Suara itu basah, pecah, dan berlapis-lapis, seperti banyak orang tertawa secara bersamaan. “BIARKAN KAMI MASUK.”

Lampu apartemen berkedip liar. Rizky terjatuh ke belakang saat pintu itu bergetar hebat. Gagang pintu berputar sendiri, rantai pengaman menegang seolah ada kekuatan raksasa yang mencoba mendobrak.

Pagi harinya, Rizky menemui Pak Kusno dengan amarah yang meledak. Pak Kusno tampak tenang, seolah sudah tahu apa yang terjadi.

“Kau mendengarnya?” tanya Pak Kusno.

“Apa sebenarnya yang terjadi di sini?”

“Tiga puluh tahun lalu, ada kebakaran besar. Lantai sembilan habis terbakar. Tangga darurat runtuh saat orang-orang mencoba lari.”

Rizky merasa jantungnya mencelos. “Lalu kenapa lantai sembilan masih ada? Kenapa masih disewakan?”

Pak Kusno memandang ke arah lift dengan tatapan kosong. “Lantainya tidak benar-benar ada, Rizky. Hanya bayang-bayang yang tertinggal.”

Rizky tidak menunggu lama. Ia segera mengemasi barang-barangnya. Saat ia membawa kotak-kotak barang ke lobi, Pak Kusno hanya mengangguk pelan. “Kau bertahan lebih lama dari yang lain.”

“Berapa orang yang sudah membuka pintu itu?” tanya Rizky.

Pak Kusno menunjuk lift dengan dagunya, suaranya sangat lirih. “Mereka tidak membukanya dari luar, Rizky. Mereka menjawab ketukan dari dalam.”

Rizky tidak menoleh lagi. Ia segera pindah ke apartemen kecil di seberang kota. Ia berusaha melupakan kejadian itu. Berminggu-minggu berlalu dengan tenang. Sampai suatu malam, tepat jam dua lebih empat belas menit.

Tiga ketukan lambat terdengar dari dalam lemari pakaiannya.

Bukan dari pintu depan.

Dari dalam lemari.

Lalu suara adiknya yang sangat ia kenal membisikkan sesuatu dengan lirih, “Kau pindah tanpa bilang padaku, Kak.”

Bagikan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Plus Exclusive Smilies 3.0 Kaskus-style Large Kaskus-style Small Standard Smilies
:welcome
:terimakasih
:tepuktangan
:tepar
:sudahkuduga
:siapgan
:semangat
:sale
:pertamax
:pencet
:paket
:nyantai
:nulisah
:monggo
:merdeka
:kangen
:jones
:insomnia
:hargapas
:goyang
:garudadidadaku
:gagalpaham
:gaasik
:dor
:cih
:ceyem
:butuhpacar
:bokek
:belumtidur
:batik
:banggapakebatik
:ayoindonesia
:ngamuk
:lemparbata
:keepposting
:hansip
:cendolgan
:bigkiss
:xmas
:wow
:wkwkwk
:wakaka
:ultahhore
:ultah
:travel
:toast
:telolet4
:telolet3
:telolet2
:telolet1
:takut
:sup:
:sup2
:sorry
:shakehand2
:selamat
:salamkenal
:salaman
:salahkamar
:request
:repost:
:repost2
:repost
:recsel
:rate5
:peluk
:omtelolet
:nyepi
:nosara
:nohope
:ngakak
:ngacir2
:ngacir
:najis
:motret
:mewek
:matabelo
:marigerak
:marah
:malu
:maafaganwati
:maafagan
:lehuga
:kts:
:kr
:kiss
:kimpoi
:ketupat
:kbgt:
:kacau:
:jrb:
:imlek2
:imlek
:ilovekaskus
:iloveindonesia
:hoax
:hn
:hammer
:hai
:games
:entahlah
:dp
:cystg
:cool
:coblos
:cipok
:cendolbig
:cendol
:cekpm
:cd:
:cd
:catchemall:
:bola
:bingung
:bigo:
:betty
:berduka
:bedug
:batabig
:babygirl
:babyboy1
:babyboy
:angpau
:angel
:2thumbup
:1thumbup
:malu2
:siul
:newyear
:alay
:hoax2
:hope
:hotrit
:lapar
:mahongintip
:mewek2
:nerd
:pertamax
:rate
:sungkem
:supermaho
:thanks2
:tkp
:Yb
:takuts
:sundulgans
:shutups
:reposts
:ngakaks
:najiss
:malus
:mads
:kisss
:ilovekaskuss
:iloveindonesias
:hammers
:cendols
:cendolb
:cekpms
:capedes
:bookmarks
:bingungs
:bettys
:berdukas
:berbusas
:batas
:bata
:armys
:addfriends
:)b
;)
:wowcantik
:tv
:thumbup
:thumbdown
:think:
:tai
:tabrakan:
:table:
:sun:
:siul
:shutup:
:shakehand
:rose:
:rolleyes
:ricebowl:
:rainbow:
:rain:
:present:
:Phone:
:Peace:
:Paws:
:p
:Onigiri
:o
:norose:
:nohope:
:ngacir:
:moon:
:metal
:medicine:
:matabelo:
:malu:
:mad
:linux2:
:linux1:
:kucing:
:kissmouth
:kissing:
:kimpoi:
:kagets:
:hi:
:heart:
:hammer:
:gila:
:genit
:fuck:
:fuck3:
:fuck2:
:frog:
:fm:
:flower:
:exclamati
:email
:eek
:doctor
:D
:cool:
:confused
:coffee:
:clock
:ck
:buldog
:breakheart
:bingung:
:bikini
:berbusa
:beer:
:baby:
:babi:
:army
:anjing:
:angel:
:amazed:
:afro:
:)
:(