Peti di Bawah Akar Beringin

Begini ceritanya. Di kampung-kampung dekat kebun teh Puncak, ada sebuah keluarga besar bernama Adikoesoemo, yang namanya sendiri sudah cukup untuk membuat orang tua-tua di sana menunduk hormat sambil berbisik-bisik, seolah ada sesuatu yang tidak pernah selesai dijelaskan dari generasi ke generasi.

Wening adalah cucu dari keluarga itu. Malam itu, bersama tiga sahabatnya, Bagas, Sari, dan Dimas, ia mendaki jalan setapak yang sudah mereka kenal sejak kecil, jalan yang biasanya hanya mengantarkan pada kebun teh yang membentang seperti karpet hijau raksasa, tak pernah pada apa pun yang istimewa. Sampai malam itu.

Bagas yang pertama melihatnya, tersangkut di bawah akar beringin tua yang gemuk dan berkerut.

“Ini apa,” katanya, bukan bertanya, lebih seperti orang bicara pada diri sendiri.

Sebuah peti kayu jati, lapuk, ukirannya buram dimakan waktu, seperti tulisan di batu nisan yang tak lagi bisa dibaca kecuali oleh hujan dan angin yang setia menungguinya bertahun-tahun.

Mereka mengeluarkannya dari tanah dengan susah payah. Begitu terangkat, peti itu ternyata ringan, jauh lebih ringan dari yang dikira.

Gembok karatan patah dengan sekali congkel, seolah sudah menunggu untuk dibuka sejak dulu, hanya belum ada yang cukup berani melakukannya. Di dalamnya, kertas-kertas menguning seperti daun gugur seratus tahun lalu yang menolak membusuk, uang logam berkarat, sebuah buku catatan kecil, dan sepucuk surat, disegel lak merah yang rapuh.

Wening membukanya perlahan.

“Kepada siapa pun yang menemukan peti ini,” bacanya, suaranya bergetar, “berhati-hatilah dengan aib yang telah mencoreng nama keluarga kami. Ini penyesalan saya yang terbesar, dan saya percaya ini akan tetap terkubur selamanya.”

Hening. Hanya jangkrik yang berbunyi, riuh sendiri di kegelapan kebun teh.

“Siapa yang menulis ini,” kata Sari, mata masih di kertas.

“Soerjo Adikoesoemo.” Nama itu keluar dari mulut Wening seperti sesuatu yang sudah lama disimpan, menunggu kesempatan diucapkan.

Bagas terdiam sejenak.

“Itu yang skandal perkebunan zaman Belanda, kan?”

Sari mengangguk.

“Aku pernah baca. Katanya dia menggelapkan dana yayasan yatim piatu. Tak pernah terbukti sampai sekarang. Ada yang bilang dia kabur membawa uangnya. Ada yang bilang itu fitnah orang-orang yang iri kedudukannya. Sesudah itu dia hilang begitu saja.”

Dimas, yang biasanya diam dan cuma bicara kalau sudah yakin benar, akhirnya buka suara.

“Kalau bersalah, untuk apa menyimpan surat serapi ini.”

Tak ada yang menjawab. Pertanyaan itu menggantung di kebun teh, di antara bunyi jangkrik yang tak juga reda.

“Barangkali dia ingin mengaku,” kata Sari, jauh kemudian. “Cuma tak sanggup bilang langsung. Jadi ditulisnya saja.”

Wening melipat surat itu, memasukkannya kembali ke amplop.

“Aku mau tahu lebih jauh,” katanya. Entah kepada siapa. Mungkin kepada kakek buyutnya yang sudah seratus tahun tak berwajah dalam ingatan siapa pun.

Mereka turun gunung, peti tersembunyi dalam ransel Wening. Sampai di rumah joglo, meja makan penuh kertas tua. Terselip di antaranya sebuah foto sepia yang buram, sepasang orang berdiri di depan rumah berpilar. Perempuan berkebaya, rambut disanggul rapi. Lelaki berblangkon, mata menatap lurus ke lensa.

Wening menatap wajah perempuan itu cukup lama.

“Eyang Putri.”

Sari menatap foto itu, lalu menghela napas kecil.

“Jadi mereka berdua.”

