Sore itu ia datang tanpa mengetuk, langsung duduk di kursi dapur yang sama, kursi yang dulu jadi tempatnya menangis waktu masih memakai seragam putih biru.
Ibunya sedang mengiris bawang. Tidak berhenti, tidak menoleh, hanya mendengarkan.
Kata-kata itu keluar begitu saja, tumpah tanpa urutan. Pekerjaan yang menumpuk sampai lupa makan siang. Suami yang pulang larut, lalu diam saja di depan televisi. Malam-malam yang dilewati dengan mata terbuka, menghitung retak di langit-langit kamar.
“Aku capek, Bu,” katanya, di ujung semua cerita itu. “Capek berjuang terus.”
Bawang yang sudah selesai diiris, masuk ke wajan. Suaranya mendesis pelan. Ibunya mengelap tangan ke celemek, lalu mengambil tiga panci dari rak bawah, satu per satu, gerakannya tak tergesa seperti sedang menyiapkan sesuatu yang sudah dipikirkan sejak lama.
Air dituang. Kompor dinyalakan, tiga-tiganya sekaligus.
Ke panci pertama, ia masukkan beberapa wortel, masih bertanah di kulitnya. Ke panci kedua, tiga butir telur. Ke panci ketiga, bubuk kopi, aromanya langsung naik begitu kena panas.
Anaknya menunggu penjelasan. Tidak ada. Ibunya berdiri membelakanginya, mengaduk isi wajan sesekali, membiarkan tiga panci itu mendidih sendiri-sendiri.
Uap mengembun di jendela dapur. Di luar, sore mulai turun, warnanya jingga pudar menembus kaca yang berkabut.
Lima belas menit. Ibunya mematikan kompor satu per satu. Wortel diangkat dengan saringan, diletakkan di mangkuk kaca. Telur menyusul, ke mangkuk lain. Kopi dituang ke cangkir putih yang sudah agak retak di pegangannya.
Ketiganya diletakkan berjajar di meja, di depan anaknya.
“Lihat,” kata ibunya, hanya itu.
Anaknya menyentuh wortel dulu. Lunak. Terlalu lunak, sampai jarinya nyaris menembus begitu ditekan sedikit saja.
Berikutnya telur. Cangkangnya ia ketuk ke pinggir mangkuk, mengupasnya. Putih telurnya kenyal, kuningnya padat, jauh dari cair yang dulu ada di dalam cangkang mentah.
Ibunya mendorong cangkir kopi mendekat.
Ia menyesapnya. Pahit, tapi ada sesuatu di baliknya, hangat yang turun pelan ke kerongkongan, aroma yang tinggal lama di langit-langit mulut.
Ibunya duduk, akhirnya, di kursi seberang.
“Tiga-tiganya masuk air yang sama panasnya,” katanya. “Wortel keras waktu mentah. Begitu kena panas, ia lumer, kehilangan bentuknya sendiri. Telur sebaliknya. Cair di dalam waktu mentah, tapi air panas justru mengeraskannya, sampai ke inti.”
Ia berhenti sebentar, menatap cangkir kopi di tangan anaknya.
“Kopi beda sendiri. Air panas tidak mengubah dia. Dia yang mengubah air. Sampai jadi begini, wangi, punya rasa.”
Tidak ada pertanyaan yang menyusul. Anaknya menunduk, menatap ampas kopi yang mengendap di dasar cangkir, gelap dan sudah tak berbentuk lagi seperti bubuk semula.
Di luar, magrib mulai turun. Suara azan dari masjid ujung gang masuk pelan-pelan lewat jendela yang masih berembun.
Ibunya tidak bertanya lagi kamu yang mana. Ia berdiri, kembali ke wajannya yang masih menyala, membiarkan pertanyaan itu duduk sendiri di meja, di antara mangkuk wortel yang lembek dan cangkang telur yang sudah kosong.