Di tepian Sungai Cempaka, Andina membiarkan kuasnya menari di atas kertas sketsa. Siang itu, aroma tanah basah dan desah angin di antara pucuk-pucuk bambu membisikkan sesuatu yang halus, sesuatu yang tidak bisa diberi nama. Dia tidak tahu bahwa waktu sedang menyiapkan sebuah pertemuan yang tidak terduga.
“Sketsamu berhasil menangkap sunyi sungai ini dengan baik.”
Andina tersentak. Seorang pria berdiri di belakangnya. Matanya teduh, seolah menyimpan rahasia tentang senja. Namanya Adrian, seorang pengembara yang mencari rumah di antara huruf-huruf dalam buku catatannya.
Mereka duduk berdua. Percakapan mengalir tanpa hambatan, seperti air sungai yang tidak pernah kehabisan cerita. Hari-hari berikutnya menjadi saksi bagaimana dua jiwa saling mengikat, melintasi batas-batas kata dan warna. Ada tawa di bawah pohon beringin tua, ada tatapan bisu yang bicara lebih keras daripada seribu kalimat.
Suatu petang, saat langit berwarna jingga membakar ufuk, Adrian memegang jemari Andina.
“Duniaku terasa utuh saat kamu ada di sini,” suaranya parau, penuh harap. “Bersediakah kamu membagi sisa umurmu bersamaku? Menjadi teman perjalanan melewati apa pun yang tersisa di depan?”
Air mata Andina tumpah. Dia mendekap pria itu, merasakan detak jantung yang sama. “Aku tidak pernah merasakan hal seperti ini sebelumnya. Mari kita jalani, apa pun yang akan terjadi nanti.”
Namun, hidup adalah tarian yang tidak selalu seirama dengan keinginan manusia. Panggilan karya membawa Andina pergi ke Jakarta, menjauh dari pelukan sungai yang menenangkan itu. Jarak membentang luas, memisahkan raga, tapi tidak dengan doa-doa yang mereka kirimkan lewat angin malam.
Tahun-tahun bergulir. Andina menumpuk kanvas-kanvas di ibu kota, sementara Adrian terus merawat kata-kata di desa yang sama. Kerinduan mereka seperti sungai yang tidak pernah kering, meski harus mengalir di antara batu-batu keras.
Surat undangan pameran tunggal di balai seni desa itu tiba. Andina pulang. Ruangan pameran penuh sesak oleh orang-orang, tapi mata Andina hanya tertuju pada satu orang yang berdiri di sudut ruangan. Adrian. Tahun-tahun yang hilang itu seolah luruh saat mereka akhirnya bersentuhan.
“Aku tidak pernah membiarkan namamu pergi dari ingatanku,” bisik Adrian.
Andina menangkup wajah pria itu. Tangisnya jatuh tanpa suara. “Begitu juga aku. Kita dipertemukan oleh sesuatu yang tidak pernah bisa dijelaskan oleh logika.”
Di tengah pameran yang memajang hasil keringat Andina selama bertahun-tahun, cerita mereka menemukan titik pulang. Mereka berjalan keluar, menuju masa depan yang membentang luas, membiarkan takdir memimpin langkah kaki mereka kembali ke tempat semuanya bermula.