Inter Milan tidak berpindah tangan dalam semalam. Empat tahun prosesnya berjalan, pelan-pelan, seperti air yang meresap ke dasar rumah sebelum akhirnya fondasinya retak.
Mulanya, Tiongkok menarik diri dari investasi sepak bola luar negeri. Lalu pandemi datang, dan yang tadinya retak halus jadi celah yang menganga.
Suning, konglomerat yang memegang Inter, bukan satu-satunya yang terpukul. Krisis properti di Tiongkok, tekanan ekonomi domestik, upaya negara mengurangi utang korporasi, semua datang bersamaan, seperti hujan yang turun dari empat penjuru langit sekaligus. Perusahaan yang bertahun-tahun berekspansi dengan uang pinjaman, tiba-tiba kehilangan ruang gerak.
Bisnis ritel Suning sendiri sudah goyah, rugi sekitar 3,9 miliar yuan. Menyokong Inter jadi beban yang makin berat dipikul. Pemegang saham tak lagi sanggup menyuntikkan modal segar. Klub itu harus mencari jalan lain.
Mei 2021, jalan itu datang dari Oaktree, perusahaan investasi yang memang mengkhususkan diri pada aset-aset bermasalah. Pinjaman 275 juta euro, bunga 12 persen per tahun, jatuh tempo tiga tahun. Bukan Inter yang meminjam langsung, melainkan Grand Tower S.à r.l., perusahaan induk di Luksemburg, kendaraan kepemilikan Suning atas klub itu.
Struktur ini penting untuk dipahami. Utang itu tidak tercatat langsung di neraca Inter. Sebagai jaminan, Suning menyerahkan saham di perusahaan induk itu, bukan pemain, bukan pendapatan matchday, bukan aset klub lainnya. Kalau pinjaman tak terbayar, Oaktree otomatis jadi pemilik perusahaan induk, dan otomatis pula menguasai Inter.
Dua hal yang mencolok dari kesepakatan ini.
Bunga dua belas persen jauh lebih tinggi dari obligasi-obligasi Inter sebelumnya, mencerminkan besarnya risiko yang ditanggung Oaktree. Pembayarannya tak bergantung pada performa klub di lapangan, tapi pada apakah Suning bisa merefinansi utang itu, menjual klub, atau mencari modal baru.
Jangka waktu tiga tahun juga pendek, nyaris tak menyisakan ruang untuk kesalahan. Tanpa rencana refinansi yang jelas, cuma ada dua kemungkinan realistis. Suning menjual Inter, memakai hasilnya untuk melunasi utang. Atau Oaktree mengambil alih kendali klub. Tidak ada jalan tengah.
Tekanan makin berat tahun 2022. Inter Media & Communication merefinansi obligasi lamanya dengan obligasi baru senilai 415 juta euro, bunga 6,75 persen, sementara posisi keuangan Suning di Tiongkok terus memburuk. Menjual Inter mulai terlihat sebagai satu-satunya jalan keluar yang realistis.
September 2022, kabar beredar, keluarga Zhang menunjuk Goldman Sachs mencari pembeli. Harga yang diminta sekitar 1,2 miliar euro, kira-kira setara dengan yang dibayar RedBird untuk AC Milan. Raine Group disebut-sebut ikut membantu proses penjualan.
Tujuannya sederhana. Jual Inter, cukup untuk melunasi utang Oaktree, Suning bisa menutup sebagian besar investasinya, syukur-syukur masih ada untung.
Di atas kertas, Inter tetap aset yang menarik. Salah satu merek sepak bola terbesar Italia, basis penggemar global, pendapatan terus tumbuh, dua gelar Serie A dalam empat musim, final Liga Champions 2023.
Tapi dari sisi keuangan, gambarannya jauh dari menarik. Program obligasi klub menekan arus kas masa depan. Utang ke Oaktree terus membengkak, bunga tinggi digabung struktur payment-in-kind, di mana bunga yang belum terbayar ditambahkan ke pokok pinjaman.
Ada juga persoalan struktural di luar klub itu sendiri. Pendapatan siaran domestik Italia nyaris tak tumbuh. Inter tak punya stadion sendiri, berbagi San Siro dengan AC Milan, sementara stadion itu sendiri milik Kota Milan. Bagi calon investor, ini berarti lebih sedikit peluang menciptakan nilai tambah lewat kepemilikan stadion atau pengembangan properti.
Yang dilihat calon pembeli bukan klub elite yang sehat secara finansial, melainkan organisasi dengan utang besar, peluang tumbuh yang terbatas, tanpa kendali atas stadionnya sendiri, dan struktur biaya yang masih menanggung beban bertahun-tahun pengeluaran besar demi prestasi olahraga. Minat ada. Pembeli, tak kunjung datang.
Kreditor pun mengambil alih.
Sesudah proses penjualan gagal, Suning mencoba sekali lagi merefinansi utang Oaktree. Beberapa laporan menyebut pembicaraan dengan PIMCO, manajer investasi asal Amerika. Tapi refinansi yang ditawarkan konon juga membawa bunga yang sangat tinggi. Bahkan jika kesepakatan itu terjadi, kemungkinan besar hanya menunda yang tak terelakkan. Penjualan klub, atau peralihan kepemilikan paksa, tetap jadi hasil yang paling mungkin.
Pinjaman Oaktree juga menunjukkan betapa cepat utang mahal bisa membengkak. Ketika jatuh tempo Mei 2024, 275 juta euro awal itu sudah menjadi sekitar 395 juta euro, karena struktur PIK tadi. Suning tak sanggup melunasinya.
Penurunan nilai saham Suning juga menunjukkan betapa lemahnya posisi mereka. Perusahaan itu memangkas nilai kepemilikan 68,55 persen sahamnya di Inter, dari 586 juta euro menjadi hanya 148 juta euro, susut sekitar 75 persen. Suning, dengan cara itu, sesungguhnya sudah mengakui, sebagian besar nilai bagi pemegang saham sudah hilang. Inter masih punya merek global yang kuat, prestise olahraga, daya tarik yang luas, tapi beban utang yang berat sudah nyaris menghabiskan nilai ekuitasnya.
22 Mei 2024, Suning gagal bayar. Oaktree menjalankan haknya berdasarkan perjanjian jaminan, mengambil alih Inter. Ini bukan akuisisi biasa, bukan pembeli yang membeli klub di pasar terbuka. Kepemilikan berpindah tangan karena kreditor mengeksekusi jaminannya.
Barangkali itulah pelajaran paling jelas dari era Suning di Inter. Utang tidak cuma membiayai ambisi olahraga sebuah klub. Pada akhirnya, utang juga yang menentukan siapa pemiliknya.
Suning tidak kehilangan Inter dalam semalam. Kendali berpindah pelan-pelan, lewat struktur keuangan klub itu sendiri, mula-mula ke pemegang obligasi, akhirnya ke Oaktree. Ketika Oaktree mengeksekusi jaminannya, Mei 2024, hasil akhirnya sudah nyaris tak terelakkan sejak lama.