Tak ada yang bicara lagi. Hanya kertas dipilah satu per satu, malam yang berjalan tanpa terburu, dan jangkrik di luar jendela yang tak peduli rahasia apa yang sedang dibongkar di dalam rumah.

Wening menatap surat itu untuk terakhir kali malam itu.

“Ini bukan cuma soal dia,” katanya, hampir tak terdengar.

Sari mengangkat bahu, tanpa menoleh dari kertas di tangannya.

“Terserah kita. Mau disimpan lagi, atau tidak.”

Angin bergerak di antara pohon-pohon teh, dingin Puncak turun makin dalam. Seratus tahun yang lalu tetap seratus tahun yang lalu. Malam itu, tak satu pun dari mereka berusaha memastikannya.

Bagikan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Plus Exclusive Smilies 3.0 Kaskus-style Large Kaskus-style Small Standard Smilies
:welcome
:terimakasih
:tepuktangan
:tepar
:sudahkuduga
:siapgan
:semangat
:sale
:pertamax
:pencet
:paket
:nyantai
:nulisah
:monggo
:merdeka
:kangen
:jones
:insomnia
:hargapas
:goyang
:garudadidadaku
:gagalpaham
:gaasik
:dor
:cih
:ceyem
:butuhpacar
:bokek
:belumtidur
:batik
:banggapakebatik
:ayoindonesia
:ngamuk
:lemparbata
:keepposting
:hansip
:cendolgan
:bigkiss
:xmas
:wow
:wkwkwk
:wakaka
:ultahhore
:ultah
:travel
:toast
:telolet4
:telolet3
:telolet2
:telolet1
:takut
:sup:
:sup2
:sorry
:shakehand2
:selamat
:salamkenal
:salaman
:salahkamar
:request
:repost:
:repost2
:repost
:recsel
:rate5
:peluk
:omtelolet
:nyepi
:nosara
:nohope
:ngakak
:ngacir2
:ngacir
:najis
:motret
:mewek
:matabelo
:marigerak
:marah
:malu
:maafaganwati
:maafagan
:lehuga
:kts:
:kr
:kiss
:kimpoi
:ketupat
:kbgt:
:kacau:
:jrb:
:imlek2
:imlek
:ilovekaskus
:iloveindonesia
:hoax
:hn
:hammer
:hai
:games
:entahlah
:dp
:cystg
:cool
:coblos
:cipok
:cendolbig
:cendol
:cekpm
:cd:
:cd
:catchemall:
:bola
:bingung
:bigo:
:betty
:berduka
:bedug
:batabig
:babygirl
:babyboy1
:babyboy
:angpau
:angel
:2thumbup
:1thumbup
:malu2
:siul
:newyear
:alay
:hoax2
:hope
:hotrit
:lapar
:mahongintip
:mewek2
:nerd
:pertamax
:rate
:sungkem
:supermaho
:thanks2
:tkp
:Yb
:takuts
:sundulgans
:shutups
:reposts
:ngakaks
:najiss
:malus
:mads
:kisss
:ilovekaskuss
:iloveindonesias
:hammers
:cendols
:cendolb
:cekpms
:capedes
:bookmarks
:bingungs
:bettys
:berdukas
:berbusas
:batas
:bata
:armys
:addfriends
:)b
;)
:wowcantik
:tv
:thumbup
:thumbdown
:think:
:tai
:tabrakan:
:table:
:sun:
:siul
:shutup:
:shakehand
:rose:
:rolleyes
:ricebowl:
:rainbow:
:rain:
:present:
:Phone:
:Peace:
:Paws:
:p
:Onigiri
:o
:norose:
:nohope:
:ngacir:
:moon:
:metal
:medicine:
:matabelo:
:malu:
:mad
:linux2:
:linux1:
:kucing:
:kissmouth
:kissing:
:kimpoi:
:kagets:
:hi:
:heart:
:hammer:
:gila:
:genit
:fuck:
:fuck3:
:fuck2:
:frog:
:fm:
:flower:
:exclamati
:email
:eek
:doctor
:D
:cool:
:confused
:coffee:
:clock
:ck
:buldog
:breakheart
:bingung:
:bikini
:berbusa
:beer:
:baby:
:babi:
:army
:anjing:
:angel:
:amazed:
:afro:
:)
:(